Bagi (Calon Mahasiswa), Sekadar Info

Ditulis oleh: Rizki Alfi Syahril

Banyak siswa daerah yang datang ke Banda. Sambil menunggu berita kelulusan UN SMA di sekolah asalnya, mereka ke Banda Aceh untuk mengikuti bimbingan intensif. Mereka tinggal di rumah kos, atau di tempat saudara. Dan hampir setiap harinya rela belajar selama beberapa jam di bimbingan. Bimbingan belajar yang ada berusaha mempromosikan paket intensif dengan berbagai variasi, mulai dari bagaimana kondisi kelasnya, lama belajar, para pengajar, serta tarif mengikuti bimbingan.

Kebanyakan yang mengikuti bimbingan adalah orang-orang yang bergiat untuk mampu menembus jurusan yang memiliki tingkat kelulusan yang tinggi. Dan juga rata-rata yang mengikuti bimbingan adalah orang-orang mampu atau berada di daerah asalnya. Karena biaya bimbingan lumayan mahal.
Euforia itu berlangsung lebih kurang sebulan sebelum penerimaan mahasiswa baru di universitas dimulai. Bersamaan dengan euforia Piala Eropa yang juga menjalar ke Aceh. Bimbingan juga mengadakan try out atau uji prestasi untuk mengukur kesiapan siswa bila menghadapi seleksi penerimaan mahasiswa baru nantinya dan juga mengevaluasi tingkat keterpahaman siswa terhadap materi yang telah diajarkan.
Bagi siswa dari daerah, bimbingan adalah salah satu upaya demi tercapainya cita-cita. Tapi sayangnya, di sini dapat kita lihat adanya ketidakruntutan materi yang diajarkan oleh guru selama 3 tahun di SMA dengan yang diajarkan para tentor di bimbingan. Soal seleksi penerimaan mahasiswa baru di universitas agak jauh berbeda dengan yang diajarkan guru di siswa. Sehingga banyak siswa yang merasa apa yang diajarkan guru sia-sia. Cara cepat, atau carcep sangat populer di bimbingan. Bagaimana menyiasati soal dan dengan cepat menemukan jawaban yang ada, tanpa perlu menghabiskan terlalu banyak waktu adalah alasan mengapa cara-cara cepat cukup populer.

Bimbingan juga menyediakan jasa konsultasi bagi siswa, sehingga bila ada siswa yang masih ragu untuk menentukan pilihannya atau malah belum tahu mau melanjutkan studi di mana, dapat berkonsultasi dan bertanya pada para tentor di bimbingan itu. Sehingga siswa dapat mengetahui jurusan apa yang favorit di universitas itu, mengetahui banyaknya peminat dan jumlah siswa yang diterima tiap tahun di tempat itu, dan juga prospeknya.

Sekarang, pertanyaan filosofi ketika siswa ingin masuk ke perguruan tinggi telah berputar arah. Dahulu, ketika pendidikan adalah upaya untuk mencerdaskan individu, mendidik manusia menjadi lebih manusia, merubah akhlak/etika ke arah yang lebih baik, dsb. Sekarang pertanyaan filosofis itu bergeser, menjadi “ mau jadi apa saya nanti selepas saya kuliah?”

Pertanyaan ini tidak hanya diajukan oleh siswa. Tapi juga dari orang tua. Pendidikan sekarang telah menjadi ajang pemodalan. Orang tua merasa rugi bila anaknya tak selesai kuliah, tak mendapatkan pekerjaan yang sesuai, atau membuat malu nama keluarga. Orientasinya adalah perhitungan ekonomi.

Makanya sekarang, orang-orang mulai berhitung dan memprediksikan jurusan-jurusan apa saja yang prospek ke depannya cerah. Efeknya apa ? Banyak mahasiswa yang tidak ikhlas ketika berkuliah, karena bukan atas dasar kemauannya sendiri, dan juga kemudian terlihat pada adanya jurusan yang favorit dan yang tidak favorit.

Analisis untung-rugi ini bukan tak boleh. Karena pada dasarnya kita semua perlu merencananakan rencana dan tujuan yang ingin dicapai di masa yang akan datang. Tapi kemudian, dalam penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, misalnya ketika dalam aktivitas kuliah, siswa menjadi kehilangan orientasi.

Pendidikan yang dulunya berorientasi pada perubahan prilaku (menghumanisasi) malah menjadi dehumanisasi. Interaksi dosen dengan mahasiswa sebatas layaknya antara penjual dan pembeli (tapi tidak untuk semua). Proses sosialisasi menjadi tak ada. Pertemanan sebatas bagaimana bila saya berteman dengannya akan membuat saya untung. Bagimana bila saya mendapat masalah, dan banyak kawan saya yang dapat membantu saya menyelesaikan masalah saya. Bagaimana saya dapat kuliah dan selesai pada masa studi yang telah dibebankan, dan mendapat nilai yang bagus. Proses mencari nilai juga ada yang tidak fair. Sehingga konflik horizontal sering terjadi. Semua serba materi.

Shock-culture juga terjadi pada mahasiswa yang berasal dari daerah dan belum pernah sebelumnya pergi ke Banda. Melihat keindahan dan kenikmatan kota besar yang memperdaya, membuat banyak dari mereka yang lupa dengan tujuan awal mengapa mereka ke Banda. Awalnya berpikir, aku tidak mau terlihat seperti orang kampung yang datang ke kota. Jadi, aku harus mulai make over diriku. Mulai bergaya, membeli kendaraan pribadi, mengubah cara berbicara, pokoknya hal yang membuat aku tak terlihat kampungan. Makanya tak heran bila kemudian timbul gap yang besar antara pendatang dan orang asli. Pendatang lebih bergaya kota daripada orang kota sendiri. Ada yang kemudian memilih untuk mencari pekerjaan daripada berkuliah, dan ada juga yang kena cambuk oleh WH !

Organisasi mahasiswa mulai kehilangan kader. Kader yang ada kebanyakan tak memiliki visi ke depan yang baik, dan cuma menjalankan program kerja yang telah diatur oleh pengurus lama. Alasannya : kami menghormati senior. Taat dan tunduk pada senior. Aksi demo mahasiswa semakin hilang, jarang, dan juga kehilangan orientasi Alasannya sederhana : mahasiswa telah berpolitik praktis. Jadi sulit cari yang masih independen. Yang memihak pada rakyat. Yang mengaku peduli pada rakyat juga rupanya ada yang menunggangi di setiap aksi demonya. Sehingga tak ada lagi yang benar murni inisiatif dan ide kritis dari mahasiswa. Sesama organisasi saling menjelekkan, menjatuhkan, saling sikut menyikut dalam perebutan kekuasaan dan massa di universitas. Hasilnya : generasi birokrat baru yang mencari kenikmatan perut dalam organisasi. Bukan bagaimana kita memberi pada organisasi, tapi pada bagaimana aku dapat menikmati dari apa yang ada. Kiri atau kanan bukan alasan atau pilihan. Siapa kita ? Itu tujuan.
Dan hal di dalam kampus yang nyatalah yang belum diketahui oleh calon mahasiswa !

Oleh : Rizki Alfi Syahril Hamid. Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsyiah dan Sekolah Menulis Dokarim

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Rizki Alfi Syahril

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s