Mati Lampu

Ditulis oleh: Raisa Kamila

Saat Nuansa mematikan lampu kamarnya, dia tiba- tiba teringat pada malam- malam yang gelap dan mencekam di kampungnya dulu. Nyala lilin yang redup di kamarnya, cerita- cerita tentang orang yang disekap dan dibawa ke gunung atau rumah jagal, keduanya tidak kurang menyedihkan. Nuansa kemudian merasa menjadi bagian yang terpisah dengan keluarganya, jarak dan juga perasaannya. Tapi dia kemudian menarik selimut tebal dan bergegas tidur.AYAHNYA pernah mengatakan, mati lampu bukanlah istilah yang tepat. Karena yang mati sebenarnya bukan cuma lampu, tapi juga televisi, kulkas, radio, dan pendingin ruangan. Tapi Nuansa dan Yasmin tidak suka dengan istilah yang biasa digunakan ayah dan ibunya: pemadaman bergilir. Yasmin, adik perempuannya mengatakan, yang dipadamkan kadang tidak bergilir! Hari ini kampung kita, besok kampung kita lagi, besoknya lagi kampung kita lagi. Apanya yang bergilir?

Nuansa dan Yasmin tidak terlalu suka dengan mati lampu, kendatipun mereka tidak terlalu benci. Mereka bukan anak- anak yang banyak menghabiskan waktu di depan mainan elektronik, juga di depan televisi. Mereka hanya kesal karena mati lampu bagi mereka, adalah pertanda ada kejadian buruk yang sedang berlangsung.

Ibu Nuansa dan Yasmin bukan tipikal ibu rumah tangga yang banyak bicara, banyak mengatur dan suka mencampuri urusan orang. Apakah itu alasannya mereka tinggal di kawasan yang terpencil dari keramaian penduduk kampung? Atau apakah karena kawasan tempat tinggal mereka itu, ibunya menjadi tidak banyak bicara? Keduanya memungkinkan.

Sementara ayah Nuansa dan Yasmin adalah bukan bapak kantoran. Yasmin kadang kebingungan menyebut apa pekerjaan sebenarnya ayahnya. Ayahnya sarjana hukum, memiliki firma, tapi juga mengajar di universitas, mengelola lembaga swadaya masyarakat dan menjadi penulis tetap di salah satu majalah kota. Nuansa menyarankan, lebih baik menyebutnya sarjana hukum atau pegawai negeri sipil. Pekerjaan yang aneh- aneh seperti ‘pemilik firma’ atau ‘pengelola lembaga swadaya masyarakat’ biasanya kurang dipahami anak seumuran mereka lainnya. Pekerjaan yang aneh kerap dihubungkan dengan kejadian yang buruk.

Saudara- saudari dari Ibu Nuansa dan Yasmin tinggal di luar kota yang aman dan tidak pernah mati lampu. Mereka sebenarnya tidak tinggal di sana, tapi lebih tepatnya, melarikan diri ke sana, kata Nuansa. Tidak hanya itu, mereka juga sering membujuk Ibu Nuansa dan Yasmin untuk ikut pindah ke tempat yang lebih aman. Tidak di kampung yang terus- terusan mati lampu.

Nuansa dan Yasmin suka mencuri dengar obrolan ibu dan saudaranya yang datang dari luar kota. Yasmin diam- diam bangga mendengar ketakutan dari saudara ibunya. Dan Nuansa akan terkikik sambil berbisik pada Yasmin, “Belum tahu dia bagaimana kalau mati lampu!”

Keduanya akan tertawa- tawa senang, melihat jam dinding di kamar yang semakin bergerak ke arah jam malam, semua orang di rumah dan sudah tahu listrik akan dipadamkan. Tentu saja saudara jauh dari ibunya akan panik melihat lampu tiba- tiba dipadamkan, sementara itu Yasmin dan Nuansa berjingkat- jingkat ke lemari untuk mengambil lilin dan korek api, mengatakan pada saudara ibunya, “Ini sudah biasa terjadi,” dan setelah itu biasanya akan ada suara senjata yang saling menyahuti, Yasmin semakin suka dan Nuansa seperti menikmati kengerian tiap kali mati lampu di malam hari.

ATAS alasan ‘nasib kejiwaan anak- anak’, saudara ibu yang lainnya datang untuk mengajak mereka pindah ke tempat yang lebih layak. Oke, tidak harus keluar dari kota ini, tapi bukankah lebih baik tinggal di kawasan yang banyak tetangga? Nuansa dan Yasmin tidak merasa ada yang salah dengan ‘nasib kejiwaan’ mereka. Mereka justru bangga karena bisa pergi sekolah tiap hari meskipun ada orang yang dikabarkan hilang atau mati di koran pagi. Hanya hari- hari tertentu saja mereka tidak bisa sekolah, kadang karena ada penurunan massa ke jalan raya, kadang karena sedang kontak senjata, namun lebih sering karena alasan yang belum bisa mereka cerna.

Ibu Nuansa dan Yasmin justru melawan saudaranya yang megataskan ‘nasib kejiwaan anak- anak’ sebagai alasan pindah. Justru itu dampak kalau mereka pindah! Kata Ibu dengan marah.

Yasmin dan Nuansa tidak mengambil pusing masalah ‘nasib kejiwaan’ mereka. Keduanya hanya bingung membayangkan betapa bodohnya kalau mereka pindah ke luar kota dan berbicara tentang ‘cowok yang kutaksir minggu ini,’ atau tentang ‘ulangan matematika yang sulit’, atau yang paling tolol tentang ‘terlambat pergi sekolah karena macet’. Ya Tuhan, kata Nuansa dengan maksud yang tidak jelas, antara konyol dan iba.

Nuansa dan Yasmin bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah di tengah kota yang sederajat dengan sekolah dasar di luar kota. Madrasah tempat mereka belajar adalah tempat anak- anak seumuran mereka disodorkan proposal meminta bantuan keuangan dari staf pengajar. Reputasi sekolah yang tinggi kerap diabaikan staf pengajar di Madrasah yang suka menitipkan proposal itu ke orangtua teman- teman Nuansa. Seorang teman laki- laki Yasmin pernah mengeluh karena dalam sehari dia bisa menerima dua proposal sekaligus, sementara Yasmin akan kebingungan, dia juga menerima dua proposal, tapi apakah dia harus marah atau senang? Tasnya muat banyak dan Yasmin sudah tahu, proposal itu akan tergeletak tanpa takdir selanjutnya di atas meja kerja ayahnya.

Selain itu, di Madrasah Nuansa dan Yasmin, koran pagi adalah bacaan umum di sekolahan. Biasanya ada sekelompok murid yang membaca koran duluan di rumah, dan melihat orangtua siapa yang nama atau fotonya masuk di sana. Nuansa dan Yasmin biasanya cuma menjadi pendengar yang baik saat beberapa anak mengejek anak lain yang orangtua dijadikan teman tokoh kartun di koran pagi. Semuanya normal dan menyenangkan bagi Nuansa dan Yasmin. Sayangnya mereka tidak terpengaruh untuk tertawa atau sedih saat beberapa anak memanggil dengan nama ayah atau ibu mereka. Samasekali tidak lucu dan tidak menyakitkan hati, kata Nuansa.

Yasmin bertanya pada Ibu, “Kita akan pindah?” dan Ibunya menjawab pendek dan rancu, “Mungkin.”

“Mungkin kemana?” tanya Nuansa.

“Tetap di sini, mungkin cuma pindah ke rumah lain yang lebih dekat dengan sekolah kalian,”

Yasmin dan Nuansa menjadi lega.

“Terus siapa yang tinggal di sini?” tanya Yasmin lagi.

“Aku tidak tahu,” kata Ibunya dan kemudian masuk ke kamar tidur dan menguncinya.

RENCANA pindah itu terbengkalai karena saudara ibu Nuansa dan Yasmin diculik dan dibawa ke gunung saat berangkat dengan jalan darat ke luar kota. Nuansa berdecak prihatin dan Yasmin sedikit kecewa karena saudara ibunya mengabaikan pesan keramat dari mereka berdua: jangan pernah berangkat ke luar kota dengan jalur darat malam-malam apalagi kalau mati lampu!

Ayah Nuansa dan Yasmin tidak tahu harus berbuat apa. Malam itu mati lampu lagi. Kali ini bukan cuma lampu, televisi dan kulkas yang mati, tapi juga jaringan telepon diputuskan. Ibu kemudian menangis dan menyalahkan Ayah yang beberapa hari lalu ikut menurunkan massa ke masjid raya. Yasmin dan Nuansa bingung harus berbuat apa. Ayah, sambil menenangkan ibu yang panik menyuruh Nuansa dan Yasmin membungkus baju dan ‘barang yang perlu’, setelah itu menutup bantal guling dengan selimut tebal di kasur, seperti sosok anak kecil yang sedang tidur. Jangan lupa mengunci pintu kamar.

Apa yang terjadi? Tanya Yasmin sambil memilih- milih ‘barang yang perlu’ untuk dibungkus. Nuansa meninju pelan lengan Yasmin dan mengatakan mereka harus bicara berbisik. Oke, oke, kata Yasmin dan mengulangi pertanyaannya, apa yang terjadi? Nuansa menatap mata Yasmin dalam- dalam dan mengatakan, “Kejadian buruk selalu terjadi saat mati lampu.”

Yasmin baru akan protes dengan penjelasan Nuansa yang kedengarannya sok bijaksana dan tua.

Tapi ayah menyuruh mereka pergi ke garasi lewat pintu dapur, duduk dengan membungkukkan badan di jok belakang. Ibu sambil menangis juga menemani mereka ke garasi. Yasmin bertanya lagi, apa yang terjadi? Tapi Ibu –seperti biasa—tidak banyak bicara dan hanya mencoba menghentikan tangisnya.

Malam itu mereka tidur di rumah teman ayahnya di tengah kota. Paginya mereka kembali ke rumah dan tidak ada yang berubah, semua biasa saja. Yasmin kesal dan mengatakan pada dirinya sendiri, tidak ada apa- apa!

YASMIN tidak tahu bagaimana kabar Nuansa. Sejak menamatkan sekolah menengah pertama, keduanya disekolahkan ke luar kota oleh ayahnya. Dia mendengar kabar, Nuansa sekarang sedang di luar negri dan membangun jaringan pembebasan yang lain lagi. Kapan dia berangkat, pikir Yasmin sedikit gelisah, jangan- jangan dia pun tidak memberi tahu ayah dan ibu yang semakin tua dan hanya tinggal berdua di rumah lama mereka yang sekarang sudah jarang mati lampu.

Hari ini Yasmin akan memberikan pengantar untuk kedatangan seorang Syekh dari Timur Tengah. Dengan kerudung panjang yang seolah menutupi pikiran laki- laki tentang tubuhnya, Yasmin semakin resah memikirkan Nuansa. Dia rindu mendengar suara senjata saat mati lampu, dan membayangkan Nuansa sedang melakukan itu, dia sedih dan mengucapkan na’udzubillah.

Helvetica, 2 November 2008.

Raisa Kamila lahir di Aceh, Mei 1991. Sekarang sedang meninggalkan satu tahun ajaran di SMA Negeri 1 Banda Aceh untuk program pertukaran pelajar AFS ke Switzerland.

Iklan

4 Komentar

Filed under Raisa Kamila

4 responses to “Mati Lampu

  1. nun

    tak terbayangkan, di luar pemahaman kita tokoh-tokoh di dalam cerita ini, inilah yang disebut mengguncang yang umum. ayo buat lagi sebanyak mungkin tokoh-tokoh kayak gini, sastra indonesia miskin sekali tokoh yang kuat. oya emang penulis aceh, sama dengan penulis indonesia?

  2. Siwok Salda (azier)

    iya, mantap nyo, dan bereh that. hayeu..

  3. raisa

    trims, semoga kedepan Raisa bisa nulis lebih bagus 🙂

  4. tarmizi

    nyan!!!!!!!! meunyo ka mate lampu, k laen cerita jih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s