Sekolah

Ditulis oleh: Mifta Sugesty

“Aku bukan hanya ingin menjadi gipsi, namun aku pasti akan menjadi seorang gipsi!”, Elyse, 15 tahun, mengatakan itu dengan suara bulat ketika Pak Mody, guru mata pelajaran Menulis Kreatif, menanyakan kami pertanyaan klasik mengenai cita – cita. Saat itu aku dengan otomatis merespon, “Oh yeah? Really?”. Dan Elyse hanya membalas,”OH YEAH! I’m positive! A gypsi with high education experiences.”

Sudah 10 tahun aku disekolahkan di Indonesia, namun belum ada satupun teman sekelasku yang mengatakan ingin jadi gipsi. Siapapun yang membaca ini boleh mengajukan pertanyaan mengenai cita – cita kepada seluruh anak usia sekolah di Indonesia, minimal di Aceh. Bisa ditebak, jawaban mereka nyaris seragam; dokter, arsitek, polisi, bahkan kebanyakan yang tidak jauh – jauh ingin jadi politisi. Atau jika anda menanyakannya kepada anak korban konflik yang bapaknya dibunuh, maka jawaban yang keluar dari mulutnya mungkin adalah membalas dendam kepada orang yang membunuh bapaknya.

Awal September di penghujung musim panas tahun 2008, aku menjadi siswa pertukaran pelajar AFS-YES dan diberangkatkan ke New York, Amerika selama setahun hingga akhirnya menyicipi pendidikan ala orang Barat.

Sekolah disini sangat menyenangkan bagiku. Inilah, untuk pertama kalinya selama aku hidup, aku merasa sekolah tidak terlalu buruk. Seperti mendapat hujan emas dari langit, aku bisa memilih mata pelajaran yang aku minati disamping mata pelajaran wajib, tidak ada seragam sekolah, dan peraturan tidak dibuat seperti dipenjara. Orang – orang bisa menjadi dirinya sendiri. Jika kamu menyukai seni maka kamu bebas ke sekolah dengan baju belepotan cat warna – warni, dan jika kamu menyukai olahraga maka kamu bisa memakai seragam Football didalam kelas.

Setiap minggunya aku hanya belajar 8 mata pelajaran, bukannya 13 seperti biasa. Maka aku memilih pelajaran Sejarah Amerika, Menulis Kreatif, Statistik, Bahasa Spanyol, Desain dan Komputer Graphik, Gym, Biologi, dan pelajaran Konflik dan Damai. Aku cukup bahagia karena akhirnya bisa mempelajari apa yang benar – benar aku gemari.

Apa yang membuat militansiku selalu naik adalah keadaan kelasnya. Ambil contoh dikelas Menulis Kreatif, Pak Mody menempel poster raksasa The Beatles disamping kanan papan tulis diikuti poster Andy Warhol. Ada juga poster film Hotel Rwanda disamping poster Karl Marx di dinding belakang kelas. Sebagai pelengkap, dibelakang pintu ada papan target dengan tulisan “I AM UGLY, SO WHAT!” ditengahnya untuk dibidik. Selama dikelas, tidak pernah ada percakapan panjang mengenai tekhnik menulis yang baik, menghapal nama – nama jenis tulisan, ataupun menyalin catatan sebanyak tujuh lembar dari buku cetak. Yang ada selalu diskusi hangat mengenai referensi dan topik – topik seru yang berakhir dengan fikiran penuh untuk dituangkan kedalam bentuk tulisan. Setiap pertemuan, Pak Mody yang akan memutuskan bentuk tulisan apa yang akan kami tulis, baik itu essay, puisi, obituari, catatan perjalanan, ataupun tulisan ringan seperti menulis di blog pribadi.

Seperti hari ini, ketika kami membicarakan cita – cita dan Elyse menjawab ingin jadi gipsi. Aku kembali tertegun. Coba saja ada satu orang anak di Aceh yang bilang pada gurunya disana bahwa ia ingin jadi gipsi atau minimal ingin jadi pelukis, pasti yang ada malah diprotes atau minimal ditertawai dan diberi anjuran untuk memilih profesi lain yang dipercayai memiliki derajat lebih, seperti dokter atau presiden. Sudah terlalu lama rasanya kami, pelajar di Indonesia, terbebani dengan hal – hal kaku ditambah keputusan – keputusan pemerintah yang tidak berpihak dan membelenggu. Seperti kurikulum yang berubah – ubah, nilai dan mata pelajaran UN yang bertambah dari tahun ke tahun, dan jumlah bidang studi yang terbatas untuk dipilih (hanya Ilmu Alam dan Ilmu Sosial) membuat pelajar tidak punya pilihan lain untuk mempelajari apa yang tidak mereka minati. Belum lagi fasilitas sekolah, kualitas guru, dan anggaran pendidikan yang masih menjadi soal.

Apa yang dilakukan disekolah selama ini hanya duduk mendengarkan guru, menghapal puluhan rumus, menyalin berlembar – lembar catatan yang sudah ada di buku cetak, mengerjakan serangkaian ujian dan mengerjakan apa yang disuruh untuk mendapat nilai sembilan puluh di raport. Semuanya akhirnya dilakukan demi nilai, bukan esensi dari ilmu yang dipelajari sampai akhirnya banyak murid – murid mencontek dan berbuat curang saat ujian. Semua kegiatan dan peraturan yang pelajar lakukan berulang – ulang disekolah membuat fikiran murid – murid menjadi seperti terprogram. Buktinya adalah jawaban mereka yang seragam ketika ditanyai mengenai cita – cita seperti yang aku paparkan di paragraph awal. Parahnya, cara didik seperti ini bukan tidak mungkin membuat generasi selanjutnya menjadi generasi yang lebih berorientasi kepada nilai dan materi, bukan kepada apa yang sudah mereka sumbangkan untuk kepentingan orang banyak.

Ah, andai saja teman – teman di Aceh bisa merasakan betapa senangnya menjadi pelajar disini.

***

Jordan, gadis pendiam yang duduk disebelahku menjawab cita – citanya ingin membuka perusahaan kecil untuk memproduksi Pai Apel. Lalu, “What do you want to be when you grow up, Mita?”, Pak Mody akhirnya menanyakan pertanyaan yang sama seperti yang ia tanyakan ke Elyse, Jordan, dan teman – teman sekelas lain sebelumnya. Tidak sampai sedetik aku menjawab, “Aku ingin membuat sekolah yang menyenangkan.”

Iklan

6 Komentar

Filed under Mifta Sugesty

6 responses to “Sekolah

  1. kalau ke studi di Barat, maka aku studi Utara (Eropa).
    sistem kita beda, dan di sekolahku cenderung kayak di Indonesia: enggak ada pelajaran yang bisa dipilih. Tapi yang buat di sini juga punya nilai lebih adalah, kita bukan diajarin ‘nelan bulat- bulat isi buku’, tapi lebih ke belajar menganalisa bahan pelajaran.

    Selain itu, sekolahku penuh dengan lukisan Gustav Klimt, Picasso, Renoir, sampe pop-artnya Andy Warhol!

  2. zavista

    kecuali di indon (timur), semua sistem didik bagus! kalian ke barat semua padahal. eropa-amrik sama aja tuh; baik buat kesehatan! siapa nyusul ke latino amrikano? – bravo all grand graduate!

  3. nad

    di sini, beberapa mata kuliah bisa diambil bisa juga tidak. tapi kebanyakan mata kuliah itu wajib. karena sekarang, universitas manapun di indonesia, bertujuan untuk menciptakan tenaga kerja yang siap pakai. seandainya, aku bisa memilih untuk kuliah diluar negeri…

  4. ian

    wah… enak ya akhirnya bisa merasakan senang ama sekolah..

  5. Yah, memang tidak menyenangkan untuk mempelajari pelajaran yg tidak kita senangi.

  6. MuNa

    aku disini juga ngambil kelas ‘menulis kreatif’ ta,tapi beda jauh dengan kelas mu yang selalu diskusi mengenai referensi dan topik2 terbaru. aku di SC dan sekolah ku termasuk salah satu sekolah tua disini.hampir 90% dari murid2 nya berkulit gelap dan hampir semua-a berbudaya ‘gelap’. hampir ga ada kemungkinan untuk diskusi dengan mereka, juga ga jelas apa yang mereka omongin tiap hari,.mereka juga ga peduli dengan topik2 terbaru yang mungkin bisa didiskusikan, cuma zaman2 election dulu agak gempar dengan poster2 obama dan mcCain..hahah,, bosen juga!
    selamat ta!kembangkan terus bakat mu itu!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s