Atas Jilbab, Bawah ketat!

Ditulis oleh: Muhadzdzier M. Salda

Tulisan ini bukanlah untuk saling menuding siapa yang salah dan mana benar. Bisa juga salah saya karena menghambat ‘hak-hak asasi perempuan’, atau persamaan gender yang diperjuangkan sampai sekarang oleh orang-orang yang masih merasa terzalimi oleh kaum Adam.Mereka tidak mau lagi di tuntut, kalau perempuan itu harus selalu di bawah. Sekali-kali kan bisa ganti posisi dong. Bisa jadi seperti itu kata mereka.

Seorang teman perempuan, di kampus dimana tempat saya kuliah. Pernah suatu waktu saya menegur sambil bergurau tentang cara dia berpakaian yang tidak islami. Dia pun menjawab dengan serius perkataan saya. “aku berpakaian gini, kan tidak menggangu orang”. Berkata seperti itu, saya tersenyum sambil melihat tingkahnya dengan ujung mata.

Adalah ketika kita melihat fenomena cara perempuan dalam berpakaian yang sudah modern dan maju. Para pemangku adat akan berpendapat, bangsa kita sedang dalam krisis moral. Krisis moral kita yang memang sedang di uji, kata para ahli agama. Lalu ada lagi yang mengatakan bahwa kondisi bangsa kita sedang mencari gaya hidup ala orang-orang Barat. Biar cepat maju dengan mengikuti gaya, trend ala Eropa. Biar tidak dikatakan ketinggalan jaman. Tidak kuno. Atau kampungan habis.
Para anak-anak gadis kita pun dengan bangga mengatakan; biar gaul.

Sah-sah saja jika tingkah dan prilaku ABG (Aneuk Bineh Glee?) yang hidup di kota besar semacam Jakarta, Bandung atawa Medan. Memakai celana di atas lutut dan baju kaos oblong yang menonjolkan susu “SGM 2” nya. Ada juga yang meniru gaya grup band Nidji, dengan celana ketat yang ujung tumitnya mengecil. Celana pensil istilahnya. Lalu sibuklah para lelaki perjaka yang tak tau melampiaskan kemana.

Maka , apa yang terjadi jika gaya anak-anak ABG seperti itu hidup di nanggroe yang berstatus Syariat Islam seperti di Aceh. Atas jelbab, bawah ketat. Apa guna jika jelbab mereka pakai jika bentuk di bawah pusat seperti huruf V menonjol sangat.

Siapa yang dosa?

Sebagian kaum laki-laki akan berkata mubazir jika tidak melihat dan menghayati. Sebagai lelaki normal tentunya. Sebagian lagi ada juga yang mencaci maki sekedar membenci orang yang bermaksiat. Bagaimana tidak, jika kita lihat sepintas kadang ada rasa jijik bercampur benci juga rasanya. Bagian kepala mereka tutup dengan jelbab berbunga dan mahal (ada yang lilit ke leher lagi) . Sedang “barang” yang berharga mereka biarkan dilihat oleh siapa saja yang kebetulan atau sengaja melihat. Bulat dan ketat. Persis seperti buah labu air. Mirip sekali. Cuma bedanya buah labu enak dimakan, sedang ini berisi tinja. Alamak!

Saya pernah mendengar penuturan seorang ibu yang takut jika anaknya tidak ‘laku” kalau tidak memakai baju dan celana ketat. Ini terjadi di Aceh. Takut di katakan kuno dan kampungan sekali jika memakai baju ala muslimah sesuai ajaran islam. Dengan jelbab besar menutupi seluruh bagian dada. Sedang baju yang di pakai, tak sedikitpun menampakkan setiap lekuk dan bentuk tubuh. Ini yang tidak banyak dilakukan oleh ABG-ABG Aceh.

Siapa yang harus kita salahkan jika ini terjadi pada anak-anak gadis kita yang baru dan sedang akan menginjak usia remaja. Penjual baju di pasarkah?. Atau orang tua yang sengaja membiarkan anak-anak perempuannya ‘menjual barang’ ; “ini lo punya anak saya yang lebih bagus.”

Jika kita mengamati wanita yang masuk dalam kategori, atas jelbab bawah ketat. Maka boleh di kata cukup begitu banyak cewek-cewek di Aceh yang masuk dalam nominasi itu. Sedang trendy atawa ikut mode. Tidak usah jauh-jauh. Di kampus-kampus di Banda Aceh misalnya, cukup banyak wanita-wanita yang masuk dalam kategori ini. Seharusnya rektor bisa membuat semacam “SK” ; intinya tidak ada pelayanan bagi mahasiswi yang berpakaian seronoh. Aceh kan daerah modal dan model, kata Ketua DPR Aceh. Sedang mereka mengaku orang-orang intelektual dan pembaharu bangsa. Ya, pembaharu bangsa yang akan menjadi bangsa-bangsa yang bangsat tentunya. Orang luar tentu bisa menilai etika kita dalam sosial kehidupan bermasyarakat. Berpakaian adalah etika sopan dan santun dalam pergaulan. Ini penting untuk kita cermati bersama.

Ketika seorang perempuan memakai baju membungkus badan, dengan likuk dan goyang pinggul yang aduhai saat berjalan. Sedang ketika duduk terlihat merk celana dalam yang di pakai, menampakkan princunnya yang membuat para kaum lelaki menunjuk pada “jam 12 tepat” dan bila ada kaum lelaki yang melihat dan menghayatinya. Sudah pasti niat jahat akan menghantui pikiran si lelaki ini. Maka wajar saja, namanya juga lelaki normal. Punya nafsu dan keinginan untuk menyelesaikan hajatannya.tapi hanya nafsu besar, sedang tenaga pas-pasan. Ingat, kemaksiatan terjadi bukan karena ada niat pelakunya, tapi karena ada kesempatan.

Kalau ada terjadi kasus perempuan yang memakai baju ketat, yang membuat lelaki bernafsu. Lalu, siapa yang salah?. Jawaban saya, kedua-duanya. Tentu pemicu utama dari konflik “menghayal” ini dari perempuan. Wilayatul Hibah (WH) hanya mengawasi jalannya syariat islam di Aceh.

Dan WH juga manusia.

Tidak mungkin mereka merazia perempuan memakai celana ketat di setiap tempat. Kesadaran dari kita tentunya. Karena ini negeri bersyariat. Kalau tidak sanggup patuhi, silakan saja bungkus baju minggat dari sini. Nanggroe syariat islam, yang dari jaman dahulu juga sudah bersyariat.

Jikalau ada perempuan yang memakai baju sopan dan sesuai seperti yang di anjurkan dalam al-qur’an. Saya yakin sekali, tingkat pemerkosaan dan pelecehan terhadap perempuan akan kurang, saya tidak berani mengatakan tidak ada sama sekali. Ini penting untuk kita cermati dan menjadi—kalau Anda setuju dengan saya—untuk menjaga agar anak-anak Inong kita tidak setengah bugil di depan publik. Mahkota kok di obral. Seperti baju monja saja. Ada-ada saja tingkah aneuk dara Aceh kita.

Muhadzdzier M.Salda.

Iklan

69 Komentar

Filed under Muhadzdzier M. Salda

69 responses to “Atas Jilbab, Bawah ketat!

  1. Nindy Silvie

    bagi saya tulisan anda sangat melecehkan perempuan. seolah2 syariat islam hanya untuk perempuan dan sangat simbolis. “Nanggroe syariat islam, yang dari jaman dahulu juga sudah bersyariat”. kalau nanggroe dari dulu bersyariat dan anda menunjukkannya bahwa perempuan harus berjilbab, apa cut nyak dien dan malahayati berjilbab seperti yang anda inginkan?

    analisis anda ttg gaya hidup dan mode sangat tidak realistis dan tak berbasis. bagaimana dengan lelaki?
    di Arab sana, walaupun perempuan pakai jilbab malah bercadar juga selalu ingin diperkosa oleh laki2 Arab. jadi apa bedanya? apa anda bisa jamin perempuan tidak bakal diganggu walau pakai jilbab? itu tergantung oleh pribadi masing2 dan bukan urusan anda, WH ataupun saya. Mau kita tak salat kek ataupun puasa itu bukan urusan anda, WH ataupun saya. tapi urusan pribadinya dengan tuhan.

    atau anda ingin perempuan pakai goni beras ya??

  2. Arifajar

    apakah memang lelaki yang (boleh) memiliki nafsu saat melihat perempuan?
    apakah memang perempuan tidak (boleh) memiliki nafsu yang sama saat melihat laki- laki?
    apakah hanya lelaki (bisa) yang memiliki pikiran kotor melihat tubuh perempuan?
    apakah perempuan tidak (bisa) memiliki pikiran yang sama saat melihat laki- laki?

    apakah benar kita sama- sama manusia?
    apakah kita benar- benar kita harus menutup yang satu untuk menjaga yang lainnya?
    atau apakah dua-duanya harus dibiarkan terbuka namun pikiran dan hati masing- masing dijaga?
    apakah nafsu selalu muncul bila melihat yang serba terbuka? apakah nafsu selalu terlindungi bila semua diselubungi?

    bukankah nafsu milik pribadi, yang seharusnya dikendalikan sendiri?

  3. perempuan

    pakaian pertanda krisis moral? hahahaha. AMPUN!

  4. Bitch

    You should hang the fuckin’ corrupt men/women out there! they are the most dangerous shit!

  5. muhadzdzier m.salda

    Huahahahah….

    huahahahah…

    baiklah teman. saya kira perlu meluruskan, atau semacam memberi komen terhadap apa yang sudah di sebutkan atas tulisan saya ini. terima kasih karena telah mau membaca.

    baru kali ini saya di sebut melecehkan perempuan. hahaha. benar sekali salat, puasa itu urusan kita denga tuhan. dan kita menulis komen ini juga (saya tidak tau apakah berurusan denga tuhan). saya dulu pikir nindy seorang cewek, eh ternyata perempuan.

    saya menulis ini realita denga apa yang saya lihat dan rasa, terserah anda setuju atau tidak. bukankah di awal kalimat pembuka sudah saya sebutkan “Tulisan ini bukanlah untuk saling menuding siapa yang salah dan mana benar. Bisa juga salah saya karena menghambat ‘hak-hak asasi perempuan’, atau persamaan gender yang diperjuangkan sampai sekarang oleh orang-orang yang masih merasa terzalimi oleh kaum Adam”.

    saya menulis tentang perempuan, untuk Nindy sila saja tulis tentang lelaki, itu urusan anda, bukan urusan tuhan.
    jangan pakai goni beraslah, bisa tutup toko-toko yang menjual pakaian wanita di pasar aceh.

    entahlah, terserah anada setuju atau tidak. kan anda siswa cerdas, sedang saya hanya mahasiswa kampung yang lari dari perang untuk kuliah.

    untuk ARIFAJAR :
    saya pikir tak perlu menjawab, anda lebih cerdas menjawab sesuai dengan keinginan anda. dan bagi saya, cukup menjawab dalam hati saja.

    Untuk PEREMPUAN:
    benar. ini dalah bagian dari krisis moral. saya tidak tau apa ada hubungannya denga krisis global.
    hahahahaha.

    untuk Bitch:
    mohon maaf, saya tidak bisa bahasa Inggris, nenek saya bilang itu bahasa kafe. katanya sih.

    cuma ini yang bisa saya komen, karena tadi siang juga, pengelola situs telah mewanti-wanti saya.
    teurimong gaseh.

  6. Nindy

    hahaha, Konyol sekali anda. kalau awalnya anda katakan anda tidak membenarkan atau menyalahkan, tapi sebenarnya anda sudah memojokkan. saya tak bilang anda orang kampung dan saya juga bukan orang seperti anda bilang, jadi jangan sok satir! siapa yang mau tulis soal laki- laki!
    saya tidak seperti anda yang mau menulis ttg hal2 macam itu.
    hahahah, anda “lucu” jangan salahkan penjual pakaian lah! mereka tak salah dan perempuan pun tak salah kalau mau pakai apa yang dia suka!
    anda sperti bukan seorang lelaki.

  7. muhadzdzier m.salda

    wah…, saya di katakan SEPERTI BUKAN SEORANG LELAKI.

    emangnya menurutmu, lelaki seperti apa!?

    anda juga seperti buka nperempuan,di sekolah Menulis aja gak pakai jelbab, sedang jelbab kan bagian dari pakaian perempuan.

    tapi, yah.. terserah situ, ini kan tahun 2008, mau kawin kek, mau lesbi kek, mau GAY kek, mau jadi perawan tua Kek..,mau salat kek, mau neraka kek, mau kawin sama kakek-kakek kek..
    TERSERAH..!!!,,

    yang pasti anda jangan marah-marah dengan saya, siapa tau nanti jadi istri saya. Alamaak!
    hahaha..,

    (bek bengeh beh,, bagah tuha entreuk)

  8. Siapa Saja

    Hei.

    Nindy atau Adzier, baca tentang KOMENTAR di halaman paling atas ya.

    He. Ilmiah dikit dunk debatnya.

    Salam Damai Selalu

  9. Fadil

    hai bung muhadzier,berani brbuat brani bertanggung jawab. berani menulis berni bertnggung jawb juga dong…….

  10. Nindy

    Muadzizier: bukan urusan anda saya pakai jilbab atau tidak. itu urusan saya dengan tuhan! bukan urusan anda.
    anda seperti anak2, anda tidak intelek dalam memperdebatkan masalah tulisan anda! malah ngeles! AMPUN! kasian!
    M: “tapi, yah.. terserah situ, ini kan tahun 2008, mau kawin kek, mau lesbi kek, mau GAY kek, mau jadi perawan tua Kek..,mau salat kek, mau neraka kek, mau kawin sama kakek-kakek kek..TERSERAH..!!!,,”.
    Wah keliatan sekali pembicaraan anda tak terarah! kehabisan kata2 ya?
    saya bukannya marah, tapi ingin mempertanyakan dan argue ttg tulisan yang anda buat!
    memang anda bisa pastikan jilbab bagian dari pakaian perempuan? memang anda bisa pastikan yang setiap perempuan yang pakai jibab adalah perempuan sholeh dan masuk surga? PELACUR DI ACEH SAJA PAKAI JILBAB!
    ahahha, “lucu” sekali! saya ingin juga melihat anda bagaimana mengutuk cut nyak dien ataupun malahayati karena tidak BERJILBAB seperti yang anda mau!

    KASIHAN!!

    • yadi

      maaf sy ikut nimbrung
      bu/kak/mbak nindie maaf ya, kalo anda mengaku muslimah anda mesti bisa dinasehati, jgn pernah bilang melanggar syariah bukan urusan orang lain.
      bisa2 orang tua anda, sodara anda, ulama anda, muslim/muslimah dll mau masuk surga justru dikeluarkan Allah dan dimasukkan ke neraka gara2 mereka tidak menasehati anda.
      sesungguhnya dalam diri manusia beriman itu ada perintah dakwah, jika melihat kemungkaran cegahlah dengan tangan, kalo gak mampu ya dengan mulut, kalo gak mampu juga mestilah hatinya membenci kemungkaran tsb, itu adalah selemah-lemah iman. moga kita selalu dalam keadaan beriman

  11. oryza

    waduh… kalau di baca lies marcous bisa marah dia!! hahaha.

    muazhier, menurut saya, sepertinya anda sedang mengalami lonjakan nafsu seksual yang begitu tinggi ketika menulis tulisan ini, benarkah?

    saya menangkap kegelisahan ini dalam tulisan anda, ketika anda dengan seksama meperhatikan huruf V di bawah pusat seorang wanita, atau susu SGM yang bulat dan ketat.. dan juga ‘boh labu air’ (buah pinggul wanita). itu semua adalah kata kata anda, yang begitu menggambarkan betapa diri anda sedang berjuang keras melawan hawa nafsu yang membuncah dasyat! saran saya, jangan lampiaskan kemarahaan anda atas keadaan yang terjadi dalam diri anda, silahkan pergi ke kamar mandi dan melakukan onani. ini jauh lebih sehat dari pada menghujam kaum hawa tanpa ada basis alasan yang jelas terhadap kegundahan libido seks anda melihat kaum hawa di sekitar anda…

    saya juga sepakat, syariat bukan hanya untuk laki- laki bung..!!! pemain persiraja harusnya juga di cambuk! sungguh, aku nafsu sekali melihat dengkul dan paha musawir! penyerang persiraja yang tampan itu! (terkutuklah kaum nabi luth)

    anda jangan terlalu anti dengan barat, bisa- bisa surga penuh semua sama orang eropa. hahaha.

    nah, saya lihat perdebatan anda dengan nindy. begini saja, saya kasih solusi. nindy sedang di amerika sekarang, minta dia untuk membelikan anda sex toys, berupa boneka yang sangat mirip dengan manusia. nah, fungsinya, untuk menyalurkan gejolak biologis dalam diri anda tadi! jangan khwatir, kalau anda tidak suka bonekanya mirip orang eropa, ada juga yang mirip orang jepang, china dan philipina.

    salam sangat

    • yadi

      masya Allah, pikir2 dulu sebelum nulis bung, gunakan akal sehat.
      nikah itu banyak hikmahnya, maka nikah itu sebaik2 solusi. kalo gak mampu ya puasa atau pun berolahraga.
      masak disuruh onani atau menggauli patung
      semua yang kita lakukan diminta pertanggungjawaban dikhirat kelak, gak percaya?

  12. Fie

    Yuuk saling mendoakan kebaikan…!!!!

  13. Fie

    mari saling mdoakan kebaikan untuk saudara kita

  14. —————————————————————
    untuk Bitch:
    mohon maaf, saya tidak bisa bahasa Inggris, nenek saya bilang itu bahasa kafe. katanya sih.
    —————————————————————

    Apa Muhadzier lupa kalau dulu Belanda paling enggan menaklukkan Aceh salah satu faktor adalah kuatnya adalah hubungan erat kerajaan Aceh Darussalam dgn Inggris Raya?
    Jadeh awak tanyoe bek meu-inggris krn jieh bahasa kaphe? Meunyoe meunan ureung Aceh jameun bersahabat ngon nanggroe kaphe?

  15. amat bicah

    tulis terus zier…

    salud Zier!
    mantap that tulisan kamu ini.
    salam.
    amat (Bandung)

  16. ricky

    “ Mengapa terus jua mengejar ramalan masa depan serta meletihkan otak untuk kebingungan sia – sia? Tinggalkanlah kecemasan, pakailah syariat ALLAH dan biarkan rencana Nya menjadi rahasia Nya semata. Yakinlah bahwa dia mengatur semua tanpa harus menanyakan pendapatmu.”

    Mungkin memang sudah menjadi kebiasaan orang melayu untu selalu mencampuri urusan orang lain, seperti kata Andrea Hirata dalam “makcik” Maryamah Karpov nya. Tahukah engkau kawan bahwa pada masalah diatas aku tidak ingin berpihak pada siapapun kecuali pada kebenaran yang haq? Seperti dalam surat yang dikirim oleh marcos kepada keluarga Montalban, dan marcos menyebut montalban sebagai jembatan. Dan kukira kawan, posisiku pada konflik ini adalah sebagi jembatan adanya.

    Aku sangat meyakini bahwa diantara yang memberi komentar thd tulisan sahabat Muhadzdzier, akulah yang lebih dahulu dan paling lama mengenalnya. Aku ingat, itu bulan November tahun 2002. Di Ruang Kuliah Umum II (RKU II) lantai 2 tepatnya. Kami seangkatan tergelak tertawa terbahak – bahak mendengar Pak Ruslan ketika itu memanggil nama Muha-dz-dz-ier. Pengulangan dz-dz itu yang membuat kami semua tertawa karena mengira salah penulisan nama. Dan tahukah kau kawan, ketika kami membaca Serambi Indonesia yang aku lupa itu tanggal berapa, dan kami menemukan nama yang pernah kami anggap salah itu terpampang dan memberikan opini yang diterima banyak orang? Mungkin itu adalah hal yang biasa bagi kalian, akan tetapi bagi kami itu bermakna segalanya. Hari itu kami beranggapan bahwa kami telah berhasil mengirimkan duta yang bisa disandingkan dengan banyak jenius kata diluar sana. Bahwa kami tak kalah telak dari FKIP Bahasa. Dan aku merayakannya deengan caraku sendiri.

    Tak ada yang salah sebenarnya dengan apa yang disurahkan oleh Muhadzdzier kawan, baik kalimah maupun mahfumnya. Barangkali kalaupun ada yang salah itu mesti terletak pada pembacanya, yaitu benarkah kita sudah dewasa hidup beragama? Dalam novel Edensor terdapat kalimat pembuka yang diinterpretasikan dari pemikiran agung Harun Yahya yang mungkin bisa kita tarik kesimpulannya yaitu : “hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis dan sporadis, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tidak ada hal sekecil apapun yang terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan.” Jelas bahwa proses kedewasaan beragama baru bisa ditimbulkan bila hati sudah mengakui yang membuat keteraturan maha sempurna itu benar adanya, baik wujud maupun syariat Nya, dan seperti yang kutuliskan diawal tadi kawan, bahwa Ia tidak butuh kompromi.

    Dewasa hidup beragama juga bermakna tenggang rasa dan saling mengerti serta menghormati terhadap cara pandang siapapun dalam memandang Tuhan dan beragama. Ini mengingatkanku akan permintaan Goenawan Mohamad kepada Ba’asyir dan Rizieq Shihab yang dimuat dalam caping dengan judul Indonesia : “Ingatkah saudara berapa besar korban yang jatuh dan kerusakan yang berlanjut karena kita menyelesaikan sengketa dengan benci, kekerasan dan sikap memandang diri paling benar? Saudara berdua orang Indonesia, seperti saya. Saya menghimbau agar saudara – saudara berdua juga memahami Indonesia kita : sebuah rahmat yang disebut ‘Bhineka-Tunggal-Ika’. Saya menghimbau agar saudara berdua juga merawat rahmat itu.” Dan kau tahu kawan, alangkah indah sebuah dunia yang dimana orang2nya percaya pada Tuhan (wujud dan syari’atnya), saling terbuka dalam urusan kebenaran dan tenggang rasa serta saling menghormati bila ada perbedaan. Goenawan tak selamanya benar memang, tapi paling tidak ia telah mencoba mengingatkan semua. Dan Goenawan baru – baru ini telah membuat sebuah tulisan yang membuat aku tidak bisa tidur, dengan gaya biasa (diberi kesan untuk memarjinalkan Tuhan), seperti beberapa coment diatas, dengan judul “PELACUR” : “terkadang Nur harus berbicara tentang Tuhan (ia belum melupakan Nya). Ia menyebutnya “Yang Diatas”. Mungkin itu untuk menunjuk sesuatu yang jauh – tapi justru tak merisaukannya, karena manusia “yang dibawah” tetap berharga : bernilai dalam kerelaannya.”

    Dan omong – omong tentang boneka, benarkah kau, kawan, telah merekomendasikannya untuk sahabatku sebagai pemenuh nafsu seksualnya? Dengan umurmu yang kukira cukup belia,ehm, Telahkah kau mencobanya? Cina, Jepang atau India kah punya mu? Dan kalau India, bolehlah…..kuch2hota hai…

  17. Kenapa spanduk XL dengan Dian Sastro sebagai modelnya di Simpang 5 harus dicoret tetapi baliho Marlboro dengan lelaki macho bercelana di atas lutut tetap dibiarkan saja?
    Mengkritisi syariat bukan hanya berbicara mengenai pakaian wanita. Kritisilah yang lebih memiliki esensi Syariat itu sendiri seperti perilaku dan fikiran. Membahas pakaian membuat syariat terlihat sangat simbolis. Berpikirlah lebih jernih karena Tuhan maha adil, kawan. Jangan terlalu fanatik atau bisa gila sendiri. Tahukah bahwa banyak Muslim yang fanatik malah merusak nama muslim itu sendiri karena dia lupa bahwa menyebarkan agama itu seharusnya dengan kedamaian dan pemahaman, bukan dengan gerutuan dan paksaan.

    Salam.

  18. zy

    setuju sangat dengan kata – kata yang ditulis mita

  19. momok

    dasar orang2 konservatif! kamu ricky, jangan tulis kommen kayak gt di sini, tapi buat khutbah aja di mesjid! hahah

  20. azir salda

    untuk pembaca yang budiman. silakan komen lebih banyak tentang tulisan ini. tapi bagi yang belum pernah dimuat tulisan di Koran jangan coba2 sok2 jago nulis comen buat orang ya bro. kayak oriza dengan Nindy. bisanya cuma comen tulisan aku. mana tulisan mu yang di muat di koran? mana bro? sok pintar comen kamu.

    buat ori juga. kamu telah menghina saya. kalau komen yang sopan dikit. bek sampe meulanggeh beh. kajaga bahsa kah bacut. yang cerdas jet keu ureng.

    dan kamu bergaul dikampus dengan orang-orang yang selama ini berada dalam forum diskusi saya.
    saya pikir, kamu tau saya kuliah dimana. dan kita sering ketemu di Solong. oke.

  21. wanted

    suka2 org donk mw nulis dmn…..
    asal jgn mnulis ketika khatib lg khutbah,hehee
    tuleh laju ricky

  22. Assalamualaikum

    buka kerudung or jilbab bukanlah emansipasi wanita.,. kalau seandainya kita tidak mempertahankan identitas kita sebagai kaum muslimin kita tak ubahnya seperti domba yang mereka sesatkan,..,
    Allah berfirman.,”barangsiapa yang mengikuti suatu kaum maka ia masuk kedalam kaum tersebut”,..,
    dan juga
    “Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mukmin. Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih muda untuk di kenal karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah maha pengampun dan penyayang. (Al-Ahzab : 59).

    subhannallah seandainya kita mengerti Islam.,.,begitu indahnya Islam begitu mulianya Islam,.

    nah unutk orang2 yang berkomentar buka kerudung adalah emansipasi wanita.,.,berpikirlah.,Malaikat ada di kanan dan kiri anda.,.Allah mempuyai catatan umur anda,.bila anda mati dan tak bisa kembali pada apa yg telah Allah tunjukkan.,penyesallan sudah tak ada arti.,.,

    wassalamualikum

  23. Haha

    salam semua

    Adzier dan pembaca sekalian.
    Senang sekali hari ini bila kita lebih dewasa dan bebas dalam berpikir,
    Sila kritik karyanya, bukan pribadinya.

    Jangan memaksa orang untuk berpikir sama dengan kita!

    Saya teringat, Oryza, Nindy, Mita, Resa adalah salah satu penulis buku berjudul Santeut (Sila cari di TB Dokarim kalau Anda penasaran! Tanpa bermaksud promosi, tapi hari ini kita berbicara bukti real dong!)

    Oryza. Ah. Hasrat anak muda. Biasa itu. Bukankah dia lebih fair dalam berkoment?
    (Adzier. Baca Harian Aceh edisi 31 Des 2008, ada opini Oryza di sana).

    Adzier. Ini adalah upaya melawan dikotomi tentang syariat yang di-institusional-kan!

    Mengapa syariat cuma bahas tentang kerudung, pakaian, maisir, khalwat, saja ?

    Apakah masalah moral saja islam itu diturunkan ?

    Islam itu SYUUMUL. MENYELURUH !

    Ayo kita melawan bank yang menerapkan bunga, melawan rokok yang telah difatwakan haram oleh MUI, melawan riba dan tengkulak, melawan monopoli pasar, melawan anggota dewan yang bisa cuma makan gaji saja, tanpa memikirkan rakyat kecuali waktu menjelang Pemilu.
    ANDA BERANI ?

  24. oryza

    saya tidak pandai nulis. tidak pandai berpolitik. saya tidak berani menggunakan jubah tuhan, yaitu kesombongan.
    kalau saya boleh meminjam kata kata bang reza, saya adalah juru kritik yang muram. hehehehe.

    wah… bang muazhier, jangan di masukin ke hati. ini sindiran lelucon politik… santai bro… kalau mau perang, perang tulisan… anggap saja saya menjadi stimulasi menulis anda. atau jangan jangan anda sudah mengeluarkan fatwa, bahwasanya, darah saya halal?

    saya ini muslim. tidak taat. tidak juga terlalu bejat.
    saya muslim. itu identitas diri saya. tapi kalau saya di tanya islam apa?? maka saya akan menjawab saya islamnya muhammad dan abu zhar! bukan islamnya dinasti ummayah, seperti di aceh ini! korup, zhalim, dan mapan!

    penerapan syariat islam di aceh, sarat muatan politis bro. masa agama di politisir.?

    dalam islam juga biasa diskusi seperti ini. al quran menjelaskan dengan bahasanya yang cukup jelas, bahwa perbedaan adalah hal yang biasa, dan kita serahkan pada allah yang menetukan, siapa yang benar dan tidak, siapa yang jadi muslim atau domba!

    buka quran (QS 34:24-26). SENGAJA SAYA TIDAK MELAMPIRKAN ISI SURATNYA di sini, biar kawan buka quran di rumah dan mau usaha menemukan hidayah allah…

    kawan, agama islam itu dekat dengan rasionalitas. banyak sekali bermain dengan logika sosial, ekonomi, politik dan budaya dll…

    nah, kalau ketemu saya, silakan sapa.beri saya senyuman, maka saya akan beri senyuman 5 detik lebih lama dari senyum anda. (anjuran muhammad boss..)

    satu lagi, saya sangat apresiasi dengan tulisan anda. sungguh anda adalah penulis yang produktif. salut! tulisan saya tidak sebanding dengan tulisan anda…. yah namanya juga penulis pemula yang mau belajar…. ahahahah. saya takut sie kalau banyak banyak menulis, takut terbang karena pujian dan secara tak sengaja menarik jubah tuhan…. hehehe

    “aku mendoakan kalian semua wahai saudara ku, agar jalan sirotol mustaqim mulus dan lebar, selancar dan senyaman jalan tol JAGORAWI”.

  25. MuNa

    ini kunjungan saya yang pertama dan saya awali dengan membaca tulisan ini,, ternyata saya betah!!dan setelah saya cermati, tulisan ini mencerminkan kelakuan dan kepribadian penulisnya,, dan timbul sebuah pertanyaan…

    yg anda maksud [para kaum lelaki menunjuk pada “jam 12 tepat”]ini PENGALAMAN PRIBADI anda kah?

    saleum aneuk nanggroe!

  26. Siwok Salda (azier)

    HAHA;
    —Saya teringat, Oryza, Nindy, Mita, Resa adalah salah satu penulis buku berjudul Santeut (Sila cari di TB Dokarim kalau Anda penasaran! Tanpa bermaksud promosi, tapi hari ini kita berbicara bukti real dong!)—

    menerbitkan buku gampang sekali, asal punya uang, lanjut!. tetapi jika tulisan di muat dimedia, nyan yang payah tengku. gata berapa kali sudah??

    haha : baca komen saya tgl berapa, oke! dan tulisan Ori di HA tgl berapa? beu cerdas bacut!

    –Ayo kita melawan bank yang menerapkan bunga, melawan rokok yang telah difatwakan haram oleh MUI, melawan riba dan tengkulak, melawan monopoli pasar, melawan anggota dewan yang bisa cuma makan gaji saja, tanpa memikirkan rakyat kecuali waktu menjelang Pemilu.
    ANDA BERANI ?–
    jawb Siwok ; inilah tugas anda yang untuk menulis. dan orang lain juga nulis yang lain. saya sudah menulis kerudung.

    oriza; maksud saya, klo mau komen yang sopan aja bos, saya siap mendengar seperti komen anda di awal, tapi jangan di forum Online gini. rame yang baca, hana mangat. mengerti kan? harga diri juga dijaga bro. gitu maksud aku. kamu ini… Alah??
    menyo meurumpek di kampus (atau solong), terserah awak gata pu yang ka peugah . yang penteng lon kutuleh!. na meuphom ken!?

    MUNA :

    anda perempuan!?

    ini sangat pribadi tengku. saya boleh kata ia atau tidak?. sebab dalam sebuah naskah yang saya tidak ingat lagi siapa yang catat, begini di tulis ; tulis saja apa yang kamu lihat, kamu rasa dan hayati.

    jika engkau mau tau lebih lanjut jawaban saya, sila tanya saja sama Moderator, email saya apa. (anda paham maksud saya tentunya ya)

    saya juga pernah dengar dari ‘cang panah’ seorang kawan, tulisan dengan penulis tak bisa di samakan.

    iya, terserah situ mau lihat dari mana.

    Wallahul Muaffiq, Illa Aqwamithariq.
    Oke.
    salam TanpaBatas.

  27. mbah kumar

    yah,,,, mah!!! kalo tulisan azier itu mainstream patut saja di muat! kan tulisan pasaran!!!
    main hina2 mereka oryza dkk, mereka sudah menulis di kompas muda! asal tahu saja….
    tugas azier apa? menulis kerudung? ahha gambar saja perempuan pake kerudung, apa yang mau ditulis kerudung hahahaha aneh sekali!sudah berapa tulisan azier yang bicara soal kerudung? mungkin ratusan!! heheheh
    boleh lah mbah salut kalo tulisan azier dimuat di serambi atau lainnya, mungkin azier di dikte sama editor koran supaya tulis apa orang2 di pasaran mau! mungkin!
    mbah sebenarnya tidak mau seperti azier yang menyerang secara tidak intelek dan profesional… tapi mau gimana lagi azier sendiri yang mulai merendahkan anak2 itu! saya mau tanya! umur berapa azier sudah mulai berpikir agak “progressif” dan mulai menulis? mereka masih muda sekali!
    mbah tambah lagi, tulisan ory itu dahsyat! dia berani melawan oknum2 sialan itu! sedangkan azier? beraninya menulis tulisan yang rata2 orang di nanggroe bakal angguk2 saja dan sudah beribu2 kali teungku2 kita di kampung selalu kasih khutbah masalah itu!tulis lain lah! bilang saja azier tak sanggup menulis dan analisis seperti itu kan? hayo ngaku! ehhehe kalo mau sini biar mbah ajarkan!
    lagi2 mungkin karena azier tidak sanggup lagi berargumentasi soal tulisannya,, karena lemah! makanya menyerang dengan cara yang tidak profesional meuah beuh teungku wagepap!!!

    saleum hana mangat!

    Mbah kumar bak gampong

  28. azier

    selamatlah bagi orang-orang yang tidak pernah merasakan ditendang aparat, disuruh tiarap, dicaci dan ditodong dengan popor senjata. saat itu umur saya 18 tahun. hidup di kampung ( 17 KM ke arah jalan Medan-B.Aceh/ ke kota Bireuen).
    gampong lon di Glee (daerah bukit).
    bayangkan, jika saya hari ini bisa kuliah, maka ini anugerah. dikampung saya cuma saya yg kuliah ke B.Aceh. lainnya (kawan-kawan sekampung) sudah menjadi mayat, lari ke Malaya, Pulau Jawa. atau ada yang saya tidak tau dimana kuburan mereka sekarang. saya juga tidak pernah bercita-cita kuliah. awalnya lari juga dari dentuman peluru dikampung ke B.Aceh (sedikit aman di kota). hingga mendapat restu dari seseorang, dan ia mendukung saya kuliah.

    kambing hitamkah konflik dulu?.
    bagi saya Iya!. maka jika pembaca yang budiman seru sekalian, seperti yang Mbah dendangkan benar saja, tidak terbantahkan. hana rencana bantah. dan mudah-mudahan ini menjadi tolak ukur batu pijakan dalam menulis saya.
    satu hal yang perlu Mbah tau, saya baru mengenal komputer pada tahun 2005. hahaha. internet? hahaha. hana meutaturi pih.
    sedang ‘Mereka’ yang anda bilang itu? dari SD mungkin sudah mengenal.
    saya pikir anda tau Mereka anak siapa. dan berani menulis, jika sewaktu-waktu di tuduh melanggar etika dan di panggil serdadu Pemerintah.
    dan sila tanya sama orang-orang yang di SMD apa kendala saya dalam menulis. saya jawab saat itu : saya TAKUT. dan sekarang, rasa itu sedikit ,mulai pudar.

    terimakasih Mbah telah memberi komen.
    saleum.

  29. azier

    oya, satu hal lagi Mbah.

    anda menulis dimana saja? ingin saya tau.
    sepertinya saya memang perlu berguru pada Mbah.

  30. azier

    buat moderator ;

    saran ;ada baiknya tulisan yang dimuat harus tertera dengan jelas siapa nama sebenarnya. jangan pakek nama samaran. boleh tidak

  31. muhammad sajir

    ini menarik kayaknya……….
    memangnya dzier,anak siapa aja mereka tuh,pengen tau juga aku kok mereka bisa beken dan pintar gitu….. kali emang enggak tau apa-apa,cuma modal nama bapak!!!!!

  32. nun

    azier yang baik, anda sudah memulai cara berdebat dengan baik,
    maksud saya jangan anda hancurkan kebaikan berdebat itu dengan memanggil (meminta tolong) moderator untuk melepaskan anda dari mon broeh yang sdh anda gali sendiri.

    anda tahu siapa saya? saya nun parisi, anak lamkrak, orang-orang tak mengenal saya, sebab saya bukan seorang penulis kayak si mbah,

    saya jadi curiga sekarang, hanya gara-gara saya bukan orang yang terkenal, apakah anda kemudian menganggap saya juga memakai nama samaran?
    terus terang saya jadi minder sekarang, bagaimana caranya agar saya tidak dianggap menyaru, apakah saya harus menulis dulu di jurnal New Left Review?

    Apakah waktu anda mengklik google, lalu anda temukan sejumlah halaman tentang saya, baru anda percaya bahwa saya adalah benar, dan bukan hantu.

    azier yang baik, anda tak mengenal saya, seperti anda tak mengenal di mana lamkrak itu berada, karena lamkrak sudah tak disebut lagi sejak Zeentgraaf menulisnya untuk pertama sekali 100 tahun yang lalu, tapi lamkrak itu nyata azier, senyata kampung anda, senyata waktu operasi militer yang pukaima itu saya dicegat tentara waktu mau ke kampus, serdadu iseng tapi pukaima itu meminta saya untuk menyanyikan lagi indon, tapi pada tahun2 itu azier jangankan maen internet, bahasa indon saja saya tidak pas, apalagi untuk bernyanyi lagi indonesia raya. ya sudahlah serdadu iseng tapi pukaima itu kemudian menyuruh saya lari setengah hari dan dia begitu asyik menontonnya.

    azier yang baik kita sebagai orang Aceh sama2 menderita, dan tak perlulah kita membanding2kan siapa yang lebih menderita, atau siapa yang lebih berpeluang untuk memperoleh kesempatan belajar, baik orang yang ditinggal di kota maupun di kampung. maksud saya, anak-anak ini, yang anda anggap berbeda pengalaman hidupnya dengan anda, karena pertama anda pernah merasakan popor serdadu iseng tapi pukaima, sementara mereka tidak, dan kedua anak-anak ini lebih cepat belajar karena punya kesempatan belajar yang lebih memadai daripada anda, maksud saya jangan lah anda menunjuk mereka anak siapa untuk mendukung parabel anda karena itu akan goyah. parabel anda tentang hal ini persis dengan tulisan sok tahu barlian aw minggu lalu di serambi,
    ini saya kutip: Jika anggaran mecukupi biaya pemeliharan Taman Budaya terjamin sehingga seniman tak perlu membayar kalau mentas di sana.
    Dungu sekali bukan?
    Di mana letak dungunya nalar lah sendiri.

    Kembali lagi ke anda, soal kesempatan belajar, belum tentu anak Josef Kala, sudah bisa main internet, sekalipun, misalnya, Josef Kala, menguasai setengah dari saham google. Atau siapa bilang anak si Daniel rektor Unsyiah, si prof gadungan itu, bisa menulis seperti anak-anak ini. Walaupun buku di rumah si Daniel sama banyak dengan yang dimiliki ibu-bapa anak2 yang manis tapi nakal ini.

    azier yang baik kehidupan di lamkrak itu keji sekali, saya pernah hampir putus asa, oleh sebab saya yakin seekor bebek akan bisa dilatih untuk menulis kalau diberi kesempatan, tapi saya tidak yakin terhadap pemuda2 di kampung saya yang malas. tapi tentu saya pengecualian, saya baru2 dua tahun ini mau belajar, sedikit bahasa Inggris sedikit bahasa Perancis, membuat saya tahu apa itu buku, dan kenapa harus belajar internet. dan yang lebih penting tahu bagaimana cara kita melakukan penalaran. sebab saya tidak pernah yakin,

    sekalipun kita baca seluruh buku yang diterbitkan di dunia ini, kalau tidak diimbangi dengan penalaran yang baik, dengan kata lain dapat menjelaskan sebuah soal atau masalah dalam sebaris kalimat, sejelas obbie messa menyanyikan lagu semut merah — adek2 saya yakin pasti gak kenal obbie messa juga kan, tapi dia nyata adek2.

    Nun

  33. mita

    Hihi, iya, aku kan inosen dan baik hati. Lagian, kalau bicara tulisan yang sudah dipublikasi di koran, haduh, aku masih jauuuuh sekali dari tolak ukur.

    Catatan untuk Paman – Paman yang sudah berkomentar diatas; jika kami nakal, itu bukan karena faktor siapa Bapak kami, tapi karena kami mempertahankan permen kami dari para perayu. Walaupun permen itu cuma seratus rupiah sebutir, tapi kami membelinya dengan uang hasil tabungan. Makanya, paman – paman yang budiman, jangan jadi perayu atau jangan salahkan Bapak kami jika kami nakal. Abisnya paman – paman ganjen sih. Hihihi.

    Peace, love, and candies!

  34. Nindy

    iya! emangnya aku anak siapa? bukan anak siapa2 kok!
    kalo aku anak bapak2 itu, jangan dibawa2 lah! ga ada hubungannya dengan itu bapak2.

    salam

  35. nun

    Hoho, dek nindy harus sudah mulai belajar apa itu slow. contohlah dek mita. slowly is not really damn it, yeah. ketika nama bapa dan ibu sudah dibawa serta dalam kancah perdebatan, maka perdebatan kita tidak aduhai lagi. mudah sekali untuk melihat sebutlah kebenaran dalam perdebatan gaya cowboy begini, hei ingat, cowboy/girls yang cemen itu — tentu saja bukan Billy The Kid atau Lucky Luke dua yang saya kagumi itu — waktu sudah terdesak selalu berkata, dia menggunakan pistol ayahnya. hahaha. lucu ya.

    Nah mestinya pula saya ikut serta dalam kancah perdebatan ini membawa-bawa serta nama kakek dari kakek saya, pejuang dari lamkrak, dengan seekor kuda, dia menghadang sepasukan gompeni yang berjumlah 120 orang seorang diri. tentu saja dia mati, tapi sungguh jahanam Zeentgraff, dia tidak mencatat keberanian itu, dan lagi pula saya terpkasa membawa-bawanya kemari karena saudara/i semua ikut membawa-bawa nama bapa-ibu yang kita sayangi.

  36. Nindy

    Aduh juga paman nun sangat bijaksana!

  37. mita

    Aduh Chek Resa, jangan gitu dong ih. Kan chek mita jd malu. Ihihi. Chek Resa, belajar merayu dari mana sih? Melting ini jadinya. Icikilik cikilik.
    Belajar menulis sama paman – paman diatas yuk. Mereka pintar – pintar lho. Kita kan wannabe. kikiki.
    Atau main rumah – rumahan yuk?

    Salam wannabe,
    Chek Mita

  38. Oryza

    hahahaha…. wah menarik sekali komenttar di atas.
    ada nun dan mbah kumar, dan juga sajir.

    kalau melihat pendapat si mbah kumar, azier ini saya bisa klasifikasikan ke dalam kategori “penulis kerajaan”. yang semata mata ujung pena dan tintanya hanyalah untuk memuaskan sang raja.
    dalam konteks kekinian, tulisan azier di persembahkan untuk memuaskan publik yang gamang mencari kambing hitam terhadap lemahnya iman mereka.

    ini mirip cerita seorang arab yang memperkosa wanita, lalu ketika di hadapan tuhan, ia menyalahkan syaitan. lalu syaitan marah, dan membacakan pledoi nya di mahkamah tuhan. ” kau yang berbuat, aku yang di bilang laknat, kau yang enak, aku yang di cap bejat”. begitulah syaitan mengakhiri pembacaaan pledoi nya.

    “aku bercermin pada kaca, ini muka penuh luka. siapa yang punya” (chairil anwar).

    azhier. jangan sombong, berapa kali saya mengatakan. kesombongan itu jubah tuhan. pasti kebesaran kalau saudara azier mengenakanya.
    tulisan saya pada HA itu, tgl 31 desember. sila lihat dan mohon kritiknya. saya mencintai kritikus sama seperti saya mencintai ibu saya sendiri. kedua nya memiliki sifat yang sama, membangun.

    ini seharusnya bisa menjadi pelajaran buat azier, dan juga yang lain. sekolah dokarim itu mencetak seorang penulis, bukan pengrajin tulisan. kalau tidak punya basis dalih dan rasionalitas yang kuat, jangan coba coba menuliskan hal tersebut, kalau tidak yaa seperti ini kejadianya. di gugat orang! lalu kelabakan!

    saya jadi teringat, ketika menulis buku santeut. saya sempat di cap atheis dan menghujat agama sendiri, menurut guru saya di sekolah. waktu itu saya mengangkat soal pemisahan kelas atas nama penerapan syariat islam secara kaffah. karena saya yakin saya memiliki alasan dan basis rasionalitas yang kuat, maka saya tantang guru tersebut untuk berdebat terbuka di depan kelas. dan saya menang, itu menurut pengakuanya sendiri. saya di hadiahkan boleh memimpin kultum setiap hari setelah shalat zhuhur berjamaah di mesjid. nah, jadilah sang khatib atheis…

    azier, terus terang saya mulai menyukai anda. namun, saya agak kecewa ketika anda membawa orang tua kami di rumah. kami menjadi seperti ini, karena kami memilih untuk tidak menjadi BIASA. kami memilih membaca buku, berdiskusi, bangun gerakan, melawan system dan dll. dari pada ikut arus zaman menjadi hedonis dan apatis. progresivitas tidak menurun secara genetik! dan jangan bicara soal berlindung di bawah ketiak orang tua, memangnya siapa orang tua kami, Ehud olmert apa!! sampai sampai bisa melindungi kami dengan sebegitunya. dan jangan salahkan keadaaan. malah situasi yang anda alami ketika muda, itu adalah sebuah iklim yang baik untuk menciptakan tokoh muda yang progresif! seperti nelson mandela! dan tentunya menjadi sangat realis, bukan menjadi hypokrit seperti ini!

    kalau mau debat, yang “ilmiah” lah. biar seru.

    sudah kau baca belum ayat yang aku rekom buat mu kawan? bacalah, penting itu!
    al quran, mengajarkan kita menjadi insan, menjadi seseorang yang merdeka. bukan menjadi pengikut yang gamang, atau kalau dalam bahasa injilnya “domba domba yang galau”.

    salam hangat.
    comandante oryzos

  39. mbah kumar

    Memang, sudah sangat pintar-pintar sekali kalian dalam berdebat. Mbah salut…
    jadi azier belajar apa yang namanya sabar kayak si nun.

  40. mita

    Kami yang anda sebut anak – anak yang ‘beruntung’ itu benar – benar iri pada pengalaman hidup anda. Kami malah pernah duduk bersama disuatu hari dan berharap bisa dilahirkan disaat Aceh sedang berkecamuk. Jangan tanya kenapa, karena anda pasti tau kenapa.

    Paman Azier, pesan saya, jangan berhenti menulis. Aceh punya tumpukan harapan dipundak anda. Seperti yang Ory bilang, progresifitas tidak menurun secara genetik. Itu bukan takdir, tapi PILIHAN. Kami memang tidak cerdas, mungkinpun termasuk katagori tidak tahu apa apa seperti yang si Sajir katakan (baca komen atas nama Sajir diatas), tapi kami bisa memilih. Karena memilih itu adalah bakat alamiah manusia, dan bersandar pada takdir hanyalah untuk orang – orang fatalis, bukan untuk orang – orang relijius.
    =)

  41. Azhari

    Azier kau harus kembali!

    kau harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kau berani nyatakan!

    Ini bukan tentang benar-salah, menang-kalah, terkepung atau dikepung, tapi tolong pertahankan apa yang sudah kau anggap benar, mempertahankannya tentu saja dengan cara yang elegan.

    Gaya atau reaksi kita dalam menanggapi tanggapan orang akan berpengaruh pada tanggapan selanjutnya, di atas itu semua akan mempengaruhi alur diskusi dalam blog ini.

    Masuk ke dalam jalur perdebatan yang beradab atau terjerumus ke dalam anarkisme gagasan.

    Aku pernah katakan, kita bisa membangun sebuah gagasan, sejahanam apapun gagasan itu dalam pandangan pihak yang tak setuju, tidak masalah sejauh masih ditopang oleh alasan-alasan yang masuk akal.

    Sebuah tulisan tidak untuk ditulis, lalu dilepaskan begitu saja seperti halnya orang Uleekareng melepaskan sapi mereka ke halaman tetangganya.

    Sapi yang liar mungkin akan kena bacok, tapi si pemilik sapi yang tidak bertanggung jawab juga akan dikejar selamanya.
    Jadi berpikirlah dua kali sebelum melepaskan sebuah tulisan.

    Sifat kontroversial tulisan bukan lantaran kita berani mengulas sebuah pokok yang sangat bertolak belakang dengan gagasan orang pada umumnya, atau disenangi orang pada umumnya, tapi harus disertai dengan sejumlah prasyarat yang harus cukup kuat untuk mendukungnya, apa itu? sudah kuulas di atas.

    Aku tak ingin bertanya, apakah tulisanmu di atas telah memenuhi syarat-syarat itu atau belum, apakah hanya tok diskripsi saja tanpa diperkuat dengan argumentasi,

    untuk lebih rendah hati baca kembali komen-komen di atas bukan untuk bereaksi buta tapi mungkin ada amalan teknik di dalamnya untuk kita belajar padanya tanpa bertanya dia anak siapa; umurnya berapa; dia cewek atau cowok; pernah menulis di koran mana saja; atau berapa tahun sudah belajar menulis; sebab sebelum mereka dan ayah mereka lahir, telah disebutkan sebelumnya,

    bahwa sebuah nasehat layak kita dengar sekalipun itu keluar dari mulut anjing.

    Azhari

  42. Raisa

    chek resa kan lebih jago ngerayu daripada nulis, chek mita, kayak ga tau aja. haduh, segan nih komen serius di sini, chek resa yang cikilik kan masih penulis cilet-cilet… uhuk

    cikilik selalu

    raisa

  43. MuNa

    Aach jadi malu kalau ditanya begitu,,
    eh eh,,abang penulis ternyata bukan cuma rajin menulis, tapi juga rajin membaca!! saya ga tau banyak tentang itu bang, toh saya cuma penulis taik kucing yang lebih sering megang paintbrush daripada pena,,
    hati saya bekerja lebih lancar daripada lidah dan jari2 saya. jadinya saya cuma bisa membaca dengan mata hati saya, biasanya setelah hati itu saya coba gerakkan jari2 saya untuk menulis, tapi yach pasti lagi2 gagal.
    Akibatnya saya lebih suka membaca tulisan orang2 hebat yang tulisan-a uda dimuat dimana-mana, contohnya abang!! makanya saya datang ke blog ini. Karna saya tau, penulisnya hebat2,, ya abang salah satunya!!
    abang benar, saya memang perlu tau email abang..hihihi jadi dag dig dug ini,,

  44. MuNa

    Chek Mita!! kalo main rumah-rumahan ngajak muna lah.., muna disini main sendirian,,:((
    tau ga? kemaren muna lagi main tiba2 ada abang2 nakal yang dateng gangguin muna yang lagi main,,ih muna jadi takut main sendirian sekarang..:((

  45. Pang. Tuah

    Kawan-kawan, aso syuruga ban-bandum!

    Saya hanya terganggu dengan pertanyaan nindy yang mengulang “kenapa cut nyak dien dan malahayati tidak memakai jelbab.”

    Gambar atau lukisan Cut Nyak Dien yang slama ini kita lihat, seperti di uang kertas 10 ribu-an itu berasal dari satu-satunya foto Cut Nyak ketika sedang mencuci di sungai yang didapat oleh seorang fotografer setelah bersusah payah mengendap-ngendap dan menunggu selama tiga hari. Karena Cut Nyak pada masa itu tidak mau “dikodak”.

    Namun, yang pasti Cut Nyak tidak pernah mengenal jeans “Manggo, Josh, atau Bebe” dan Malahayati tidak pernah mengenal ukuran S, M, XL atau 36B.

    Ona love………………..!

  46. Ada tambahan gagasan baru, Azier???
    kami menunggu!

    Kawan-kawan yang baik, saya mencoba memberi gambaran betapa pentingnya rasa malu bagi kita sendiri.
    Islam dalam Al-quran membenarkan adanya batasan aurat pada manusia. Dalam hal itu, disebutkan bahwa yang “berbentuk” harap “diamankan” dari segala bentuk yang bisa menimbulkan imajinasi negatif bagi yang sengaja mengejakan matanya pada bentuk itu.

    di ulee kareng sapi masuk ke halaman rumah tetangga, ada manusia yang marah. Itu terjadi karena sapi tidak memiliki akal yang cukup untuk membedakan rumput antara rumput sawah dengan rumput yang dilindungi si tuan rumah.

    sekali lagi manusia tidak seperti sapi. manusia berakal. manusia bisa berpikir, ketika saya menggunakan pakaian yang bisa “menonjolkan itu” apa yang akan terjadi. Pasti kepikiran kan?

    Saya senang membaca tulisan Azier. dia mencoba menyikapi moral syariah melalui jilbab yang dijadikan sebagai objek. Tapi, sekali lagi, ada yang marah.
    katanya Syariat itu bukan hanya khalwat, khamar, dan maisir. Terus apa yang harus dilakukan sekarang? menetang apa yang sudah dicoba oleh Azier?

    itulah menusia, tidak pernah puas dengan apa yang dibuat orang. padahal diri sendiri tidak bisa apa-apa.

    Nindy yang baik… tubuh manusia memang menarik, kuda saja sanggup “menusuk” lubang Madona. Mungkin karena saat ini Nindy sedang berada di negeri boleh pakai baju “stengah bugil”, jadi memakai jilbab takut dianggap tidak cantik. oleh karena itu, saya tidak mau ikutan berdiskusi masalah ini. nanti dimaki. takut!

    Buat moderator… Haramkan comment yang masuk tanpa menyebutkan nama asli. trims

    Satu pertanyaan boleh?
    Ini dia:
    Manusia tidak boleh menampakkan aurat kepada manusia yang tidak memiliki hubungan apapun. muhrim.
    terus jika kita sendiri dalam kamar, boleh kita shalat tanpa busana? kan hanya makhluk halus yang lihat. malaikat juga tidak bernafsu.

    Prinsipnya Aceh mempunyai identitas sendiri yang tidak ke Barat-Baratan ataupun ke Arab-Araban (no westernisasi and no Arabisasi)

  47. nindy

    heh, maap ni bang akmal,
    ehek, apa ya hubungannya? kok bawa2 aku sih? heheheh
    aku tetap cantik kok walaupun pake atau ga pake jilbab… hehehehe, ya terserah aku toch? aku ga pake jilbab bukan karena aku di sini atau apapun, tapi aku ga mau dipaksa. gt loh! jadi kok bang akmal pikirin sih? ehhehehehe. emang bang akmal tau, kalo aku bakal masuk surga kalo pake jilbab sampe ga nampak apa2? uhm, kalo tau aku salut deh… hihihhihi,
    memang kita manusia bisa melegitimasi emangnya siapa yang bakal diterima tuhan dan siapa yang ga? Kan katanya Tuhan yang serba tahu..
    huhuhu

    nah bang akmal, jangan takut dimaki, emang ada dimaki ga? ga kan?? hehehehe

    aku mau tanya juga nih soal bentuk… bukannya jorok ya, tapi laki2 kan juga punya bentuk tuh, cek aja ya! hahahaa

    aku mau tanya lagi neh, emang kayak ab akmal bilang aceh punya identitas sendiri, itu macam apa? pengen tahu nih,, aku kan masih anak kemarin sore nih… hehehe
    bang akmal lebih expert kali ya??!

  48. Ahoi……. memang Nindy tetap cantik kok! mau pake jilab. ga pake juga tetap cantik. itu relatif. bener, mbak?
    Kalau saya tahu siapa yang akan masuk surga dan siapa yang akn masuk neraka, saya sudah bunuh diri. meskipun haram hukumnya. tapi jika itu jalan saya lewat ke tempat indah itu. maka saya akan melakukannya. apapun caranya.hehehee…
    bukan kuasa saya untuk mengetahuinya.
    Di kampungku, ada kisah menarik, seorang pemuda-dia salah satu anak dari Abu yang dianggap mulia sebagai ulama Aceh-pernah mengeluarkan kata “Aku tahu kapan kau mati.waktu,hari,tanggal,tahun,menit,detik. bahkan katanya “aku tidak pernah meleset.
    hahahaha…. tidak berterima bukan?
    tapi pengikutnya menganggap itu sebuah kebenaran. huuhuhuhuh takut… katanya dia tau kalau orang sedang membahasanya. makanya ngak ku ikut sertakan nama dia. biasanya kalau ada orang hilang kreta atau apa saja, berobat juga, sering ke tempat pemuda itu. tapi aku belum pernah dengar kabar ada kereta yang ditemukan di tempat lokasi dia beritahukan.

    Soal bentuk,.. aku juga heran. apa ini untuk kecocokan atau bukan antara perempuan yang menahan tusukan dengan laki-laki yang menusuk.

    identitas Aceh….? sederhana saja. Nindy bukanlah Luna Maya ataupun Julia Perez. Nah Aceh juga gitu, Aceh bukan Arab, Aceh bukan Barat.
    cuma sudut pandang orang kita yang sebenarnya rumit. biasanya meramu antara dua hal yang sangat berbeda. misalnya pisang dengan monyet. maka jadilah Pisang Monyet. padahal monyet adalah monyet. dan pisang tetaplah pisang. Begitu juga pisang dengan ayam. jadinya pisang ayam.

    saya bukan ahli, tapi suka meraba…. hahahahahahahahahahhahhaa….
    kapan ke pulang nenek sihir? aku kangen sama kalian. Mita dan raisa juga, semakin berisi kulihat. wekekeke!!!

  49. Azhari

    Akml, kau belum menjawab pertanyaan Nindy soal identitas. Identitas tidak sesederhana Luna Maya ataupun Julia Perez, apalagi pisang monyet. Kalau Aceh bukan Barat, Bukan Arab, maka kau bisa jelaskan dengan baik Aceh itu apa? Kalau kau belum bisa jelaskan, lebih baik kau bilang tunggu, sampai kau bertemu dengan jawaban yang menurut kau ok.

    Ok lanjut diskusi kalian yang asyik. Aku tak akan kaburkan pendapat kalian, sejauh antara jawaban dan pertanyaan tak kalian buat kabur.

  50. azier

    Maafkan Saya Tuhan, Karna Telah Menulis SGM 2 dan Huruf V

    Jika pada komentar saya di atas dengan emosi tinggi. Ini bukan tanpa sebab. Bagi saya, sebuah penghinaan ketika disuruh onani. Ini yang tak saya terima. Apa hubungannya onani dengan tulisan saya? Apakah saya sedang menulis detail tentang proses hubungan sepasang monyet dua kaki yang sedang bersenggama? Sehingga saya disarankan untuk onani? Seperti novel-novel porno yang ketika SMP dulu kami berebut membaca rame-rame. Boleh saja engkau berkomentar dan benar menurutmu. Tapi, bagi saya tidak. itu bukan kritik, tapi hinaan. Saat ini saya masih menganggap kita kawan, bukan lawan apalagi musuh. Engkau tahu masalah malu ketika dibaca oleh teman-teman saya di kampus. Hingga mereka bertanya siapakah gerangan orang yang menulis demikian. Tak menarik lagi, jika sudah menyuruh orang pada hal O-N-A-N-I. Dan ngomong-ngomong engkau berapa kali sehari? Bagusnya tiga kali sehari, seperti minum obat. Biar tak kena kanker prostat, kata tukang obat di kampungku.

    Saat menulis ini saya sedang berada di rumah teman. Karena menumpang menulis komen di komputer miliknya tentu lebih irit jika berlama-lama di warnet. Jujur, air mata saya meleleh membaca semua komentar yang saya Save As dalam flaskdisk lalu saya baca di komputer. Saat itu teman yang punya komputer masuk kamar dan bertanya sebab saya menangis. Saya tersenyum. Terharu ketika membaca beberapa komentar terakhir. Apalagi dari komen sebuah judul; azir kau harus kembali! Ada satu komentar yang membuat saya haru. Walau beberapa kalimat yang harus saya baca berulang-ulang berulang-ulang. Dan saya yang tolol ini tak pernah bisa faham. Tidak bisa nalar beberapa maskud itu. Huh, betapa konyolnya diriku teman? Ada kata-kata begitu kuat terekam dalam otak saya; AZIR KAU HARUS KEMBALI! Tanda seru diujung kalimat itu yang membuat saya berpikir berkali-kali. Sungguh menyesal itu tak enak karena telah menulis ini. Saya harus mempertanggungjawabkannya. Ya, benar!

    Sepertinya di Dôkarim perlu dibentuk sebuah lembaga lagi, semacam Pengadilan Penulis katakanlah. Nanti akan ada Hakim Sastra, Pengacara Sastra, dan Jaksa Sastra serta penjara sastra buat penulis yang tak bisa bertanggung jawab. Bisa jadi saya orang yang pertama masuk ke penjara itu, dan menulis hanya dalam mimpi saja. Ini profesi baru. Bagus bagi yang sedang menganggur.

    Saya kembali teringat ketika saya gagal mengikuti audisi pertama kalinya di sekolah yang telah melahirkan orang-orang kritis nan berani. Dan saya yang masih tetap seperti dulu, pecundang wal pengecut. Sadarlah saya sekarang, jika kali kedua (tahun 2007) saya ikut audisi lalu diterima hanya karena semangat saya agar bisa masuk sekolah menulis yang dinilai -ini hanya persepsi saya- Rektor Dokarim kasihan melihat saya. Saya yakin benar sekarang.

    Bagi yang jarang buka Al-Qur’an, ini kutipan sebuah ayat.
    “Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuan dan istri-istri orang beriman; hendaklah mereka mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu, dan Allah adalah maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Al Azab: 59).
    Saya bukan ahli tafsir, makanya saya tak berani menjelaskan maksud ayat di atas.
    Dan semoga memakai jelbab tidak melilit di leher. Tapi menutupi seluruh dada.

    Saya teringat sebuah kisah yang menceritakan seorang perempuan mendatangi rumah makan. Dengan santai dia memesan makanan yang ada di daftar menu. Saat itu seorang pelayan berkata pada perempuan tadi; Maaf Bu, disini kami hanya menyediakan daging babi.”
    “Astagfirullah,” kata perempuan itu.
    “Saya lihat ibu memakai kerudung, hingga saya tahu ibu seorang muslim” kata pelayan.

    Kita bisa bayangkan jika perempuan itu tidak memakai jelbab, apa pelayan akan tau bahwa dia muslim?
    Bagi yang pernah ke luar negeri, mungkin belum dan siapa tau akan mengalami seperti ibu yang saya ceritakan di atas. Saudaraku, coba kita perhatikan siapa yang lebih sering digoda dan diganggu lelaki di jalanan? Muslimah atau atau perempuan (AJBK) atas jelbab bawah ketat.
    Seorang Luna Maya sekalipun pakai jelbab sopan dalam sebuah iklan operator seluler di Aceh. Ini menandakan dia orang luar begitu menghormati tentang syariat yang sedang berlaku. lalu, bagaimana dengan kita? (termasuk saya)

    Saya menulis atas apa yang saya lihat, saya dengar dan rasa. Itu yang saya dengar dari celoteh seorang penulis sebelum masuk sekolah cerdas ini. Dan sepertinya tak bisa dipakai lagi teori itu. Saya telah dibohongi. Ada juga yang sebut menulis itu seperti membunuh kecoak di kepala. Motto saya, menulis itu seperti mengeluarkan angin lewat dubur. Maaf, kalau aku harus mengatakannya; kentut. saya akan lega, sebab bau busuk pukayma itu tercium menyengat sampai ke Amirika. Eh, Amerika hai. Saya tak tau apakah George Bush aneuk bajeng haram jadah itu menciumnya juga.

    Terjemahan Al-Quran saja saya tak pernah buka, seperti yang disebut di atas. Saya hanya baca buku Elemen Mesin Hingga, CAD/CAM, CNC, Konversi Energi, Mekanika, Statika, Rancangan Elemen, Intruction Manual Heat Transfer dan banyak sekali buku sejenis tak ku tahu lagi. sekali-kali baca buku cara menanam cabe dan ternak itik. Hanya itu.

    Untuk orang-orang yang tak sefaham dengan tulisan saya ini tak mengapa juga. Saya tak pintar debat. Tak banyak membaca buku-buku tentang pikiran-pikiran orang-orang Barat. Alasan saya sederhana saja. Tak memaksa mereka berkata setuju pada tulisan saya. Saya tak paksa semua orang mencium kentut saya. Jika tak berkenan, tutup saja mulutnya pakai uang. Biar berbau uang. Saya bukan orang yang jago debat. Hingga bisa masuk dan berdebat tentang UN di gedung Dewan kita yang terhormat (tabệk kawan, engkau memang hebat) Tidak! Saya bukan itu. Saya hanya orang yang SOSIAL; sombong dan sial. Karena telah menulis tentang pantat perempuan. Semoga saja bukan kali ini waktu yang tepat berhenti menulis. Saya tidak akan lagi menulis tentang Jelbab Ketat, mungkin akan menulis tentang Atas Kerudung, Bawah Warung!
    Tunggu saja.

    Ini musim demokrasi di Nanggroe Aneh Darussalam. Alah, Nanggroe Aceh Darussalam hai. Saya senang jika tulisan ini tidak dihina, tapi dibina. Kepada guru, terima kasih telah memberi pencerahan hingga saya mau menulis komen ini kembali dengan panjang, walau jauh dari harapan. Dan maaf juga jika telat membalas, ke warnet pun saya seperti ke Kantor Gubernur. Jauh tapi dekat.

    Akmal, Engkau telah membantu mengikat lembu-lembu saya. Moga saja ia tak lagi liar dan masuk rumah tetangga. Hingga dilempar dengan batu dan kena kepala saya sekalian. Jika pun ia masih liar dan makan rumput di rumah tetangga, kita ulang kembali ejaan selingkuh; rumput tetangga lebih hijau dari rumput rumah kita sendiri.

    Oke saya tanggapi sedikit. Saya pikir CutNyakDhin bukan tak pakai Jelbab. Tak sempat pikir dia. Sebab mengatur strategi perang lebih penting dari harus pakai jelbab. Dan kita sekarang, tak ada lagi perang seperti pada masa Belanda yang pukayma itu. Maka, berpikirlah untuk berpakaian yang Islam seperti yang diajurkan dalam agama Islam. Menutup aurat, bukan membungkus. Jangan lagi buat lelaki harus onani ketika melihat perempuan pakai celana ketat, seperti yang saya dengar dalam sebuah topik siaran radio Minggu lalu. Tentu kalian bertanya. Di mana imannya? Tentu saja sebagai manusia yang normal, hasrat itu sulit terbendung. Seorang alim sekalipun akan tergoda. Kadang ada rasa penasaran mengguncang. Tapi ketika telah telanjang bulat, tak bisa apa-apa lagi. Tak lagi selera, ibarat kata slogan klasik kita; nafsu besar tenaga kurang.

    Tak baik bawa nama orang tua. Benar. Tapi ketika telah membandingkan dengan saya, maka saya perlu sebutkan siapa identitas saya. Saya pernah ditangkap aparat saat demo referendum tahun 1999 ketika SMA dan di pukul hingga otot-otot saya lemah tak berdaya. (sebagian dari kita juga pernah mengalami). Saya yakin jika saya anak seorang pembesar pada waktu itu, mereka tak berani sentuh kulit saya. Nek Ma’e di kampung saya menyebutnya ini politek bijeh. Ya, politek bijeh tetap berlaku.
    Akhir kata pembaca yang budiman, terima kasih telah memberi komentar pada tulisan ini. Oya, sebelum saya mengakhiri baiknya kukutip juga slogan emas yang hingga detik ini masih dipakai sebagai penghias pantat truk lintas Sumatera; Kutunggu Jandamu. Maksudnya kutunggu komen selanjutnya. He-he-he.

    Ya Allah, maafkan saya karena telah menulis tentang PANTAT!
    __Siwõk__

    • Pejabat Urus Setia Sekolah

      No: Istimewa/SMD/Sarakata/Rektor/1873-2003
      Pro: Saudara Muhadzzier M. Salda

      Mewakili Rektor Sekolah Dokarim yang berkhidmat selama setia, maka dengan ini saya hendak menjernihkan persepsi saudara tentang proses penerimaan saudara sebagai kerabat almamater Sekolah. Yang mulia Rektor tidak pernah merasa kasihan untuk menolak atau menerima seseorang guna terlibat dalam meja debat di kelas atau jurusan apa saja; novel, esei ataw kritik kebudayaan, yang ada di sekolah. Seperti beliau tak pernah meratap karena -misalkan- salah seorang peserta terkasih harus pergi sebelum tamat tanpa pamit. Tak ada rasa kasihan, cuma ada keadilan atas nasib masing-masing. Dan nasib dan takdir bukan sama sekali di tangan Rektor yang mulia, tapi di ‘kaki’ pikiran saudara sendiri. Beliau berkenan untuk tak perlu tahu masalah pribadi tiap peserta Sekolah. Kecuali diminta secara khusus dan serius oleh peserta untuk menjadi pendengar yang baik atas keluhan-keluhan emosioneel mereka.

      Bahwa saudara punya kemauan kuat untuk kedua kali -seperti dalam paragraf akhir penyataan kelulusan setiap peserta yang diteken yang mulia Rektor Sekolah-maka saudara sangat berhak untuk diterima, saudara adalah prioritas karena semangat tak pernah dirundung patah asa (dan bukan sekali lagi karena kasihan) dibanding kawan-kawan seangkatan saudara yang tak lulus tahap pertama dan tak hendak beraudisi kedua kali sebab nasib mereka mungkin berbeda dari saudara. Jadi jangan runtuhkan kepercayaan Rektor yang mulia dengan persepsi keliru saudara. Itu naif bin janggal maka cabut segera dari ubun-ubun kesadaran.

      Sekolah Dokarim bukanlah lembaga penata kepribadian. Ini tempat sederhana untuk memuliakan pergerakan pemikiran atas nama kebudayaan yang terus tumbuh. Diatas prinsip penghargaan gagasan diatas gagasan yang sangat kompleks. Karena kita sama percaya kebenaran itu tak satu lembar seperti iklan lowongan kerja di koran tapi lebih mungkin bak kedai buku; ada beribu kebenaran dijaja disana. Menulis adalah pasti tindakan kebudayaan itu sendiri dan kata-kata adalah pasti ‘anak peradaban’ penulis. Syukur jika kemudian menulis bisa mengubah (membuat sehat-kuat) kepribadian kita.

      Jadi, Rektor yang mulia mengirim salam hangat bagi saudara seraya menegaskan sekali; jangan campurkan perasaan ke dalam pemikiran nanti rumit serumit rasa keadilan yang sering dikhianati rasa kasihan. Maka perkokoh konstruksi ide secara matang seperti konsepsi kuda troya tanpa perlu pakai kacamata.

      Juga dalam pada mengucap terima kasih dan tabik lima jari diatas kepala, Rektor yang mulia berkenan menolak gagasan saudara agar Sekolah membuat ‘pengadilan” terhadap gagasan atau pikiran seseorang sebab sekolah bukan mesjid atau gereja. Ini Scholes -waktu luang, dan selepas scholes maka tiap peserta akan memikul nasibnya masing-masing. Dan Rektor yang mulia tak hendak duduk di altar penerima pengakuan dosa atau tukang vonis yang tak pernah keliru atas sebuah tulisan. Pun jika beliau dengan sadar ikut menulis bersama untuk sebuah tulisan justru pertanggungjawaban yang akan beliau berikan. Apalagi akhir-akhir ini beliau lebih sibuk di pusara Siti Kuntari yang kini lebat ditumbuhi mawar putih sambil membaca keras-keras kitab ‘Five Centuries of Verse (Lima Abad Sebuah Ayat)”.

      Demikian amaran singkat beliau ketika saya kisahkan hiruk ‘pasar ide’ dilaman ini. Semoga saudara sehat selalu dan bahagia, jangan lupa sesekali waktu singgah kembali di almamater. Teriring jua erat jabat buat sekalian alumni dan sesiapa saja yang telah membikin riuh gembira sindikasi meutuwah nan riang ini. Pesan akhir beliau–ini jaman boeroek, maka kita toelis tjerita sendiri jang tak bikin tambah boeroek jaman”.

      An. Rektor Sekolah Dokarim,
      Pejabat Urus Setia Wilayah Polah Alumni
      Ozani Bin Luthan

  51. Oryza

    azier! kau telah kembali!

    sungguh azier, kau adalah teman bagiku. tulus ucapan ini keluar dari mulut ku. dalam diri pribadi ku, ada sebuah rasa bangga pada mu. kau bertahan. kau bertahan….!!!

    aku hanya ingin bilang semua kritikan ini adalah membangun azier. percayalah.

    jika kau menganggap komentar ku, adalah penghinaan. itu salah besar! renungkan kembali komentar ku kepada tulisan mu.

    onani?? saya melakukan onani 2 minggu sekali. itu pun tidak rutin. dan onani itu adalah sesuatu yang manusiawi. mengapa engkau mengatakan itu adalah sebuah penghinaan?

    kau tahu azier, betapa aku mencintai mu setelah membaca tulisan mu soal jilbab!

    kau dan aku adalah sama, begitu juga anak anak dokarim yang lain! kita semua memilki semangat untuk melawan sesuatu! dan semangat itu yang membuat ku menyukai mu. membuat kita menyukai mu.

    aku mencintai mu seperti aku mencintai bocah bocah palestina yang melempar tank baja dengan batu. sungguh pun betapa konyol anak itu, yang tak mampu menggores baja besi dgn batu.
    namun satu yang membuat kita kagum dan meneteskan air mata,SEMANGAT UNTUK MELAWAN! sekonyol apa pun bentuk perlawanan, tetap PERLAWANAN!

    itu yang ku tangkap dari mu, kawan.

    azier, hati kecil ku merasa perih. seperih hati mu melihat tuhan di permainkan, dan agama di lembaga kan di bumi aceh ini. membuat celah untuk melecehkan apa yang kita anggap suci selama ini.

    menulis lah seperti yang kau singgung di atas. lawan terus apa yang menurut mu benar, dan aku aku akan lawan terus apa yang menurut ku benar!

    menulis adalah jihad kata.

    oryzos

  52. Edi Miswar

    Dalih, alasan, terkadang demikan sulit ketemu. Mungkin karena sifatnya yang subjektif. Bagi kaum Adam, mungkin begini, tetapi mungkin tidak begitu bagi kaum Hawa.

    Dalih atau alasan sengaja saya bungkus dalam bentuk narasi. Bukan karena saya tak yakin jika harus memuntahkan pernyataan-pernyataan saya dalam bentuk argumentasi.
    Ilustrasi lainnya. Ketika saya beranjak remaja, di kampung saya tidak ada satu pun perempuan yang boncengan dengan laki-laki – apakah itu suaminya – mengangkang. Kemudian muncul satu dua. Dari mulut perempuan – kakak-kakak saya belum berkeluarga – terbit komentar-komentar betapa buruk moral perempuan itu. Tetapi kemudian saya lihat sendiri, kakak-kakak saya tidak lagi berboncengan gaya duduk menyamping.
    Simpulan saya; nilai bisa berubah karena dibiasakan. Lantas, di mana letak pembatasan dalam agama kita dalam soal bonceng-membonceng itu? Nah, ada cerita lagi dari saya – biar kita sama-sama interpretasikan; tempo hari saya berleha-leha di persimpangan – saya menanti lewat seorang dara manis dari kampung sebelah yang saya taksir – di kampung saya (maaf, karena agaknya saya terlalu kekampungan). Entah bagaimana, pertama muncul dua lelaki separuh baya (keduanya tukang ojek). Kemudian datang seorang janda (dia terkenal sangat rajin ikut pengajian). Dan, janda ini sangat menentang perempuan-perempuan berboncengan dengan tukang ojek karena menurutnya ihwal tersebut melanggar ajaran agama. Dua lelaki itu lalu menceritakan beberapa istri teungku-teungku ternama di kampung kami kepada janda itu. Janda itu tetap pada pendiriannya. Lalu pergi dengan muka masam. Kedua laki-laki itu kemudian menggunjing perempuan itu. Memang itu saya tahu, janda itu punya dua anak perempuan. Yang bungsu bukan anak dari suaminya karena suaminya telah lebih dulu meninggal.
    Kalimat awal saya di paragraf di atas; bisakah nilai berubah karena keadaan? Tentang itu saya pernah baca sejarah pantalon. Dulu, yang memulakan mengenakan pantalon itu dari orang-orang Muhammadiyah. Kritik pun dituai, orang-orang Muhammadiyah dianggap telah menyerupai kaum non Islam. Nah, sekarang, bagaimana muka pengkritik itu ketika banyak ulama-ulama telah mengenakan pantalon dan tidak sempat-sempat lagi mencungkil bahwa itu juga produk barat.
    Mungkin, sama juga dengan fenomena yang terjadi sekarang. Jilbab tapi ketat.
    Apakah gara-gara menonjol dan curam saja bisa membuat laki-laki terlonjak-lonjak hasratnya. Saya pernah terlanda risau yang begitu-begitu karena anak musalla. Sesungguhnyalah. Padahal, si ukhti tersebut berpakaian super terlapis.
    Soal terlanda atau tidak itu, mungkin (maaf, tulisan saya banyak sekali kata mungkin) tidak hanya pihak wanitanya yang perlu kita berpusing-pusing berpikir. Alas dari kata saya ini karena nabi sendiri pernah berkata; pandangan pertama adalah rahmat. Tetapi pandangan kedua itu laknat.
    Saya tidak tahu apakah hadist ini lebih diperuntukkan bagi laki-laki ataukah juga untuk perempuan. Saya sendiri, sebagai laki-laki, sangat merasakan kebenaran dari hadist tersebut. Sebahenol apapun seorang cewek yang melintas di hadapan saya jika saya menerapkan hadist itu pada diri saya, saya yakin tidak akan tergoda. Walau si perempuan itu tanpa sepasang sandal pun.
    Sayangnya, laki-laki yang mampu berprilaku seperti itu bisa ditertawakan jika ada yang mengatakan; masih ada yang seperti itu, dia sedang minum teh manis di kantin. Saya yakin, meskipun, ustad-ustad yang memiliki bola mata teduh itu, hanya mampu mempraktekkan hadist tersebut di muka publik saja. Atau bila pun mampu tetapi serupa berjalan di tanah yang telah diprediksi penuh sebaran ranjau.
    Kapankah kita dapat memungut solusi dari diskusi? Supaya kita dapat membahas persoalan lain. Kemudian kita sama-sama tersenyum. Lalu kembali berdialektika. Saya yakin semua punya solusi. Bukankah semua kekusutan dapat diurai.
    Patut direnungkan bahwa persoalan kelayakan bagaimana seorang muslim berdandan ini diserbu pula oleh kapitalisme yang ganas; dari film, fashion, dan food. Pola pikir kita dibentuk dari jaring-jaring (bisakah kita sebut jebakan?) barat yang bertitik semua pada mekanisme pasar, keuntungan. Sementara itu kita yang menganut agama Muhammad, suatu umat yang terkelupas di seluruh tubuh; pendidikan, teknologi, kesusastraan, politik, dan ekonomi masih saja larut mempersoalkan seumpama ghanimah di perang Uhud.
    Duh, kepala kalian ada tidak ya yang teriak-teriak; seharusnya laki-laki saja yang pakai jilbab. Seharusnya perempuan saja yang jadi sopir dan keneq labi-labi. Laki-laki saja yang menggunakan rumus; dapur, sumur, kasur.
    Astagfirullahal ‘azim. Maaf. Maaf. Sebagai permohonan maaf saya, saya bagi baca satu puisi saya ya.

    kekasih V

    cintaku
    kau pedas seperti sambalado
    mungkin karena aku ragu-ragu mencumbumu malam itu

    kau putih seperti kertas catatan harianku
    kau terasa pantas berada di sampingku
    kita bagai bendera Indonesia yang manis
    kita berbeda tapi selalu berdua

    cintaku
    kau banyak bicara
    tapi aku senang keadaannya jadi tak lena
    bila kau cubit … augh!
    aku merasa haus
    ingin mempesiangmu manis

    ah, harum rambut salonmu
    sebenarnya aku tak suka
    hingga … augh!
    kenapa tega-teganya sayang
    main cubit segala
    sakit
    augh! cintaku … kurang ajar!

    Kamis, 6 April 2006

  53. Gemasastrin PBSID

    Azier… kau jangan kembali, tapi berbaliklah. Ingat, setelah tekongan di depan sana, masih ada tekongan lainya, dan tekongan yang lain lagi. Maka, manakala kau tak mau bertemu dengan tekongan berikutnya, berbaliklah…berbaliklah, Azier…
    Ory, aku ada pertanyaan, kau bilang Azier bertahan, tapi aku melihat dia hendak maju semakin jauh tanpa melihat tekongan di depan… gimana ini??? atau aku yang salah lihat ya…? tapi, sungguh aku mendengar Azier sedang mempersiapkan perahu “Atas Kerudung, Bawah Warung!” untuk menuju ke puncak Nuh. hehehe…

    Herman RN

  54. To: Muhadzdzier M.Salda.

    Semua bermula dari ‘isi otak’. Pengalaman perjalanan, bacaan dan tontonan hanya peranti lunak yang membentuk sistem kerja otak.

    Dianjurkan service kembali ‘isi otak’ bila; nonton film India di TPI bisa horny, nonton sinetron justru membangkitkan gairah sexual atau nonton monolog Rieke terus terangsang.

    Cara service; lumat buku sebanyaknya, tidak berhenti diskusi atau rajin-rajin pake sarung agar bisa merasakan nikmatnya pake rok.

    Jabat erat
    Maimun Saleh

  55. azier

    mantrap.

    selamat menonton!

    baru kali ini kudengar nonton indi bisa horni.
    pengalaman?

  56. Tulisan yang bagus!
    Saya sependapat dengan anda!
    Hanya jilbab yang kini jadi maskot girls Aceh!

  57. Mantap bro … saya setuju dengan tulisan anda Ajier, bagus, sangat lantang, walaupun ini terkesan “vulgar” dalam menilai sisi feminismenya, tapi saya suka, dan alangkah baiknya jika kata-kata seperti boh labue ie, miss v, susu SGM, peruncun, Tinja dan beberapa kalimat “hot” itu diganti dengan yang lebih soft sedikit, tentunya akan menjadi lebih baik,

    Ada pro kontra di komentar para pembaca tentunya merupakan hal yang lumrah, dan bisa diterima, semua itu kan buah pemikiran, dan saya setuju dengan pemikiran yang malandasi tulisan unik anda ini, sangat lantang…. jujur saya gak berani nulis yang beginian, tapi anda berani mngungkapkan isi hati anda dalam menggambarkan realitas yang anda alami sehari-hari, mantap bro, tetap konsisten.

    saya melihat tulisanmu ini sebagai otokritik, walaupun untuk perempuan yang membaca-nya bisa bikin merah telinga, ini otokritik yang bagus, karena anda tak hanya menjadi pengamat, tapi juga pelaku dalam menyikapi realita ini, oh ya, saya pikir, tulisan ini sebagai wujud dari upaya hablumminannas yang anda lakukan sebagai seorang muslim, sebuah ajakan untuk mengingatkan pihak lain untuk bisa mengintrospeksi diri, untuk lebih memahami siapa dirinya, dan seperti apa agamanya mengatur semua tingkah lakunya, salut saya ajier..

    oh ya ajier, saya pernah mendengar salah seorang tean berkata seperti ini ” orang non islam, mereka menjadi maju karena meninggalkan agama mereka, dan kita orang islam menjadi tertinggal karena meninggalkan agama kita “, saya tak mau lah bermuluk-muluk bicara masalah teologi disini, tentunya dirimu sudah tahu jier betapa komplitnya aturan islam dalam meregulasi perilaku umatnya, dari bangun tidur sampai tidur lagi, dan Alhamdulillah jier, sampai saat ini saya belum mendapatkan hal itu di teologi lain, jikalau ada, tolong beritahu saya lah, tapi jangan yang dogmatis atau hanya moraliti .

    ini masalah Aqidah jier, aqidah yang membutuhkan pembenaran yang pasti terhadapnya, tak hanya setengah-setengah atau sebahagian, tak juga sepenggal-sepenggal, tak hanya mengambil agama untuk ritual shalat saja, tetapi juga untuk urusan muamalah , seperti halnya yang dirimu tuliskan ini, dalam hal perilaku, islam juga mengaturnya, kita tentunya bukan orang suci, hanya Rasul ayng suci, tetapi ini tentang konsep persaudaraan yang berdasarkan pada hablumminanas itu, bukankah islam itu satu tubuh, dan ketika salah satu anggota tubuh yang sakit, maka bagian yang lain juga akan merasakan sakit, begitu juga dengan yang dirimu tuliskan ini teman, ini wujut keperhatinanmu, ataupun saya terhadap realita saudara kita yang sedang sakit itu, sebagai bagian darinya kita tentunya merasakannya, dan berusaha untuk menyembuhkannya .

    Ajier, saya sependapat denganmu, saya pikir tulisanmu ini tak berusaha untuk menafsirkan “kepornoan” dalam ruang lingkup sempit dan picik, karena ini tentunya bukan tentang kepornoan itu, tapi mengenai realita sebuah degradasi, dalam hal ini saya tak mau dulu masuk dalam ranah relativitas, otak masing-masing selalu objektif, makanya dibutuhkan sebuah rule, atau aturan dalam mengartikannya, contohnya begini jier, bagi kaum nudist, telanjang itu adalah sesuatu yang lumrah dan biasa, lantas apakah karena kaum nudist menanggap bahwa telanjang itu boleh maka kita harus menyetujui dan mengadopsinya? tetunya tidak bukan? begitu juga dalam realita sekarang, tak bisa dikembalikan kepada pendapat umum, paradoks jadinya.

    Ajier, mantap tulisanmu, terakhir jier, ini tentang jilbab itu, setahuku yang dipakai oleh gadis-gadis sekarang itu bukan jilbab, tapi kerudung, karena jilbab itu terminologi arab, maka artinnya pun harus diartikan sesuai dengan pengartian daerah asal … begitu menurutku jier …Al-Ahzab:59

    salam hangat jier … sukses selalu ..

    Muda Bentara.

  58. ayeart

    lau emang semua itu urusan dengan Allah
    jadi kenapa dilahirkan apakah salah orang tua anda,,
    saya menilai apa yang ditulis Muhadzdzier M. Salda
    itu realita di aceh saat ini
    yang mana aceh lama aceh baru dan aceh sekarang adalah kehidupan krisis moral,
    dimana perempuan hana harga diri (sebagian)
    karena kalau kita kembali ke sadaranya masing-masing apkah manusia di banda aceh mayat hidup tanpa sadar,,,atau ada mati kedua kalinya.
    atau semua itu salah lingkungan
    apakah Tuhan menciptakan lingkungan
    semua itu adalah :
    – salahkan orangtua
    – pemimpin
    – lingkungan
    karena pemerintah telah membangun sarana hiburan atau tempat wisata yang mendukung untuk mesum,, dimana di kota banda Aceh hampir semua tempat wisata di jadikan tempat mesum karena ada kesempatan .. masyarakat menikmatinya,,
    jadikan aCeh sebagai kota yang islami
    amin,,

  59. saya setuju…

    Saya salah satu A-B-G Aceh yang merasakan langsung cerita kamu..

    Hmm… zaman udah edan nih

  60. Hmmm…
    Hayeu..
    Lantak terusss sampai berutusss…!!
    tapi ingat jangan sampai Hangusss…!!

    Huhu

  61. Bang Maop

    hahaha….
    makasih Utoh Ajir sudah sampai pada tulisan tolol ini yang tak bersimpang.

  62. moe

    sumpah….bang maop…ini pertama kali ku baca tulisan dan komentar para lulusan dokarim…maaf juga karena aku bukan sapa2 yang udah berani komentar disini.
    tapi sepertinya tulisan ini dan komentar komentar nya yang menginspirasi aku untuk segera mampir ke sekolah dokarim.
    mohon petunjuk dimana letak sekolah itu sekarang..katanya di daerah ulee kareng,tapi sudah kucari gak dapat,mohon informasi nya.. TQ

  63. Mantap!!!
    Si penulis dibully.
    Bolehkah Saya tahu link tulisan selanjutnya: “Atas Kerudung, Bawah Warung.”?

    Salam hot,
    Pemerhati Rukmini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s