Epigram (bukan) untuk Fozan Santa

Ditulis oleh: Akmal Mohd. Roem

[Tulisan ini menyikapi beberapa polemik yang sempat bergulir di kolom budaya harian Serambi Indonesia. Tulisan ini telah dikirim ke Editor Serambi Indonesia, tapi belum dimuat sampai tanggal 28 September 2008.]Satu lagi kata epigram mencuat di kolom ini. Mungkin banyak yang tidak tahu arti apa itu epigram. Dari mana asal muasal kata tersebut. Hari ini saya menulis sedikit karena tergeletik oleh tulisan tuan Herman RN bertajuk “Epigram untuk Fozan Santa” (Serambi Indonesia, 24/08/2008).

Tulisan yang ditulis sedemikian bagus oleh tuan Herman tersebut seperti melumur cat aspal (peulakein) ke wajah segar para sarjana dan ahli sastra seluruh Aceh bahkan dunia Melayu antar bangsa yang baru-baru ini tengah sibuk mencari titik temu dengan kesusastraan dunia. Sangat disayangkan, mereka jatuh lagi dari kursi akademik sastra ke titik nadir pemahaman atas karya-karya sastra. Apalagi karya sastra dunia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, dan juga sebaliknya karya sastra Aceh-Melayu yang dialihbahasakan ke bahasa-bahasa dunia. Kumpulan ahli sastra yang duduk manis di barisan terdepan panggung kesusatraan, pada gilirannya telah dipaksa untuk memikirkan kembali apa maksud baik–jika ada–dalam “epigram” tuan seminggu lalu dalam koran ini.

Sungguh sangat tepat saat tuan berkata bahwa perdamaian yang diraih rakyat Aceh kini adalah hasil kesepakatan berlandas cinta di Helsinki sana. Barangkali MoU antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka pada 15 Agustus 2005 lampau boleh dibilang sebentuk “love letters” bagi para pihak untuk saling mengasihi dan menepis emosi. Atau juga sebagai bentuk pengorbanan untuk damai selamanya, demi masa depan generasi tanpa masalah dengan sejarahnya. Dan berharap tak ada yang meremukkannya kembali dengan luka dan khianat. Ya, demikian cinta.

Demikian pula kata dalam bait-bait dari sejumlah Soneta Cinta Pablo Neruda yang telah begitu indah –kita patut kasih tabik– karena telah diterjemahkan oleh Fozan Santa yang tak putus khidmat sebagai Rektor Sekolah Dokarim. Sejauh apa yang saya baca, jarang beliau suka menerjemahkan sebuah karya sastra, kecuali satu-dua cerpen pengarang Ukraina, Oles Gonchar, sekitar 1999, dan tentu ada ihwal yang lantas mendorongnya menerbitkan Soneta terjemahan kali ini kepada publik Aceh. Lantas apa yang salah dengan barisan kata Soneta Neruda ke 49; tak ada yang mampu membendung sungai di tanganmu/ di matamu dan di lelapmu, kekasihku/ kau adalah getar waktu yang bergerak/ diantara cahaya tegak lurus dan langit yang gelap. Bukankah sangat terang makna serta siapapun bisa setuju apalagi ahli sastra, betapa dahsyat cinta itu, damai itu. Rasakan bedanya.

Mari kita kembali ke epigram. Kata Epigram yang berakar dari kesusastraan Yunani kuno; epi-gramma dan dalam bahasa Jepang juga disebut meimonku atau suntetsu atau lemma dalam istilah Latin biasa diartikan sebagai peribahasa atau prosa pendek yang kadang bernuansa humor. Memang tulisan tuan itu pendek tapi jelas bukan prosa apalagi sampai disebut essay. Dan humor? Pasti tuan tak sedang bergurau bukan? Saya tahu anda sekedar mencoba untuk serius tapi gagap.

Dalam tulisan ini saya hanya sedikit ingin menjelaskan perihal pentingnya sastra terjemahan. Tapi sayang, dengan menafikan peran para penerjemah sastra yang telah bersusah payah membuka kamus, membaca pikiran dan lingkungan pengarang, dan menghadirkan sajian khas dunia pengarang ke dalam alam sastra Melayu. Ini boleh disebut klise-genital intelektual kita.

Dengan malu-malu tuan mencoba untuk menyalahkan Fozan yang katanya sudah berlaku dusta, curang dan cemar terhadap karya cinta Pablo Neruda, seorang sastrawan Chile yang melahirkan banyak sajak-sajak cinta di Pulau di Agentina semasa pengasingan sekitar akhir 1940-an. Soneta-soneta yang mestinya adalah terjemahan asli dari versi Inggris dalam kenyataannya telah ‘dipaksa’ untuk menjadi karya-karya puisi si penerjemah nakal saat diterbitkan dalam koran ini. Penerjemah telah berkuasa semena-mena atas karya seorang penyair peraih Nobel Sastra tersebut, dengan mengklaim sebagai karyanya. Sekilas terlihat memang dalam tata letak kolom puisi, orang menyangka ada sebuah puisi Fozan Santa berjudul “Soneta-Soneta Pablo Neruda” yang barangkali terinspirasi dari sosok dan perihidup penyair tambun dari Amerika Latin itu. Terus ada apa hingga begitu ribut kita memasalahkan apa yang secara umum sudah dimaklumi?

Mari kita simak. Paling tidak, sepakat dengan Tri Budhi Sastrio (2008), Dosen Sastra Universitas Dr. Soetomo Surabaya, berdasarkan teorinya, ada empat jenis kekaburan makna yang bukan saja menjadi batu sandungan atau hambatan bagi para penerjemah, tetapi juga menjadi batu sandungan dan hambatan bagi para pembaca yang kebetulan berkesempatan untuk membaca teks aslinya. Keempat jenis kekaburan tersebut adalah kekaburan referensial; kekaburan makna; kekaburan spesifikasi; dan kekaburan disjungsi. Dan dalam konteks soneta-soneta Neruda terjemahan Fozan Santa, saya cuma ingin menunjukkan hanya kekaburan makna. Sebab tak cukup tempat di ruang ini untuk mengurai bagian-bagian yang tiga kekaburan.

Kekaburan makna disana muncul karena adanya penafsiran yang tidak pasti terhadap makna kata atau frasa “puisi-puisi karya Fozan Santa”. Pernyataan ini dapat dimaknakan sebagai, pertama, puisi yang ditulis oleh Fozan; kedua puisi yang ditulis orang lain tetapi telah diterjemahkan/disadur oleh Fozan. Nah, dalam makna kedua ini menjadi problematik menurut tuan Herman yang sarjana sastra sampai-sampai harus menyebut dengan enteng sepatah kata paling mengerikan dalam dunia literer; plagiat. Sebuah kesimpulan dangkal dan terburu-buru dalam proses memaknai karya terjemahan. Plagiarisme. Kata yang juga pernah disematkan pada penyair pelopor angkatan 45, Chairil Anwar, karena menjiplak puisi karya Archibald MacLeish (1948) “Dead Young Soldier” menjadi “Krawang-Bekasi” dan juga Hamka dengan novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” yang dianggap salinan dari novel pengarang Mesir Manfaluthi (1962) bertajuk “Magdalena”.

Kemudian HB Jassin, kritikus sastra terkemuka kita, menangkis pandangan itu.. Paus Sastra membela habis-habisan dua pengarang ternama dalam kesusastraan Melayu Sumatera diatas dengan menjelaskan bahwa karya Chairil adalah terjemahan kreatif dari puisi MacLeish dan novel Hamka bukan fotocopy karya Manfaluthi, kecuali “jika pengaruh kita anggap jiplakan”. Barangkali demikian juga yang ingin saya katakan atas apa yang telah berpayah-payah diterjemahkan Fozan dengan sepenuh cinta. Bahkan lebih jelas lagi; dalam catatan kaki Fozan sudah menerakan sumber jelas. Soneta-soneta itu diterjemahkan dari versi Inggris lengkap dengan tahun dan penerbitnya. Jika begitu semakin terang pemahaman kita, karena proses mengalihbahsakan sepatah dua sastra Inggris ke ranah sastra Melayu yang memiliki kompleks semantik serta puitika masing-masing maka ini juga ikhtiar untuk menjadi kreatif dalam sastra Melayu. Dan bicara kreatif pasti menyangkut cipta “karya baru” walau berdasarkan karya terjemahan. Ada benarlah “puisi-puisi karya Fozan Santa” yang tercetak kecil dalam kolom budaya koran ini selama sumber resmi dicantumkan sehingga siapa hendak bisa mengakses secara langsung ke sana.

Plagiarisme itu penggelapan atau kasarnya selundup, tuan Herman. Untuk itu kata ‘plagiat’ sebaiknya tak usah diungkit-ungkit lagi ke permukaan, sebab terlalu banyak aspek dalam dunia akademis, kesenian dan kebudayaan kita hari ini dan disini sudah sekian lama tertindih tradisi penggelapan. Tapi kita merasa fine-fine saja, wajar, biasa, tak ada khawatir telah –seperti kata tuan– “menghancurkan karya orang lain dan berdosa”.

Darimana kita tahu? Setelah disiarkan ke masyarakat dalam segala bentuk media; buku, koran, kaset, CD, internet, semua yang telah mengalami penggelapan mengalir sampai jauh. Tapi kita fine-fine saja tanpa pertanggungjawaban kreatif atas apa yang telah diterima masyarakat. Lantas mari kira cari jawaban dari pertanyaan; mengapa jarang sekali misalnya sebuah skripsi, tesis atau desertasi yang ilmiah itu bisa dengan mudah diakses khalayak?

Hemat saya, tradisi baru untuk keluar dari kebudayaan penggelapan tak bisa lain adalah meramaikan karya terjemahan, saduran, inspired by, atau apalah namanya yang sering membuat sarjana sastra kita pusing dipenjara istilah rumit, sedangkan karya sastra bermutu tak juga pernah lahir setahun satu di Aceh. Yang penting terang sumbernya, tak ada protes. Disisi lain, media massa kita akan semakin ramai pula dengan nuansa kreatif. Ini jelas akan menjadi kekayaan batin masyarakat. Melalui koran, lewat rubrik budaya, bahasa kemudian menjadi milik massa. Juga kaset, VCD, bahasa direproduksi untuk menunjukkan “bangsa”. Sebaliknya, jika media massa kering dan hampa dari kekayaan bahasa yang memberi kesegaran dan optimisme, kehidupan masyarakat pun cuma tersisa bahasa-bahasa kosong penuh slogan yang mematikan semangat cipta karya. Boleh dikata, sastra terjemahan layaknya suplemen untuk tradisi literer Melayu-Aceh kita hari ini. Seperti Neruda bagi kita dalam Soneta 52; kau bernyanyi, dan suaramu mengupas kulit ari/ biji-biji hari, nyanyianmu bersama matahari dan langit/ pohon-pohon cemara berkata dengan lidah hijaunya:/ burung-burung musim dingin telah berkicau!

Yang terhormat tuan Herman, inilah yang saya katakan diatas: terus ada apa hingga begitu ribut pula kita mempermasalhakan apa yang secara umum sudah dimaklumi? Atau “epigram” tuan hanya untuk melucu saja sebab sudah lama kita tak boleh ketawa dalam hidup yang banal? Cobalah menulis sebuah epithaf dan jangan pernah main-main dengan epidemi. Namun tuan dengan baik hati telah memperlihatkan bahwa tak ada yang bebas dari kritik untuk membangun peradaban. Watak demokrasi –sama kita paham– itu tak hanya mau mengkritik tapi juga harus sedia dikritik. Asal tak cuma mau sebatas tukang kritik. Akhirnya, sekali senggang datanglah ke tempat Mursyid di Rangkang Kahfi sana lalu minta maaf sebab tuan telah mengamalkan ujaran fantastik Zarathutra milik si gila Neitzche; “Sanggahlah aku maka kau akan kenal siapa aku!” **

Akmal M. Roem.

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah FKIP Unsyiah. Bekerja di Episentrum Ulee Kareung.

Iklan

3 Komentar

Filed under Akmal Mohd. Roem

3 responses to “Epigram (bukan) untuk Fozan Santa

  1. lidahtinta

    “Lihatlah apa yang kusanggah, maka kau akan kenal siapa aku,” by RN–

    hehehehe…
    mantap Mal, teruskan… memang sudah saatnya membawa kebiasaan ‘nahi meseng’ ke atas kertas.
    selamat!

  2. bukan ‘ Dead Young Soldier’ seingat saya, tapi ‘ The Young Dead Soldiers Do Not Speak’. Mungkin kita bicara tentang puisi yang sama, milik Archibald MacLeish 🙂

    salam

  3. Akan kucoba terus untuk menjadi lebih baik. namun, aku masih hati-hati. aku takut terlalu liar. aku juga tidak mau dikejar oleh kecemasan karena menulis untuk orang tapi data tidak kuat.

    buat grey;
    makasih atas pembenarannya. kita memang sedang berbicara masalah itu.

    akmal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s