Pelarangan Pendapat dan Krisis Pikiran-Kritis

Ditulis oleh: Rizki Alfi Syahril

Pelarangan Pendapat

Keriuhan tentang sosok Irshad Manji—penulis buku dan feminis dari Kanada belum berakhir. Setelah rangkaian promosi dan diskusi penerbitan bukunya dalam seri bahasa Indonesia yang bertajuk Allah, Liberty, and Love mengalami pelarangan di beberapa tempat dan universitas serta (bahkan) pembubaran paksa disertai kekerasan oleh beberapa ormas yang berperan sebagai penegak moral masyarakat di Lembaga Kajian dan Ilmu Sosial (LKiS) Yogyakarta, kini beberapa permasalahan masih tersisa.

Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Rizki Alfi Syahril

Tidak Menjadi Indonesia

Ditulis oleh: Raisa Kamila

Setiap kali menjelang 17 Agustus, saya mendapati iklan peringatan kemerdekaan yang selalu sama. Anak-anak bermain layang-layang di pematang sawah, gadis-gadis dengan kemben dan sarung mencuci pakaian di sungai, serta petani dan nelayan dengan senyum semringah bekerja secara ikhlas. Lalu semuanya ditutup dengan kalimat mengenai semangat nasionalisme pada hari kemerdekaan. Saya tidak percaya semua anak di Indonesia riang gembira seperti yang saya lihat pada iklan itu. Ada banyak anak yang tidak bisa sekolah, terpaksa bekerja, menjadi korban pelecehan seksual, dan ada yang menjadi korban perdagangan anak. Kalau saja saya boleh memilih, barangkali saya akan menolak dilahirkan dan menjadi warga negara Indonesia. Tapi memang saya tidak bisa memilih untuk bisa dilahirkan di mana dan oleh siapa. Saya lahir dan besar di Banda Aceh. Saya cukup beruntung tinggal di ibu kota provinsi, yang pada masa konflik “hanya” mendengar suara ledakan bom dan kontak senjata dari belakang jendela kamar. Pada masa itu, di beberapa daerah banyak anak yang mengalami nasib lebih buruk daripada sekadar mendengar suara ledakan atau senapan. Baca lebih lanjut

3 Komentar

Filed under Raisa Kamila

Pulang

Ditulis oleh: Edi Miswar Mustafa

Aku bersegera pulang ke tanah kelahiranku. Pembantuku urusan kampung halaman mengabari semalam, ”Bang, suaminya meninggal.” Ringkas ia melaporkan. Kutanyakan pada pembantu urusan pribadiku, ”Jam berapa sekarang Indonesia bagian barat?” Baca lebih lanjut

2 Komentar

Filed under Edi Miswar Mustafa

Saya (bukan) Penulis!

Ditulis oleh: Akmal Mohd. Roem

[Sebuah catatan untuk tulisan Alimuddin yang dimuat di Harian Aceh Edisi Minggu.]

Menulis di koran itu termasuk salah satu dari cita-cita saya juga. Tapi tidak untuk seorang yang mau dianggap sebagai seorang penulis karena tulisannya pernah dimuat di koran lokal ataupun nasional. Sangat tidak bersahabat sekali bila pada artikel yang Alimuddin tulis minggu lalu, Ali menyebutkan bahwa untuk diakui sebagai seorang penulis, seseorang itu harus terlebih menulis di media yang dibaca khalayak. Itu tidak benar, Ali. Sangat tidak menyenangkan bila Ali mengatakan demikian.

Saya membaca buku yang dikarang Natalie Goldberg, di sana ia mengisahkan betapa gilanya ia mencoba untuk terus menulis hingga ia menghasilkan naskah yang begitu banyak. Apa alasannya sehingga ia menulis sedemikian banyak? Di bagian terakhir buku itu, dia menjelaskan bahwa pekerjaan menulis itu adalah hal yang luar biasa, untuk menulis yang baik dan bagus itu kita perlu melatih dan terus menulis agar terbiasa. Tak ada yang pernah selesai dalam suatu tulisan. Itu pesan yang saya dapatkan setelah membaca bab yang Ali kemukakan minggu lalu di media ini. Baca lebih lanjut

11 Komentar

Filed under Akmal Mohd. Roem

Tuhan Tidak Tidur; sebuah surat cinta untuk Wakil Rakyat.

Kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh yang terhormat. Perkenalkan nama saya Muhadzdzier M. Salda, Murid Sekolah Menulis Do Karim Banda Aceh dan rakyat jelata yang bermukim di kampung Aceh. Mari, sekali ini aku ingin menulis surat untukmu Tuan dan Puan para wakil rakyat yang terhormat. Hanya untukmu. Surat cinta, Tuan! Mungkin ini suratku sekali dalam seumur hidup. Seperti aku menulis surat kepada seorang kekasih pujaan hati belahan jiwa. Maka seperti itulah kecintaanku kepada Tuan-Puan Wakil Rakyat yang terhormat. Ah, kata-kata yang terakhir itu sepertinya tidak seharusnya kusebutkan lagi. Benarkah engkau masih terhormat? Mengingat bulan depan engkau akan melakukan kunjungan kerja ke Luar Negeri. Begitulah kira – kira kabar berita yang ku baca di koran harian. Tak pantas sepertinya menyebut kunjungan kerja, lebih baik kusebut saja jalan-jalan menghabiskan anggaran yang notabenenya berasal dari uang rakyat.
Para wakil rakyat yang terhormat, sebelum lebih jauh sungguh kutulis surat untukmu dengan harap-cemas. Mengingat karena aku sebagai mahasiswa yang tak tau diuntung akan kau sebut nantinya. Bersebab beberapa bulan dan tahun yang telah berlalu engkau telah menjebloskan proposal-proposal kegiatan kemahasiswaan kami melalui anggaran yang engkau sahkan demi terlaksananya kegiatan. Waktu itu aku tidak pernah berpikir engkau akan membungkam mulut kami dengan bantuan uang supaya tidak bersuara suatu saat kelak jika engkau menghabiskan uang rakyat untuk jalan-jalan keluar negeri. Oh iya, alasan kalian memang bukan untuk jalan-jalan kan? Alasan yang kalian sebut dengan kunjungan kerja dan studi banding –istilahnya-, untuk memajukan tanah endatu kita, Aceh!
Dari tajuk suratku di atas, Tuan-Puan sudah tau tentunya maksud kutulis surat cinta ini. Bahwa ditengah kehidupan rakyat kita yang masih repot mencari sebambu beras sehari untuk keluarganya, ada banyak rakyat kita yang masih berkudis berkurap, ada banyak rakyat kita yang masih tidur di bawah atap rumah pelepah rumbia yang bocor, ada banyak sekali rakyat kita yang mengerang menahan sakit kanker, tumor, anak-anak yang menderita gizi buruk dan sebagainya yang tak bisa berobat kerumah sakit karena persoalan klasik (kemiskinan), ada banyak rakyat kita yang anak-anaknya tidak bersekolah karena harus membantu mengantarkan orang tua mereka untuk mengemis door to door ke seluruh penjuru kampung.
Belum habis dengan itu, ditengah kondisi kampung kita yang baru saja usai dari perang dan amuk air laut. Tetapi engkau masih saja ngotot untuk keluar negeri mengakhiri masa tugas di penghujung akhir September nantinya. Mengingat ada banyak dari Tuan yang tak lagi bisa duduk di kursi empuk itu.
Memang seperti yang telah di bicarakan oleh Ketua DPRA Bapak Sayed Fuad Zakaria, bahwa wacana kunjungan ke luar negeri sudah jauh-jauh hari diagendakan. Bahkan pada masa awal engkau menjadi wakil rakyat tahun 2004 lalu. Tapi mengapa baru sekarang diumumkan kepada publik setelah selesai pemilu legislatif kemarin? Aku yakin sekali, jika saja wacana ini diberitakan sebelum pemilu legislatif, tentu akan sangat berpengaruh bagi perolehan suara kalian yang maju lagi menjadi caleg. Pintar-pintar sekali memang kalian ini membohongi rakyat. Untung saja beberapa diantara kalian tidak lagi dipilih pada pemilu kemarin.
Untukmu yang duduk sambil diskusi dengan baju safari, Tuan dan Puan wakil rakyat. Aku tentu sangat kecewa sekali dengan sikap kalian ini. Maunya mementingkan kepentingan pribadi semata. Berlebih lagi kekecewaanku ini pada seorang Khairul Amal yang berasal dari Partai Keadilan Sejahtera, yang sejatinya sebagai sebuah partai yang selama ini getol menolak kegiatan-kegiatan menghamburkan uang rakyat justru ikut mendukung kunjungan ke Luar Negeri. Ah, menyesal benar aku memilih engkau lima tahun yang lalu ketika saat itu aku masih di kampung Bireuen. Benar saja bahwa tidak ada lagi Wakil Rakyat yang bisa kami percaya. Kalian semua egois. Mentang-mentang rakyat tidak lagi memilih kalian pada pemilu bulan lalu, seenaknya saja kalian menghabiskan uang rakyat yang sejatinya bisa di gunakan untuk membantu membuat rumah, biaya kesehatan untuk kehidupan sebagai rakyat di Nanggroe yang anggarannya meulimpah ruah.
Uang sebanyak Rp. 3,4 Miliar yang di anggarkan untuk kunjungan keluar negeri tentu saja bukan sebuah angka nominal yang sedikit bagi kalian yang pernah atau tidak melihat uang. Jika saja uang itu digunakan untuk membangun rumah kaum dhuafa dengan taksiran harga per rumah sebesar 40 juta, katakanlah, maka jumlah rumah yang bisa di bangun mencapai 85 buah rumah type 36. Sebuah hal yang sangat positif bukan? Berapa banyak rakyat yang akan terbantu dengan alokasi uang itu. Atau seandainya saja uang 3,4 miliar itu kita belikan kopi, maka seluruh rakyat Aceh bisa ikut minum tentunya. Seperti tingkah dosenku di kampus yang mampu mengolah setumpuk taik kerbau menjadi setangkai bunga mawar yang indah dan harum. Kenapa pula ini tidak bisa kalian lakukan?
Para anggota dewan perwakilan rakyat Aceh yang terhormat. Jika saja kalian menggunakan hati nurani dan perasaan. Berapa banyak rakyat Aceh akan mencerca sikap Pak dewan jika saja Mendagri mengizinkan untuk kalian melancong keluar negeri. Hanya saja cercaan rakyat memang tidak semuanya pernah terekspos ke media. Tapi percayalah, disetiap sudut jambo jaga sudah begitu banyak cemoohan yang aku dengar dari mulut mereka di kampung-kampung terhadap sikap para Tuan-Puan yang menghabiskan uang dari Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA).
Ketika masa kerja tuan-tuan akan berakhir pada September 2009. Apa yang bisa kalian lakukan ketika pulang dari luar negeri. Pulang dari luar negeri saja masa kerja akan berakhir, tak ada lagi yang bisa Tuan lakukan. Jadi kunjungan kerja ke luar negeri hanyalah pelesiran untuk menghambur-hamburkan uang rakyat sebelum masa kerja berakhir. Mengingat cukup banyak diantara bapak-bapak wakil rakyat yang terhormat tidak lagi terpilih menduduki jabatan wakil rakyat pada masa periode 2009-2014.
Untukmu yang biasa bersafari disana, di gedung DPRA. Para wakil rakyat yang kucintai. Terakhir kali sebagai rakyat jelata, aku tentu begitu berharap, sudah sepantasnya rencana kunjungan ke luar negeri dibatalkan saja. Ini sikap perangai yang sangat buruk sekali. Buatlah kegiatan di akhir masa jabatan yang happy ending. Mirip seperti orang (maaf) bersenggama. Sama-sama enak. Yang suatu saat kelak nantinya akan di kenang oleh rakyat sebagai sebuah kenangan yang enak dan menyenangkan.
Jika kita mengkaji dari selama ini yang mereka peroleh sebagai wakil rakyat sudah lebih dari cukup. Apa yang kurang seperti yang selama ini mereka dapatkan. Mulai dari gaji, tunjangan, mobil dinas, uang sewa rumah, uang kopi, uang  terima kasih dan uang tetek bengek lainnya. Mereka yang mengaku para wakil rakyat, sudah sepantasnya merasakan apa yang selama ini kerap dirasakan oleh rakyat. Biar bisa di sebut, wakil rakyat seharusnya merakyat seperti kata Iwan Fals.
Kepada bapak Mendagri Mardiyanto, aku mendesak untuk tidak memberikan izin kepada Anggota DPRA melakukan  studi banding atau jalan-jalan ke luar negeri. Sungguh dari pengamatan saya, itu tidak bermanfaat sama sekali Pak! Tetapi akan sangat berguna dana 3,4 Miliar itu di pergunakan untuk kepentingan publik semisal melanjutkan pembangunan rumah korban konflik, korban tsunami, serta kaum dhuafa di Aceh atau sebaiknya dana itu di alokasikan saja untuk tujuan yang langsung menyentuh kepada kepentingan rakyat banyak. Atau begini saja, kita gunakan saja uang itu untuk ngopi bareng di Ulee Kareng, kita undang seluruh rakyat Aceh kesana. Ngopi bareng bersama anggota DPRA. Oya, jika kalian tidak setuju ya sudah. Kalian boleh pergi saja ke luar negeri, tapi dengan syarat, pulang dari sana kalian bawa pulang si jago Jose Mourinho pelatih Inter Milan, sebuah klub sepak bola di Italia,  untuk menangani Persiraja Banda Aceh. Bagaimana, Tuan?
Tuan dan Puan para wakil rakyat yang berbahagia, akhirnya ingin aku sampaikan pada kalian semua permintaan maafku jika telah lancang menulis surat ini. Tidak ada maksud mencaci atawa maki. Percayalah bahwa Tuhan Tidak Tidur. Akan di catat oleh Malaikat semua perbuatan baik dan buruk kita di dunia ini. Dan suatu masa nantinya aku dan engkau para wakil rakyat akan bisa juga ke luar negeri yang sebenar-benarnya. Negeri akhirat maksudku. Kalau itu sungguh, tidak ada yang bisa melarang kalian kesana. Permohonan maafku, Muhadzdzier M. Salda, rakyat jelata di Nanggroe Aneh Darussalam. Eh, Nanggroe Aceh Darussalam.
Akhir kata, wassalam!

Ditulis oleh: Muhadzdzier M. Salda

Kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh yang terhormat. Perkenalkan nama saya Muhadzdzier M. Salda, Murid Sekolah Menulis Do Karim Banda Aceh dan rakyat jelata yang bermukim di kampung Aceh. Mari, sekali ini aku ingin menulis surat untukmu Tuan dan Puan para wakil rakyat yang terhormat. Hanya untukmu. Surat cinta, Tuan! Mungkin ini suratku sekali dalam seumur hidup. Seperti aku menulis surat kepada seorang kekasih pujaan hati belahan jiwa. Maka seperti itulah kecintaanku kepada Tuan-Puan Wakil Rakyat yang terhormat. Ah, kata-kata yang terakhir itu sepertinya tidak seharusnya kusebutkan lagi. Benarkah engkau masih terhormat? Mengingat bulan depan engkau akan melakukan kunjungan kerja ke Luar Negeri. Begitulah kira – kira kabar berita yang ku baca di koran harian. Tak pantas sepertinya menyebut kunjungan kerja, lebih baik kusebut saja jalan-jalan menghabiskan anggaran yang notabenenya berasal dari uang rakyat. Baca lebih lanjut

9 Komentar

Filed under Muhadzdzier M. Salda, Sindikasi

Tidur Panjang Sosialisme

Francis Fukuyama rasa-rasanya telah gagal meramalkan nasib pertarungan ideologi dunia. Berawal dari runtuhnya Uni Soviet, Francis dalam The End Of Historynya meramalkan bahwa setelah dekade tersebut (keruntuhan Uni Soviet), tak akan ada lagi perdebatan-perdebatan sengit yang akan terjadi terkait kemapanan suatu ideologi. Centuries of boredom atau zaman kejemuan, begitulah sang moderat ini memprediksi dunia pasca Sosialis-komunis. Namun pendapat itu terbantahkan setelah krisis global yang harus dihadapi Amerika Serikat terkait kredit macet di negaranya, mulai saat itu bermunculan tanda tanya besar terkait eksistensi ideologi yang diidentikkan dengan kaum borjuis tersebut.
Sedianya ideologi yang mumpuni haruslah kokoh. Bukan ideologi “gamang” serta mudah goyang kala berhadapan dengan berbagai hambatan dalam konteks kekinian. Tapi apa mau dikata, ideologi hanyalah suatu konsep bikinan manusia yang tentu kerap mengandung ralat. Bahkan masyarakat dunia pun harus menelan pil pahit bahwa ideologi kokoh macam Kapitalisme kini “demam panggung” tak lain karena dirasa gagal menyelesaikan masalahnya sendiri. Dus harus berhadapan dengan realita yang sama sekali jauh dari prediksi para penganutnya.
Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Kapitalisme akhirnya harus mengakui kebocoran konsepnya. Tak ayal ideologi sosialis ala Marx menjadi hangat lagi untuk diperbincangkan. Ia muncul lagi ke permukaan. Kali ini bukan lagi dalam rupa ortodoks, namun sudah dipoles sana-sini oleh para pembaharunya. Sebenarnya sejauh mana relevansi pemikiran Marx terhadap ranah perpolitikan dalam konteks kekinian? Apa kekurangan yang membuat ideologi sosialis Marx terus-menerus menuai kritik?
Kontroversi memang selalu menyertai pembahasan tentang figur yang satu ini. Ada yang menganggap pikiran-pikirannya aneh, irasional bahkan utopis. Namun ada yang begitu mendewakannya. Terutama kaum buruh yang menganggap gagasan-gagasan Marx sangat pro terhadap mereka. Terlepas dari kontroversi tersebut, mengutip perkataan Franz Magnis Suseno “sejarah akan berbeda tanpa kehadiran sosok Karl Marx”.
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, sebuah ideologi, sebanyak apapun pengikutnya tentu hanyalah kreasi manusia yang pada hakikatnya bersifat amat terbatas. Ideologi dengan segala konsep yang menyertainya akan terus berkembang baik ke arah positif maupun negatif. Tergantung oleh siapa dan dengan tujuan apa ideologi tersebut diemban. Dan sang creator dari ideologi itu sendiri hanya bisa berharap semoga ideologi tersebut berjalan sesuai alur yang dicita-citakan. Pencetus ideologi tentu tak mempunyai hak untuk mengarahkan alur berfikir manusia mengingat ideologi itu sendiri bukanlah undang-undang yang memiliki poin-poin acuan yang jelas dan baku. Toh ideologi bukan pula rumus-rumus eksakta yang jelas kentara kekeliruannya bila dibolak-balikkan.
Kita dapat melihat asumsi ini pada fakta-fakta sejarah yang telah terjadi. Ideologi Marx yang hakikatnya berawal dari kegelisahan kesenjangan kelas di Eropa malah cenderung diimplementasikan. Sangat beragam pola yang dibentuk dengan sedemikian rupa mengatasnamakan ideologi Marx itu sendiri, ambil contoh pada Slogan para anarkis Spanyol pengikutnya Durruti yang berbunyi “Terkadang cinta hanya dapat berbicara melalui selongsong senapan”. Walhasil, jadilah ideologi sosialis yang sejatinya mengusung konsep pemerataan kelas atau di negara kita lazim disebut “pro wong cilik” malah menjadi momok tersendiri bagi masyarakat. Dan terbentuklah telinga-telinga yang akan langsung paranoid kala mendengar kata sosialis ataupun komunis, mereka akan otomatis mengidentikkannya dengan hal-hal yang kejam dan tak manusiawi.
Mungkin kenyataan itu pula yang melahirkan gagasan baru bahwa ide-ide Marx tak relevan lagi dalam konteks kekinian. Terlalu banyak hal yang dikorbankan bila ide tersebut terus disalahgunakan oleh para penganutnya. Teori tersebut diisisipi dengan beragam kepentingan. Jargon kepemilikan bersama terus didengungkan guna melegalkan segala tindak-tanduk penguasa. Tak ada kepemilikan pribadi dalam dunia komunis. Bila ada yang memberontak, maka alat paling ampuh dari suatu negara yaitu kekuatan militernya akan dengan tegas menggerus pertentangan tersebut.
Membincang ideologi Marx, maka tak akan lepas dari ranah ekonomi dan politik. Marx sejatinya memang hirau terhadap permasalahan ekonomi yang terjadi pada masanya. Namun karena permasalahan ekonomi selalu berkaitan erat dengan dunia politik, maka pembahasan atas keduanya tak dapat dihindarkan. Ada yang menilai tokoh yang satu ini utopis dengan rasionalisasi gagasannya seperti pertentangan kelas tak mungkin dapat dihapuskan. Utopis atau lebih tepatnya sosialis utopis sendiri sebenarnya digunakan Karl Marx dan para pengikutnya untuk menggambarkan awal kaum sosialis intelektual yang menciptakan hipotetis masa datang dari penganut paham egalitarian dan masyarakat komunal tanpa semata-mata memperhatikan suatu cara dimana komunitas masyarakat seperti itu bisa diciptakan atau diperjuangkan.
Cara-cara kaum sosialis utopis dinilai Marx tidak mmembantu menyelesaikan permasalahan. Bahkan para filsuf dimasanya juga dinilai Marx hanya dapat menggambarkan dunia dan apa yang sedang terjadi. Seharusnya filsuf selain menggambarkan “dunia” harus dapat pula menciptakan solusi demi menghadapi permasalahan yang dihadapi umat manusia tersebut.
Memang, ide mengenai penghapusan kelas dalam masyarakat nyaris utopis. Namun di masa kini, ide tersebut bukanlah hal yang mustahil terjadi. Namun dengan sedikit perubahan misalkan bukan menekan pada penghapusan kelas, namun pada kesenjangan kelas yang dipersempit. Dengan jalan memberikan penghasilan yang memadai bagi kelas proletar. Dengan kata lain, buruh harus dapat pengahasilan sesuai dengan waktu efektif kerja yang dilakukannya. Secara tidak langsung penghasilan yang diraup CEO juga tentu berkurang. Hal ini akan membantah prinsip full employnment khususnya dalam poin dimana kesempatan kerja penuh pasti akan terbentuk, bilapun ada, sifat pengangguran mestinya hanya berlangsung sementara dan dengan penyesuaian terhadap upah (dengan kata lain penurunan upah) bila terjadi kesepakatan maka masalah pengangguran dapat teratasi.
Mari kita lihat kesalahan tersebut selain ditinjau dari teori Keyne juga dari ide-ide Marx sendiri. Tinjauan masalah ini dalam konteks kekinian tentu akan buruk bila diterapkan. Kesenjangan akan langsung terjadi. Para pengusaha akan menetapkan tingkat upah seenaknya dan para pengangguran yang memang tidak punya pilihan lain akan cenderung menerima. Walhasil, gaji para pekerja dengan manager bagaikan langit dan bumi.
Disini peran pemerintah tentu sangat urgent. Pemerintah berhak dan wajib campur tangan dengan mengatur jumlah upah minimum dan mencari solusi-solusi lain seperti pembukaan lapangan kerja dan pembangunan disana-sini. Dalam hal ini tidak hanya dalam segi infrastruktur namun juga dalam hal pendidikan dan sebagainya. Disanalah paham Marx cukup relevan bila ditinjau dari sisi kontemporer.
Agaknya aneh bila kita menyebutkan sosialis dan komunis sebagai ideologi dari ataupun diadaptasi dari pemikiran Marx. Karena meninjau dari definisi Marx sendiri mengenai ideologi yang dipahaminya sebagai alat yang dijadikan pembenaran bagi kepentingan kelas penguasa. Kalau boleh memilih, tentu Marx akan lebih senang bila pemikiran darinya tidak disebut sebagai sebuah ideologi.
Marx ada benarnya dalam hal ini. Lihatlah dewasa ini dimana perpolitikan yang busuk senantiasa mengagungkan ideologi sebagai jimat guna memoles tampilan mereka di mata publik. Namun ideologi tersebut tak jarang kandas semisal oleh kebutuhan tertentu seperti partai politik yang berkoalisi, dimana ideologi mereka? Rasanya di jaman edan ini kesamaan ideologi menjadi pertimbangan terakhir dalam tubuh partai kala menentukan partai pinangannya. Yang utama adalah bagaimana partai yang akan digandeng tersebut dapat mendatangkan suara terbanyak atau memiliki figur yang “menjual”.
Banyak lagi contoh penyalahgunaan ideologi seperti di era orde baru dimana masyarakat sedang anti-antinya dengan komunis, maka komunis lantas dijadikan patokan untuk membredel habis buku-buku yang berbau Marx dengan tameng agama yang menganggap partai komunis tidak bertuhan.
Lucunya lagi, betapa ideologi kini telah mengalami fase penyeragaman. Adalah ideologi pro rakyat yang kini dianggap paling laris dipasaran hingga dipakai oleh hampir seluruh parpol Indonesia. Padahal tengoklah siapa tokoh yang lantas dicalonkan partai tersebut atau bagaimana mekanisme menjadi calon dari partai politik sekarang ini. Tak lain adalah si pengucur rupiah terbesar yang akan kuat di dalamnya. Bagaimana ideologi yang baik terbentuk bila dalam prosesnya saja telah menempuh cara dan memiliki tujuan yang salah?
Ada anggapan yang menyebutkan bahwa paham sosialis dan komunis seharusnya tak dapat dipandang sebagai hitam dan putih. Polah manusia adalah sesuatu yang amat abstrak. Seperti yang telah disebutkan diatas, tak ada standar baku dari suatu ideologi karena ideologi sendiri bukanlah undang-undang. Bangsa Indonesia mungkin cenderung alergi mendengar kata-kata komunis karena trauma dengan aksi PKI yang pernah terjadi beberapa waktu silam. Namun tidak tertutup kemungkinan hari ini maupun suatu saat nanti bangsa Amerika sekalipun bisa juga anti dengan kata kapitalisme karena krisis ekonomi yang dihadapinya yang memberi dampak cukup besar bagi perekonomian warganya.
Bilapun ingin berideologi, sudah selayaknyalah kita memahami kata-kata itu dari substansi yang terkandung di dalamnya. Jangan lantas menciptakan dikotomi atau mengidentikkan ideologi dari contoh kasus yang pernah terjadi. Mungkin benar kata Marx yang menyebut Kapitalisme tak akan bertahan dan akan menghancurkan dirinya sendiri. Begitu pula dengan sosialis. Ideologi tidaklah lebih hebat dari orang yang menjalankannya. Ia adalah konsep yang akan terus setia melekat pada pemakainya. Sekotor apapun konsep tersebut diaplikasikan.
Mengenai ideologi, mungkin kita masih perlu banyak belajar bila ingin mencirikan diri atasnya. Manusia diberkahi akal fikiran untuk mencerna mana yang sesuai dan mana yang tidak. Hanya itu yang dapat dijadikan patokan suatu ideologi. Abstrak benar bukan? Jadi masih pentingkah berideologi?

Ditulis oleh: Novia Mardhatillah

Francis Fukuyama rasa-rasanya telah gagal meramalkan nasib pertarungan ideologi dunia. Berawal dari runtuhnya Uni Soviet, Francis dalam The End Of Historynya meramalkan bahwa setelah dekade tersebut (keruntuhan Uni Soviet), tak akan ada lagi perdebatan-perdebatan sengit yang akan terjadi terkait kemapanan suatu ideologi. Centuries of boredom atau zaman kejemuan, begitulah sang moderat ini memprediksi dunia pasca Sosialis-komunis. Namun pendapat itu terbantahkan setelah krisis global yang harus dihadapi Amerika Serikat terkait kredit macet di negaranya, mulai saat itu bermunculan tanda tanya besar terkait eksistensi ideologi yang diidentikkan dengan kaum borjuis tersebut. Baca lebih lanjut

4 Komentar

Filed under Novia Mardhatillah

Yang Tidak Ikhlas Membantu

Tuan dan puan sekalian pembaca yang baik. Mencela memang bukanlah hal yang menarik. Tapi kali ini beda, Tuan. Sangat terlihat beda. Sebenarnya niat saya menulis ini bukan untuk mencela. Tapi yang saya ingin sampaikan hanya sikap tidak enak saya terhadap sebuah lembaga politik di Indonesia. Partai Politik itu (sebut saja Partai Kuno Sekali) pernah membuat saya simpatik. Mengusung isu-isu tentang Islam dan mencoba menguaasai pemerintahan dengan ideologi Islam. Waduh, sangat luar biasa. Tahun 2004 silam partai itu bergerak seperti pesawat tempur. Melesat cepat hingga ke pelosok tanah air nama mereka telah dikenal dekat.
Tak hanya itu, katanya, mereka juga suka membantu sesama. Jadinya mereka mampu menarik perhatian dengan hal serupa. Taktik rukrut massa mereka pun tak kalah menarik. Hanya terhitung bulan, Partai itu telah memiliki ratusan ribu kader. Iya, mereka yang terdaya oleh isu ke-Islam-an dan meraka yang mau sebuah perubaha. Banyak mahasiswa yang menyukai partai itu. Apalagi di kampung saya. Kampung yang telah hilang sedikit ruh Islam. Jadi, banyak yang mengira dengan hadirnya mereka, kampung saya semakin menemukan kembali merwah Islam yang terkikis. Hebat toh? Namun, akhir-akhir ini, parti yang pernah saya kagumi itu telah ling-lung.
Kata kawan saya “udah ngak jelas lagi”. Pernah sekali saya ikut training motivasi yang dibuat oleh kawan-kawan mahaiswa di kampus saya. Kebetulan mereka dekat dengan orang-orang di partai itu. Maka yang menjadi fasilitator di training itu adalah dari partai tersebut. Bapak yang baik hati itu kemudian menjelaskan banyak hal tentang motivasi kita selaku orang Islam. Harus saling menolong sesama. Baik dalam hal apapun. “Atas dasar satu agama, Islam, kita harus saling membantu”. Kata bapak itu. “Bantulah orang meski dengan hal-hal sekecil apapun. Memberi dengan tangan kanan. Sembunyikan tangan kiri Anda. Jangan sampai tangan kiri Anda tahu jumlah bantuan Anda”. Lanjutnya sambil tersenyum. Beliau juga memberikan arahan kepada kami tentang betapa pentingnya sebuah keikhlasan hati untuk tidak mengharapkan apapun atas semua yang kita berikan. Kami para pendengarpun merasa senang dan termotivasi untuk saling membantu.
“Trus apanya yang berubah?”
Ups… maaf, jadi lupa!
Pagi itu. Saat orang-orang sedang sibuk bekerja dengan pekerjaannya sendiri. Tidak dengan saya. Saya sedang tidak bekerja. Saya duduk di sebuah warung kopi dekat kampus saya kuliah. Nah, kenapa saya duduk di warung kopi, mungkin Anda semua sudah tau. hehehe… Bagi saya warung kopi adalah rumah saji paling baik di dunia ini. Bagaimana tidak, di tempat itu saya bisa membaca koran gratis, nonton TV gratis, dan mendengar orang-orang berbicara tentang banyak hal. Bagiku itu lebih dari sebuah ruang perkuliahan. Nah, ketika hendak saya mencicipi segelas kopi pagi. Saya terkejut melihat ke arah terlevisi. Sejenak saya terdiam. Lalu, tertawa kecil di hati. Ngak boleh besar-besar, takut dikira orang gila. Tau apa yang saya lihat? penasarankan? Yang jelas bukan adegan pornografi ataupun tingkah lagu Olga Saputra. Yang saya lihat hanya sebuah iklan.
Iklan yang mencoba menarik perhatian orang-orang Islam untuk tergugah memilih partai itu saat pemilu 2009 nanti. Iklan itu terlihat tidak enak. Lucu sekali. Makanya saya agak sedikit tertawa. Dalam diam itu, saya diingatkan tentang training yang pernah saya ikut ketika di kampus dulu. Betapa hebatnya bapak pemateri mengatakan kalau kita memberikan sesuatu kepada orang lain. Maka berilah dengan hati yang tulus dan ikhlas. Jangan mengharap balasa. Jangan mengharap apapun. Karena kalau sifat tidak baik itu kita perlihatkan, maka kita akan terkesan ria. Berarti, dosa! Nah, di iklan tersebut, saya melihat mereka tidak seperti yang dibicarakan orang banyak. Begini bentuk iklannya: salah satu dari mereka dengan bangganya mengatakan “Ingat tsunami, Ingat kami.” Artinya mereka mau mengatakan; Kami lho yang membantu Aceh waktu tsunami. Jadi sekarang bantu kami untuk memenangkan pemilu.
Tak hanya masalah Aceh. Mereka juga mengusung isu Palestina yang sedang dilanda perang.  Kampanye besar-besaran di Bundaran HI. Lalu iklan “Palestina Kita Sayangi”. Setelah sekian bulan meredam dari kontoversi iklan pertama, kini iklan partai ini menuai kritikan yang tidak kalah buruknya. Kasian, orang susah kok jadi kambing belang! ups… kambing hitam maksud saya. Baik apanya? itu kemudian terlintas dalam hati saya.
Hemat saya, tak ada partai politik yang bersih dalam hal apapun. Semua orang memilki kepentingan.  Meskipun mengusung ideologi Islam. Namun, selagi kepentingan itu tidak menyangkutpautkan dengan ajaran Islam. Saya rasa boleh-boleh saja. Untuk apa mempermainkan agama Tuhan. Kalau memang ingin mendapatkan simpati dari masyarakat, ngak harus gitu caranya. Ada yang lebih menarik. Menurut saya, iklan itu tidak baik untuk ditonton. Karena ada unsur ria di situ. Tuhan jelas tidak suka dengan orang-orang yang ria. Mereka memang membantu banyak. Banyak sekali. Namun, dengan hadirnya iklan itu. Mereka telah salah. Berarti selama ini mereka memberikan bantuan dengan tangan kiri. Lalu menyembunyikan tangan kanan agar terkesan ikhlas. Mungkin karena itu mereka jadi ria. Kalau gitu cara menyumbang, bukan hanya tangan kiri yang tahu. Ujung kuku kaki juga akan tahu lho…. Aduh, memang politik itu jahat. Bantuan kok jadi kampanya politik!!!  Tak mau repot? tanya Gus Dur!

Ditulis oleh: Akmal Mohd. Roem

Tuan dan puan sekalian pembaca yang baik. Mencela memang bukanlah hal yang menarik. Tapi kali ini beda, Tuan. Sangat terlihat beda. Sebenarnya niat saya menulis ini bukan untuk mencela. Tapi yang saya ingin sampaikan hanya sikap tidak enak saya terhadap sebuah lembaga politik di Indonesia. Partai Politik itu (sebut saja Partai Kuno Sekali) pernah membuat saya simpatik. Mengusung isu-isu tentang Islam dan mencoba menguaasai pemerintahan dengan ideologi Islam. Waduh, sangat luar biasa. Tahun 2004 silam partai itu bergerak seperti pesawat tempur. Melesat cepat hingga ke pelosok tanah air nama mereka telah dikenal dekat. Baca lebih lanjut

3 Komentar

Filed under Akmal Mohd. Roem

Kota si Louis dan Katrina

Ditulis oleh: Mifta Sugesty

SEPEREMPAT jam sudah lewat dari tengah malam ketika pesawat yang aku dan rombongan tempati tiba di bandar udara. “Selamat datang di New Orleans, Louisiana. Waktu setempat menunjukkan…”, aku menguap acuh tak acuh dengan suara Pramugari. Lalu berjinjit – jinjit berusaha menarik ransel yang penuh pakaian dalam dan keripik kentang dari kompartemen diatas kepala, secepatnya menjadi bagian dari barisan lambat orang – orang yang juga ingin keluar dari kabin pesawat. Seorang anak berkulit cokelat yang berdiri didepanku menarik lengan ibunya dan setengah merengek berkata,”Tengo hambre, Mama.” Aku lapar. Baca lebih lanjut

1 Komentar

Filed under Mifta Sugesty

Jembatan Tisu

Ditulis oleh: Raisa Kamila

Saya dan Kanber Colak, laki- laki muda dari Turki, bertemu pada sebuah kebetulan yang menyenangkan: kami sama- sama menikmati tulisan Orhan Pamuk yang kemudian, mempertemukan kami di acara peluncuran buku terbarunya, Museum of Innocence, yang baru diterjemahkan dalam bahasa Jerman, bahasa yang baik bagi saya –siswi pertukaran pelajar—maupun Kanber, yang sudah lebih dulu tinggal di Switzerland, masih terdengar asing dan sulit dipahami. Baca lebih lanjut

11 Komentar

Filed under Raisa Kamila

Tentang Definisi Politik Mahasiswa Yang Kita Perdebatkan

Ditulis oleh: Rizki Alfi Syahril

Pemilihan raya (Pemira) untuk memilih Presiden Mahasiswa Universitas Syiah Kuala untuk masa bakti satu tahun ke depan akan dilaksanakan pada hari Senin (11/5) ini. Masa kampanye dan debat kandidat telah terlalui. Dan rupanya, proses politik yang biasanya kita dengar di dunia nyata, juga terjadi kampus. Misal adanya pengrusakan atau penghilangan beberapa atribut kampanye dari beberapa calon, adanya black campaign¸dsb.

Baca lebih lanjut

2 Komentar

Filed under Rizki Alfi Syahril

Salju Hitam

Ditulis oleh: Raisa Kamila

MALI dan Rajif akhirnya ikut dengan Bapak dan Ibu Shah untuk sepanjang hari dan malam ini. Mali membayangkan tempat yang akan mereka tuju itu seperti sebuah tebing curam tempat orang-orang dipaksa bekerja. Bapak dan Ibu Shah selama beberapa hari dan malam pergi ke sana dengan busana putih yang tidak menyenangkan. Setelah itu pulang tengah malam ke rumah penginapan dengan baju putih yang berwarna kusam dan campur debu dan muka lelah sehingga saat Mali menceritakan tentang sumur dalam yang gelap di rumah penginapan, Ibu Shah tidak berkata apa- apa selain, “Aku lelah sekali.”. Baca lebih lanjut

3 Komentar

Filed under Raisa Kamila

Dari Pesisir Pantai Lhoknga dan Lampuuk ke Pantai Gaza Palestina

Ditulis oleh: Rizki Alfi Syahril

Enam puluhan mahasiswa yang bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Lhoknga, beberapa anggota gerakan mahasiswa di Unsyiah, dan beberapa elemen sipil di Banda Aceh, berinisiasi untuk membuat aksi solidaritas Palestina. Mereka bergabung dalam satu front, yang disebut FKP (Front Kemerdekaan Palestina) yang dikoordinir oleh Oryza. Berbeda dengan aksi yang lazim dilakukan oleh masyarakat sebelumnya, misal membuat konser amal, mengadakan pengumpulan dana di titik-titik tertentu di pemberhentian lampu merah, ataupun konvoi massa yang dibuat oleh partai atau organisasi islam lainnya, maka front ini memilih dengan cara lain. Yaitu membangun pemahaman bersama masyarakat di beberapa desa di Aceh, untuk menunjukkan dan memberikan sumbangsihnya untuk membantu korban kekejian Israel di Pantai Gaza. Pada tahap awal, bekerja sama dengan para mahasiswa Lhoknga, FKP menyisir pantai Lhoknga dan Lampuuk pada hari minggu, 17 Januari 2009. Bekerja sama dengan masyarakat setempat, para anggota FKP membantu pengutipan tiket masuk di beberapa loket di Pantai Lhoknga dan Lampuuk, yaitu di pintu masuk Lapangan Golf, Lampuuk, Babah Dua, dan Eumpee Nulu. Baca lebih lanjut

1 Komentar

Filed under Rizki Alfi Syahril

Sedikit Pledoi Dari Kami

Ditulis oleh: T. Oryza Keumala

Negara dalam derita. Bangsa dalam Sengsara. Dan negara bangsa kita dalam cengkraman kapitalisme. Sudah menjadi hal yang lumrah bagi rakyat Indonesia, protes terhadap setiap kebijakan publik yang dikeluarkan pemerintah yang tidak pro rakyat. Lalu kita kembali bertanya, apa rakyat yang bodoh, atau memang pemerintah sedikitpun tidak berpihak pada kita? Baca lebih lanjut

3 Komentar

Filed under T. Oryza Keumala

Cerita Pendek: “Mantan Suamiku”

Ditulis oleh: Edi Miswar Mustafa

Mom, come on.”

“Bentar lagi, Samirka.” Baca lebih lanjut

5 Komentar

Filed under Edi Miswar Mustafa

Apa Natal itu, ‘kaphe’ ?

Ditulis oleh: Nindy Silvie

Dahulu ketika masih di kampung biasanya pada tanggal 25 Desember aku hanya duduk di depan layar kaca dan menonton film- film natal yang terlihat seperti fantasi, mengagumkan.  Dan tahun ini siapa sangka aku merayakan natal seperti yang selama ini kulihat di TV; dekorasi pohon natal, memeriksa isi kaus kaki yang digantung di perapian sambil berharap apa yang telah ditinggalkan Santa, tukar menukar kado, kebersamaan  dan merasakan euforianya.  Baca lebih lanjut

48 Komentar

Filed under Nindy Silvie

Tsunami Museum : Penghancuran Ingatan Kolektif, Bencana, dan Sejarah

Ditulis oleh: Rizki Alfi Syahril

Masyarakat yang terluka mengenang luka mereka dengan empat cara: dalam doa, dengan monumen, dengan kesaksian, dan sesekali dengan museum – meski yang terakhir ini terkadang harus dibayar sangat mahal.

Rencana yang Belum Rampung

Tanggal 25 Oktober 2008 adalah batas waktu penyelesaian sebuah megaproyek yang dibangun di Aceh. NAD Tsunami Museum atau Museum Tsunami NAD adalah nama megaproyek itu. Beberapa pekerja masih sedang berusaha merelief dinding gedung itu sambil bergantungan pada seutas tali.

Beberapa truk pengangkat pasir masih terus lalu lalang di areal gedung itu. Tenggat waktu penyelesaian megaproyek yang dimulai pembangunannya 17 Januari 2008 dan harus selesai 25 Oktober 2008 (sesuai dengan yang tertulis di papan nama proyek) akan terlewati. Pemborong megaproyek ini, PT Waskita Karya (Persero), belum mampu menyelesaikan pekerjaan itu tepat waktu, seperti halnya keterlambatan pembangunan 700 unit rumah bantuan Turki di Lampuuk yang pernah ditangani oleh PT Waskita Karya pascatsunami. Baca lebih lanjut

8 Komentar

Filed under Rizki Alfi Syahril

Atas Jilbab, Bawah ketat!

Ditulis oleh: Muhadzdzier M. Salda

Tulisan ini bukanlah untuk saling menuding siapa yang salah dan mana benar. Bisa juga salah saya karena menghambat ‘hak-hak asasi perempuan’, atau persamaan gender yang diperjuangkan sampai sekarang oleh orang-orang yang masih merasa terzalimi oleh kaum Adam. Baca lebih lanjut

69 Komentar

Filed under Muhadzdzier M. Salda

Menghargai Sineas Aceh

Ditulis oleh: Masriadi Sambo

Pascatsunami film Aceh sedikit menggeliat. Industri film ini memang masih terseok dan miskin dari makna, sajian lokalitas, dan lupa pada pesan moral yang ingin disampaikan. Terlalu panjang, dan sedikit berbelit. Ini lakon film kita (Aceh) saat ini. Lihat saja, ”empang breueh” film yang disebut-sebut paling fenomenal dalam dua tahun terakhir di provinsi ini. Dari sisi pencahayaan dan pengambilan gambar, film ini memang lebih unggul ketimbang film lainnya.  Baca lebih lanjut

2 Komentar

Filed under Masriadi Sambo

Made in Asia, apa yang salah?

Ditulis oleh: Mifta Sugesty

Caroline berteriak memanggil namaku di koridor. Saat itu masih sangat pagi, koridor masih belum ramai. Aku yang sedang mencoba membuka loker jadi lupa kombinasi nomor kunci lokerku karena teriakan Coroline.

“Lihat!”, dia menunjuk celana pendek yang dikenakannya. Celana olahraga warna biru dongker dengan strip warna merah muda di masing – masing pinggirnya. Baca lebih lanjut

8 Komentar

Filed under Mifta Sugesty

Sekolah

Ditulis oleh: Mifta Sugesty

“Aku bukan hanya ingin menjadi gipsi, namun aku pasti akan menjadi seorang gipsi!”, Elyse, 15 tahun, mengatakan itu dengan suara bulat ketika Pak Mody, guru mata pelajaran Menulis Kreatif, menanyakan kami pertanyaan klasik mengenai cita – cita. Saat itu aku dengan otomatis merespon, “Oh yeah? Really?”. Dan Elyse hanya membalas,”OH YEAH! I’m positive! A gypsi with high education experiences.” Baca lebih lanjut

6 Komentar

Filed under Mifta Sugesty

Mati Lampu

Ditulis oleh: Raisa Kamila

Saat Nuansa mematikan lampu kamarnya, dia tiba- tiba teringat pada malam- malam yang gelap dan mencekam di kampungnya dulu. Nyala lilin yang redup di kamarnya, cerita- cerita tentang orang yang disekap dan dibawa ke gunung atau rumah jagal, keduanya tidak kurang menyedihkan. Nuansa kemudian merasa menjadi bagian yang terpisah dengan keluarganya, jarak dan juga perasaannya. Tapi dia kemudian menarik selimut tebal dan bergegas tidur. Baca lebih lanjut

4 Komentar

Filed under Raisa Kamila

Class Segregation (Syariah Law in Youth Opinion)

Ditulis oleh: T. Oryza Keumala

Truly, my friend, my heart is troubled,
as a Muslim, and as a young person,
to see our beloved Aceh in this day and age
still drunk with the ancient wine from the Imperium of Iskandar Muda Baca lebih lanjut

4 Komentar

Filed under T. Oryza Keumala

Syair Sang Fakir

Ditulis oleh: Nindy Silvie

Syair Sang Fakir

Pak,

Indonesia dirundung malang

Siang malam tiada kunjung jelang

Tiada perubahan disanjung- sanjung

Oleh bibir manismu yang usang

Pak,

Tak kuasa menahan tangis

Ibu dan anak yang meringis

Pak,

Tak peduli kau dengan bangsa

Apa jadi nasib buruh yang kau paksa

Hingga luntur jejak- jejak pancasila

Tersisa tembok- tembok bencana belaka

8 September 2007, Banda Aceh

5 Komentar

Filed under Nindy Silvie

Kembang Sepatu

Ditulis oleh: Mifta Sugesty

Di depan sekolahku,

Masih merah warna kembang sepatu.

Acuh pada suara AK empat tujuh,

Atau bapak temanku yang di bunuh tadi subuh.

Ajun, April 2001

Tinggalkan komentar

Filed under Mifta Sugesty

Bagi (Calon Mahasiswa), Sekadar Info

Ditulis oleh: Rizki Alfi Syahril

Banyak siswa daerah yang datang ke Banda. Sambil menunggu berita kelulusan UN SMA di sekolah asalnya, mereka ke Banda Aceh untuk mengikuti bimbingan intensif. Mereka tinggal di rumah kos, atau di tempat saudara. Dan hampir setiap harinya rela belajar selama beberapa jam di bimbingan. Bimbingan belajar yang ada berusaha mempromosikan paket intensif dengan berbagai variasi, mulai dari bagaimana kondisi kelasnya, lama belajar, para pengajar, serta tarif mengikuti bimbingan. Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Rizki Alfi Syahril

Epigram (bukan) untuk Fozan Santa

Ditulis oleh: Akmal Mohd. Roem

[Tulisan ini menyikapi beberapa polemik yang sempat bergulir di kolom budaya harian Serambi Indonesia. Tulisan ini telah dikirim ke Editor Serambi Indonesia, tapi belum dimuat sampai tanggal 28 September 2008.] Baca lebih lanjut

3 Komentar

Filed under Akmal Mohd. Roem

Eternit Sekolah Saya Runtuh

Ditulis oleh: Mifta Sugesty

SIANG itu, 9 Agustus 2004, dalam salah satu ruang kelas di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 (SMPN 1) Banda Aceh, saya tengah mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia. Guru bahasa berdiri di depan kelas. Ia bersemangat menjelaskan tentang para pujangga Angkatan 45 dan Angkatan Baru; dua generasi sastra di Indonesia. Teman semeja saya adalah Susan. Ia bertubuh jangkung dan langsing. Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Mifta Sugesty

Hikayat Aceh Sebagai Media Syiar Islam

Ditulis oleh: Morina Oktavia

Aceh sebagai daerah pantai berkedudukan di ujung barat pulau Sumatra, diantara Selat Malaka dan Lautan India, menyimpan berbagai cerita misteri sejarah. Keberadaan kehidupan sosial budaya bangsanya dalam lintasan sejarah mempunyai keunikan tersendiri yang terus diminati sebagai bahan perbincangan para pakar dari masa ke masa.

Baca lebih lanjut

1 Komentar

Filed under Morina Oktavia

Opini – Tayangan Kartun dan Pengaruh Media

Ditulis oleh: Masriadi Sambo

Dua hari lalu, publik Indonesia termasuk Aceh dikejutkan dengan hasil pemantauan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat di Jakarta terhadap tayangan televisi Indonesia. KPI memasukkan tayangan kartun, Tom&Jerry yang disiarkan stasiun televisi swasta RCTI, Indosiar dalam kategori mengkhawatirkan. Khawatir dalam arti, tayangan ini mengandung unsur tidak baik bagi anak-anak. Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Masriadi Sambo