Hikayat Aceh Sebagai Media Syiar Islam

Ditulis oleh: Morina Oktavia

Aceh sebagai daerah pantai berkedudukan di ujung barat pulau Sumatra, diantara Selat Malaka dan Lautan India, menyimpan berbagai cerita misteri sejarah. Keberadaan kehidupan sosial budaya bangsanya dalam lintasan sejarah mempunyai keunikan tersendiri yang terus diminati sebagai bahan perbincangan para pakar dari masa ke masa.


Hampir semua pakar sejarah Aceh sepakat bahwa sebelum agama Islam masuk ke daratan Aceh, diperkirakan kebudayaan dan agama penduduk di sana dipengaruhi oleh ajaran Hindu dan Budha.[1] Bahkan sebagian mereka ada mengatakan bahwa di Aceh telah berdiri Kerajaan Hindu yaitu Kerajaan Indra Patra, Kerajaan Indra Purwa dan Kerajaan Indrapuri dalam bentuk kerajaan-kerajaan kecil.[2]

Dari catatan perjalanan Marcopolo ke Pasai pada tahun 1292, ia menulis bahwa di sana terdapat sebuah kerajaan kecil yang penuh dengan kesopanan Hindu Aceh.[3] Para penganut agama Hindu dan Budha di waktu itu umumnya menduduki kawasan pesisir pantai sedangkan di pedalaman dipengaruhi kepercayaan animisme dan dinamisme.

Jadi, ketika Islam berpijak kaki di Aceh, masyarakat berada dalam kondisi sangat terikat dengan kepercayaan dan kebudayaan Hinduisme. Maka, untuk menimbulkan perubahan dalam kehidupan sosial dan budaya Hinduisme kepada Islam, tentulah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi proses konstruksi sosial relatif lebih lambat dan rumit daripada proses konstruksi teknologi. Oleh karena itu, Islam tentu dituntut memperkuat dan memperkokoh keberadaannya agar mampu menggeser dan memutar arah arus pengaruh Hinduisme kepada Islam.

Denyut kehidupan sosial di abad ke-12 menunjukkan kekuatan Hinduisme dalam kehidupan berbudaya masyarakat Aceh tidaklah dapat dikatakan lemah. Aliran Hinduisme telah merasuk jauh dan mengalir ke dalam tulang sumsum peradaban dan pembuluh nadi bahasa Aceh, meski mengenai hal itu sudah sukar diteliti dalam riwayat dan adat di sejumlah literatur-literatur yang ada.[4]

Pembicaraan pokok yang akan dibahas disini berangkat dari catatan Marcopolo ke Pasai yaitu dalam laporannya ia menyebutkan bahwa pada abad ke-12 ketika Islam datang, Islam disambut baik oleh orang-orang tempatan disana tanpa sedikitpun terjadi penaklukkan negeri atau memakai cara kekerasan.[5] Kesopanan budaya maupun kepercayaan Islam mulai muncul dari hari ke hari bertambah maju dan tersebar luas ke seluruh pelosok nusantara dan Asia Tenggara seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, Filipina, dan lain-lain.

Sebagaimana kutipan isi Hadih Maja (pepatah Aceh yang mengandung makna hukum): Hukom ngon adat lagee zat ngon sifeut (Hukum dengan adat seperti zat dengan sifat). Isyarat ini oleh pakar sejarah Aceh disebut sebagai sesuatu yang tidak mungkin dipisahkan diantara keduanya. Hukum Islam di satu sisi dan adat di sisi yang lain. Keduanya senantiasa menyatu dan tak boleh dipisahkan sampai kapan pun. Konkritnya, ketika Aceh bebas dari pengaruh Hinduisme maka atribut dan onderdil Hindu mulai ditanggalkan dan berganti dengan kesopanan dan peradaban Islamlah yang lebih dikenal dan aplikatif di Aceh. Maka, susah dipisahkan antara Aceh dengan Islam setelah Islam mendarah daging dengan Aceh dan bangsanya.

Oleh yang demikian tentu ada suatu cara atau jalan yang dipakai Islam dalam menyiarkan dakwahnya tersebut. Dan diantara cara atau jalan yang dipilih  atau dilalui itu adalah penggunaan hikayat atau cerita-cerita rakyat dengan sisipan unsur-unsur keislaman didalamnya.

Selain itu, ada beberapa hal mendasar dari masyarakat Aceh pula yang tidak luput dari perhatian muballigh-muballigh Islam yang menjadi pertimbangan pokok dalam memainkan hikayat sebagai media syiar Islam. Faktor latar belakang agama tidaklah cukup semata-mata menjadi pertimbangan, akan tetapi aspek-aspek sosial budaya lainnya yang secara bersama-sama ikut mempertajam pula sentimen keagamaan masyarakat Aceh masa itu.

Fungsi dan Posisi Hikayat

Dalam masyarakat Aceh kita akan menjumpai sejumlah karya sastra dari zaman lampau. Diantara karya sastra itu ialah hikayat. Hikayat ditulis hampir seluruhnya berbentuk puisi dengan menggunakan huruf Arab-Melayu tetapi tetap dalam teks berbahasa Aceh. Ditinjau dari segi masyarakat Aceh, hikayat tidaklah dipandang sebagai karya fiksi yang utuh. Hikayat dan cerita rakyat semacam itu lebih berat dipandang sebagai suatu peristiwa kehidupan yang benar-benar ada daripada sebagai buah pikiran pengarangnya. Juga, isi kandungan hikayat dianggap mewakili sekelumit peristiwa kehidupan sosial Aceh sehingga amat mempengaruhi tingkah laku, norma atau nilai-nilai sosial, kehidupan bermasyarakat dan berbudaya pada umumnya.[6]

Fungsi dan posisi hikayat dalam bidang agama tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai kebiasaan yang telah berkembang dari dulu. Bahwa masyarakat Aceh dalam kurun sejarah yang cukup panjang amat menyenangi karya sastra semacam hikayat. Baik orang-orang besar, apakah tua maupun muda, laki-laki ataupun perempuan, semuanya tergila-gila kepada hikayat.[7]

Mencermati makna daripada ungkapan di atas, betapa hikayat sebagai karya sastra telah mengikat masyarakat Aceh sebagai penikmat sastranya pada masanya. Dengan kata lain, kecendrungan ini memegang peranan penting di Aceh karena hikayat sebagai “hasil produksi” dalam bentuk karya sastra telah dapat memenuhi selera rakyat Aceh sebagai “konsumennya”.

Hikayat Sebagai Media Syiar Islam

Ditinjau dari segi penerimaan masyarakat Aceh, syiar Islam melalui hikayat membuka jalan yang cukup aman. Dikatakan demikian karena cara ini di satu pihak relevan dengan alam pikiran dan semangat masyarakat dewasa itu. Secara perlahan tapi pasti hikayat mengusung misi perubahan pola pikir masyarakat dalam beragama dan berbudaya dengan jalan tenang dan damai. Hingga kehidupan bermasyarakat dan berbudaya dari Hinduisme kepada Islam tidaklah mengalami kegoncangan karena sebagian dari nilai-nilai yang dibawa hikayat ada yang tetap mempertahankan ajaran Hinduisme. Keadaan ini dapat dipahami dengan alasan agar hikayat bisa menjadi media syiar Islam yang tepat untuk memperluas dakwah secara mudah. Hikayat menjadi satu-satunya media yang sangat disenangi masyarakat ketika itu.

Dari ulasan tersebut nampak kepada kita, hikayat mencoba menjembatani dua macam kehidupan beragama dan berbudaya yang cukup berbeda. Mencari arah perubahan kehidupan sosial dan budaya dari suasana Hinduisme kepada suasana penuh keislaman. Maka, sejak itu adat budaya asal Hindu mulai ditantang dengan perlahan. Dan, peranan hikayat terus mengalihkannya secara sehat dimulai dari kebiasaan-kebiasaan hidup cara Hindu menuju cara hidup Islam. Maka kemudian hikayat menjadi semacam sumber nilai-nilai yang terus berinteraksi dengan masyarakat dalam proses yang cukup panjang.[8]

Proses Islamisasi

Langkah awal yang ditempuh oleh muballigh-muballigh Islam dalam menyampaikan dakwahnya melalui hikayat adalah dengan tetap mempertahankan sebagian isi hikayat dari nilai-nilai lama yaitu Hinduisme, kemudian disisipkan unsur-unsur nilai baru sedikit demi sedikit yaitu Islam dan kebudayaannya. Manifestasi tindakan ini semacam mendukung kedua macam nilai-nilai agama dan budaya yang ada. Sebagai contoh konkritnya ada di dalam Hikayat Maleem Diwa yang hampir seluruh isinya diwarnai oleh Hinduisme. Tokoh Maleem Diwa didalamnya, yang oleh masyarakat Aceh dewasa itu dipandang sebagai orang keramat, disisipkan sebagai gure meunasah dalam penyamarannya di kayangan. Sisipan ini amatlah kecil dan halus namun sarat nilai misi dakwah didalamnya. Tokoh Maleem Diwa hanya disebutkan menyamar sebagai guru mengaji (Al-Qur’an) di meunasah/surau/langgar. Ini bermakna Maleem Diwa belum bisa dikatakan benar-benar menganut agama Islam. Perubahan-perubahan yang cukup signifikan sangat diharapkan terjadi disini sehingga meskipun sisipan itu amat kecil, namun membuka peluang jalan ke arah keraguan pembaca dan pendengar hikayat. Selanjutnya, akibat dari keragu-raguan itu akan timbul rentetan pertanyaan kritis dan radikal, misalnya apakah Maleem Diwa ini memeluk agama Hindu atau Islam? Dan sebagainya.

Akan tetapi, unsur islamisasi yang dimasukkan ke dalam Hikayat Maleem Diwa belum cukup kokoh. Disamping karena Maleem Diwa masih merupakan tokoh dari agama Hindu, eksistensinya pun tidak begitu jelas di mata masyarakat. Maka, hikayat lain masih harus diciptakan untuk membawa posisi Islam dan kebudayaannya dalam gambaran yang lebih tinggi daripada posisi Hindu. Dengan pertimbangan semacam itulah timbul suatu inovasi dan kreativitas seni bercerita dan menulis dalam hikayat. Harapannya, variasi hikayat dalam kehidupan beragama akan menggiring anggota masyarakat sebagai pembaca dan pendengarnya bisa menangkap pesan-pesan keislaman secara utuh.

Untuk memenuhi itu, muncullah Hikayat Raja Aceh Daripada Asal Turun Temurun sebagai kelanjutannya.[9] Hikayat ini mengambil posisi jalan kehidupan Maleem Diwa untuk peran tokoh Syah Mahmud dalam cerita hikayatnya sehingga ceritanya seakan-akan identik namun pada hakikatnya berbeda. Bila tokoh Maleem Diwa merupakan tokoh fiktif maka tokoh Syah Mahmud dalam Hikayat Daripada Asal Turun Temurun merupakan tokoh historis, benar-benar ada dan diakui oleh sejarah karena pernah hidup di daerah Aceh.[10] Perbedaan dalam dua hal ini cukup besar artinya bagi kemajuan syiar Islam yang diceritakan melalui Hikayat Maleem Diwa menuju kepada Hikayat Raja Aceh Daripada Asal Turun Temurun.

Sebagaimana telah diuraikan di atas, peran Hikayat Maleem Diwa masih dalam taraf memberikan titik keraguan asal untuk menuju ke arah pembuka jalan syiar Islam, selanjutnya oleh Hikayat Daripada Asal Turun Temurun selangkah lebih maju ke depan atau mungkin beberapa langkah meneruskan estafet perjalanannya. Syah Mahmud yang diceritakan dalam hikayat tersebut pada masa-masa permulaan sebagai tokoh yang masih menunjang Hinduisme lalu pada periode-periode seterusnya semakin dekat kepada Islam. Seperti telah diceritakan dalam pertemuannya dengan bidadari dari kayangan yang selendang terbangnya ia curi. Syah Mahmud membujuk bidadari itu dengan ucapannya yang mengandung nilai syiar Islam yang cukup mengesankan. Syah Mahmud berkata: “sabarlah tuan akan pekerjaan Allah Ta’ala karena Allah SWT menyatakan pertemuan kita yang azali”. Kata-kata itu sungguh dapat meredakan kegelisah putri kayangan itu dan juga sekaligus membuka jalan pernikahan mereka secara Islam.

Dari ungkapan hikayat tersebut memperlihatkan betapa kuatnya suatu perkataan yang didasarkan kepada keyakinan terhadap Islam. Selain dua hikayat tersebut masih banyak lagi cerita hikayat lainnya yang mendukung unsur-unsur islamisasi dan meruntuhkan keyakinan agama awal.

Memang pada esensinya hikayat harus mampu menggambarkan kelebihan konsep-konsep Islam dalam kehidupan sosial dan budaya. Inilah syarat penting untuk menimbulkan pembaharuan yang hendak dicapai, yaitu syiar Islam yang dapat meresap ke dalam kehidupan masyarakat.

Khatimah

Hikayat sebagai media syiar Islam atau islamisasi melalui hikayat mendapat posisi tersendiri dalam masyarakat Aceh. Baik hikayat sebagai karya sastra maupun media syiar Islam sama-sama menghendaki penghayatan dan pemahaman yang bisa meresap ke dalam kalbu manusia. Hikayat sebagaimana karya sastra pada umumnya memiliki kata-kata yang meninggalkan kesan-kesan dan perasaan, sama halnya seperti sendi-sendi agama Islam yang menuntut penghayatan dan keyakinan di dalam hati.

Pengaruh hikayat terkadang mencapai sesuatu yang jauh, mendalam dan mengkristal di nurani manusia. Sebagaimana Hikayat Prang Sabi mengambil posisi penting sebagai motif perlawanan rakyat Aceh menentang kolonial Belanda. Unsur-unsur agamis dimasukkan sebagai dasar ideologi perang Sabil dengan kemasan menarik dan dalam gaya bahasa atraktif sehingga menggugah kesadaran rakyat Aceh untuk melawan ketertindasan.

Berikut kutipan beberapa baris syair dalam Hikayat Prang sabi karya Teungku Syik Pante Kulu alih aksara Anzib 1964 halaman 17:

Wahe teungku donya ka akhe, agama tan le soe peuduli

Bandum ulama narit tan le, keu prang kaphe han peuduli

Gadoh akai dum habeh klo, tan le hiroe buet prang sabi

Melaenkan nyang na ngon izin po, Teungku Syik Tiro teeladan Nabi

Terjemahannya:

Wahai teungku dunia telah akhir, agama tak ada lagi yang peduli

Semua ulama tak lagi angkat bicara, untuk perang kafir tak mau peduli

Semua hilang akal dan sudah tuli, tak hiraukan lagi perang sabil

Melainkan dengan izin Rabbi, teungku Syik Tiro teladan nabi.

Pengaruh hikayat ini selama perang berlangsung telah melahirkan banyak pejuang yang umumnya mereka tewas di medan-medan pertempuran. Diantaranya yang cukup terkenal ialah Teungku Imeum Lueng bata, Teungku Ibrahim Lamnga (suami pertama Cut Nyak Dhien, tewas 1878), Tuanku Hasyim Banta Muda, Panglima Polem Mahmud Cut Banta, Panglima Polem Ibrahim Muda Kuala, Teungku Chiek Di Tiro Muhammad Saman, Teungku Chiek Muhammad Amin Tiro, Teungku Panglima Nyak Makam (dipenggal kepalanya, 1896), Teungku Umar, Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, Teungku Fakinah dan masih banyak lagi.[11]

Hikayat Prang Sabi tersebut memperlihatkan sesungguhnya sejarah perjuangan rakyat Aceh tempo dulu telah mengabadikan bagaimana hikayat dan agama Islam telah mempunyai arti tersendiri dalam sejarah kehidupan rakyat Aceh. Kebanggaan mereka karenanya mengurat akar dalam-dalam dan memiliki catatan historis yang sangat panjang dan membanggakan.

[1] Sagimun M.D, Peninggalan Sejarah; Masa Perkembangan Agama-agama di Indonesia, CV. Haji Masagung, 1988, hal. 58.

[2] Peter Bellwood, Prasejarah Kepulauan Indo-Malaya (terj.), Gramedia, 2000.

[3] Hasanuddin Yusuf Adan, Politik dan Tamaddun Aceh, Adnin Foundation: Banda Aceh, 2006, hal. 146.

[4] Mohammad Said, Atjeh Sepanjang Abad, Diterbitkan oleh pengarang sendiri: Medan, 1961, hal. 18.

[5] Hasanuddin Yusuf Adan, Tamaddun dan Sejarah:Etnografi Kekerasan di Aceh, prismasophie Press: Jogyakarta, 2003, hal. 47.

[6] Ahar, Sastra dan Kritik Sastra, Horison, No. 3 Maret 1974.

[7] A. Abu Bakar Meulaboh, Prasarana Bahasa dan Kesusastraan Aceh, dalam buku petunjuk panitia PKA II, 1972.

[8] Budaja Djaja No. 80 Januari 1975.

[9] Teuku Iskandar, De Hikayat Atjeh, ‘S-Gravenhage Martinus Nijhoff, 1958, hal. 66-185.

[10] Zakaria Ahmad, Sekitar Kerajaan Aceh 1520-1675, Medan: Monora, 1972, hal. 141-142.

Morina Octavia, S.Pd.I *

* Alumnus TEN IAIN Ar-Raniry dan Siswa Dokarim 2007-2008

 

Tulisan ini telah dipublikasikan pada 14 Maret 2008 di Aceh Institute : http://web.acehinstitute.org/OPINI/DEBAT-SASTRA/224.html

Iklan

1 Komentar

Filed under Morina Oktavia

One response to “Hikayat Aceh Sebagai Media Syiar Islam

  1. enzus aceh

    tolong tulisannya ditambah seperti fungsi hikayat secara umum dan lain-lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s