Tsunami Museum : Penghancuran Ingatan Kolektif, Bencana, dan Sejarah

Ditulis oleh: Rizki Alfi Syahril

Masyarakat yang terluka mengenang luka mereka dengan empat cara: dalam doa, dengan monumen, dengan kesaksian, dan sesekali dengan museum – meski yang terakhir ini terkadang harus dibayar sangat mahal.

Rencana yang Belum Rampung

Tanggal 25 Oktober 2008 adalah batas waktu penyelesaian sebuah megaproyek yang dibangun di Aceh. NAD Tsunami Museum atau Museum Tsunami NAD adalah nama megaproyek itu. Beberapa pekerja masih sedang berusaha merelief dinding gedung itu sambil bergantungan pada seutas tali.

Beberapa truk pengangkat pasir masih terus lalu lalang di areal gedung itu. Tenggat waktu penyelesaian megaproyek yang dimulai pembangunannya 17 Januari 2008 dan harus selesai 25 Oktober 2008 (sesuai dengan yang tertulis di papan nama proyek) akan terlewati. Pemborong megaproyek ini, PT Waskita Karya (Persero), belum mampu menyelesaikan pekerjaan itu tepat waktu, seperti halnya keterlambatan pembangunan 700 unit rumah bantuan Turki di Lampuuk yang pernah ditangani oleh PT Waskita Karya pascatsunami.

Tumbal Dinosaurus

Saat aku kecil, sekitar 8 tahunan, aku ingat untuk pertama sekali diputar tayangan Film Jurassic Park, melalui kaset tape VHS yang disewa ayahku. Film itu kutonton. Film itu kutonton lagi kala diputar di televisi beberapa tahun kemudian. Seminggu yang lalu, pertengahan Oktober 2008, di TransTV juga ada pemutaran film-film monster yang dikemas dalam Monsters Week. Yang memutar film-film seperti Jurassic Park, Godzilla, dan sebagainya.

Film itu, Jurassic Park, disutradarai oleh sutradara besar Hollywood, Steven Spielberg, yang mengadopsi novel karya Michael Crichton yang diterbitkan pada tahun 1990 dan kemudian diadopsi menjadi film yang pertama kali diputar pada 11 Juni 1993. Alur film Jurassic Park bercerita tentang keinginan seorang bilyuner tua, John Hammond (pendiri Ingen) yang bercita-cita untuk membangun sebuah taman dinosaurus. Dinosaurus, binatang yang diyakini hidup di zaman purba, dan telah lenyap karena pengaruh perubahan iklim yang ekstrim (ada juga yang berpendapat karena jatuhnya meteor di bumi) –di dalam film itu – berhasil diciptakan kembali oleh beberapa ilmuwan dari penemuan DNA dinosaurus dalam tubuh nyamuk yang terjebak dalam amber. DNA itu melahirkan dinosaurus betina dan steril!

Bilyuner tua itu lalu mengajak beberapa orang ilmuwan untuk mendengar tentang proyek yang sedang dikerjakannya di tempat itu. Proyek itu diberi nama Jurassic Park, sebuah taman hiburan yang menghidupkan kembali spesies dinosaurus. Para ilmuwan mula-mula dibawa ke dalam sebuah bioskop kecil 3 dimensi, tempat pemutaran film pendek tentang sejarah dinosaurus yang ia cita-citakan. Kemudian para undangan itu dibawa ke sebuah laboratorium tempat para ilmuwan pekerja berusaha menciptakan telur dinosaurus. Mereka juga diizinkan melihat bayi dinosaurus yang baru menetas. Dan kemudian, diikuti dengan tur mengelilingi kawasan itu, para ilmuan melihat kandang-kandang dinosaurus (kandang yang dilapisi dengan listrik pada dinding-dindingnya) yang ada di tempat penangkaran –yang rencananya bakal menjadi sebuah resor pariwisata yang megah dan bisa menghasilkan uang yang berlimpah bagi pemiliknya.

Lalu apa yang pada awalnya tak terpikirkan menjelma sebuah malapetaka. Ketika dinosaurus lepas dari kandang, mengamuk, merusak resor, mengejar rombongan ilmuwan dan dua orang cucu Hammond yang sedang mengelilingi taman itu. Malapetaka itu pun membawa kematian bagi para pekerja dan manusia yang ada di situ. Klimaksnya (di dalam novel asli) berujung pada tewasnya sang bilyuner tua! Penggagas ide pembangunan Jurassic Park itu.

Skala Penghancuran

Bunyi deru mesin dan asap hitam yang membubung tinggi di langit, mengisyaratkan ada pekerjaan besar di situ. Mobil truk berwarna kuning pengangkut tanah hilir mudik. Mesin pemancang tiang pondasi menggetarkan tanah tempat kita berpijak ketika menjalankan tugasnya, dan asap hitam tak henti-hentinya keluar dari cerobong mesin itu.

Rumoh Aceh as Escape Hill, begitu yang tertulis di papan nama proyek di depan gedung yang sedang dibangun itu. Banyak tukang yang menjalankan kerjanya. Mereka bergegas agar gedung yang dimulai pembangunannya pada 17 Januari 2008 dapat selesai pada 25 Oktober 2008. Kontraktor pemenang tender, Waskita, seolah tak perduli dengan pro-kontra perlu tidaknya pembangunan museum tsunami di Aceh.

Sampai saat ini, isu penolakan terhadap pembangunan museum tsunami masih terjadi. Pembangunan gedung ini adalah kerja sama dari empat pihak terkait, yaitu Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Pemerintah Kota Banda Aceh, dan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias. Anggaran untuk pembangunan museum ini dari DIPA 2008.

Nilai kontraknya tidak tanggung-tanggung, Rp 60.417.000.000.

Museum tsunami ini dibangun di atas tanah bekas kantor Dinas Peternakan NAD. Rencana awalnya, kata Nurdin AR, Kepala Museum Aceh, saat diwawancarai pada pertengahan Maret 2008, “Museum tsunami akan dibangun di tanah bekas gedung PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api), pas di simpang empat, dekat Taman Sari, Banda Aceh. Sehingga bila dilihat dan didatangi dari semua penjuru jalan menuju kota Banda Aceh, maka tempat itu sangatlah strategis. Tapi tanah di bekas gedung PJKA tak bisa dipakai untuk rencana pembangunan museum tsunami, sehingga para pemrakarsa pembangunan museum memutuskan untuk membangun museum tsunami di bekas kantor Dinas Peternakan Prov. NAD, dekat lapangan Blang Padang, B. Aceh.”

Ide dasar pembangunan museum tsunami masih dipertanyakan. Apakah para pemangku kepentingan telah mulai memikirkan rencana untuk pembangunan sebuah museum tsunami pada mingu-minggu awal setelah bencana tsunami menerjang Aceh? Atau gagasan ini muncul setelah adanya pengaruh atau ide dari luar Aceh, agar adanya sebuah museum tsunami di Aceh, seperti halnya Jepang dan juga Thailand yang mendirikan museum tsunami.

Untuk itu Nurdin AR, mengatakan, “Awal masa tanggap darurat pascatsunami, pada satu kesempatan, saya, Prof. AD Pirous, dan Pak Azwar Abubakar (saat itu menjabat sebagai Plt. Gubernur NAD), Pak Sardono (Rektor IKJ), dan sejumlah pejabat, sedang berkumpul di rumah pribadi Azwar Abubakar, di kawasan Geuceu. Pak Azwar mengemukakan bahwa ada rencana untuk membangun sebuah museum tsunami. Tapi pada akhir perbincangan, di situ ada muncul ide dari saya, agar sisa-sisa tsunami (benda-benda yang dihanyutkan gelombang ke daratan) agar tak dipindahkan terlebih dahulu. Biarkan di situ. Dan kita tinggal memolesnya sedikit agar menjadi sebuah monumen. Misalnya kapal yang terdampar di depan Hotel Medan Peunayong, depan Showroom Suzuki Peunayong, atau kapal yang nyangkut di rumah orang, misal di Lampulo. Tapi, kemudian para tentara asing yang menjadi relawan di Aceh memindahkan semua benda itu. Dan tak ada lagi monumen yang tersedia. Saya juga tidak mengatakannya pada wartawan, karena menurut hemat saya, tidaklah wajar untuk mengatakan rencana pembangunan museum tsunami di saat mayat-mayat korban tsunami belum terevakuasi semua.”

Tambah Nurdin, “Pembangunan museum tsunami di NAD adalah bagus dan penting. Karena musibah tsunami yang menghantam Samudera Hindia yang paling dahsyat akibatnya adalah di Aceh. Maka sebuah museum, juga sebagai sebuah perekam peristiwa alam, menyimpan, merawat, dan memamerkan konteks-konteks dari tsunami itu. Karena ia berkaitan dengan sejarah alam dan sejarah manusia.”

Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias, dalam situs resminya mengungkapkan latar belakang rencana pembangunan NAD Tsunami museum sebagai berikut :

“Manusia adalah mahluk sejarah. Kita selalu ingin mengenang peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan. Dengan mengenang, kita akan mengingat dan belajar pada sebuah peristiwa dalam rangka mencapai kehidupan yang lebih baik, misalnya melalui situs, monumen, museum dan bentuk lainnya, sebagai media bentuk-bentuk ekspresi untuk mengabadikan kenangan. Pendirian Museum pada bagian kota yang terkena musibah tsunami paling dahsyat ini penting dilakukan untuk membangun kesadaran warga dan masyarakat dunia tentang gerak alam yang sesekali mengancam kita. Kealpaan kita terhadap Tsunami selama berabad-abad telah memberi dampak buruk pada tata ruang, sehingga tata ruang kita selama ini discordant terhadap alam.”

Tim penelaah megaproyek ini dan juga termasuk dalam dewan juri Sayembara Desain Pra Rencana NAD Tsunami Museum, yaitu Dr. Ir. Kamal A. Arif M. Eng. (Pakar Museum dan Sejarah), Prof. AD Pirous. (Guru Besar Seni Rupa ITB, dan Dr. Eng. T. A. Sanny, M.Sc (Pakar Geologi dan Seismik ITB), sebagaimana dikutip dalam http://www.sembiring.com/v3/?p=51 menjelaskan bahwa fungsi dari museum tsunami yaitu : 1. Sebagai objek sejarah, dimana museum tsunami akan menjadi pusat penelitian dan pembelajaran tentang bencana tsunami. 2. Sebagai simbol kekuatan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana tsunami. 3. Sebagai warisan kepada generasi mendatang di Aceh dalam bentuk pesan bahwa di daerahnya pernah terjadi tsunami. 4. Untuk mengingatkan bahaya bencana gempa bumi dan tsunami yang mengancam wilayah Indonesia. Hal ini disebabkan Indonesia terletak di “Cincin Api” Pasifik, sabuk gunung berapi, dan       jalur yang mengelilingi Basin Pasifik. Wilayah cincin api merupakan daerah yang sering diterjang gempa bumi yang dapat memicu tsunami.

Jonathan Zilberg, Ph. D, seorang antropolog dan pakar museum, menulis dalam pengantar makalahnya yang berjudul The Acehnese Museum Conflict: Does Aceh Really Need a US$7.5 million Tsunami Museum (Konflik Museum Orang Aceh : Apakah Aceh benar-benar membutuhkan Museum Tsunami senilai US $7,5 juta ?) yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan Konferensi Tahunan MEG dan AGM di Cambridge pada 10 dan 11 April 2008 sebagai berikut:
Cemeteries, spaces of death, and museums as monuments of and for the past and future are critical institutions in their own rights. Creating and managing such memorials is not something to be taken lightly. Moreover in this day and age in the museum community, the fact that such a museum, or any museum, could be proposed, conceptualized and created without community participation is I imagine for this audience surely remarkable. In addition, when one considers the sheer scale of death and destruction, and the fact that a memorial museum could have been planned without any civic participation and open intellectual reflection is astounding. As I understand it this tells us more about politics and power, collusion and other issues than anything else ….”

(Makam, tempat orang-orang dikubur, dan museum sebagai monumen dari dan untuk masa lalu dan masa depan adalah lembaga penting bagi hak mereka (baca:komunitas masyarakat). Menciptakan dan mengelola memorial bukanlah hal yang enteng. Lagi pula dalam konteks kekinian dalam komunitas museum, fakta seperti museum atau museum apa saja, dapat diusulkan, dikonsepkan, dan diciptakan tanpa partisipasi atau keterlibatan komunitas masyarakat adalah sesuatu hal yang menakjubkan. Sebagai tambahan, ketika seseorang mempertimbangkan untuk skala kematian dan penghancuran belaka, dan fakta bahwa museum memorial dapat direncanakan tanpa partisipasi masyarakat sipil dan refleksi kaum intelektual yang independen adalah sesuatu yang sangat mengejutkan. Sebagaimana yang saya mengerti, itu menceritakan pada kita lebih tentang politik dan kekuatan, kolusi dan isu lainnya…)

Fozan Santa, Rektor Sekolah Menulis Dokarim, mengatakan, “Museum itu sangat penting. Dan seharusnya jadi lebih penting jika dibangun di altar gedung-gedung tua atau bekas dari sebuah kurun sejarah yang punya cerita. Bangunan fisik gedung itu tetap memiliki nilai dokumentatif ditambah lagi dengan koleksi-koleksi bernilai sejarah yang tersimpan di dalamnya. Seperti Memorial Park di Nagasaki atau Singapore Historical Museum atau banyak lagi di Eropa di mana bahkan gedung universitas berkelas dunia masih sampai kini menggunakan gedung-gedung dari abad 15. Kita seakan tak pernah berjarak dari masa lampau saat tangan menyentuh batu yang merekat gedung-gedung itu.”

Museum itu jelas penting. Yang dibutuhkan Aceh saat ini justru bukan museum bikinan baru yang dikomando spirit kapitalisma bencana dan politik bantuan. Meski dengan desain macam-macam, sealur perkembangan konsep-konsep visual art kontemporer di dunia. Alangkah mahal, sombong dan culas metode pelembagaan masa silam di Aceh untuk ukuran Indonesia!”

Mau ikut seperti zero-ground di bekas lapak WTC New York. Itu monument peringatan saja. Letaknya pun masih di lapak kejadian perkara gedung di tabrak pesawat yang lantas rubuh menjadi abu. Nah tsunami di Aceh? Bagaimana menentukan titik koordinat pusat gempa dan air raya itu? Jika menganut konsep monumen memorial WTC, maka bangunlah monument atau museum terapung di tengah laut sana. Yang sangat dibutuhkan di Aceh jika museum itu kemudian menjadi sesuatu yang sangat penting tanpa tawar-menawar adalah restorasi atau perbaikan pada sejumlah bekas lapak yang disisakan oleh ombak raya. Seperti Kapal Apung, Rumah sakit Meuraksa Ulee Lheue atau kuburan massal Lambaro. Percantik dan perantik semua bekas reruntuhan agar jadi tahan karat dan kerat zaman. Pakai tenaga kontraktor internasional yang punya standar profesional. Itu pun bisa diselesaikan dalam tempo yang santai-santai saja tanpa perlu merebut uang hak korban tsunami. Sebab boleh dikata korban tsunami adalah ’museum dan monumen hidup’ peristiwa hebat itu, dan tentu menjadi pihak yang harus dinomorsatukan dalam proses rekonstruksi pascatsunami.”

Pembangunan museum ini diawali dengan Sayembara Desain Pra Rencana NAD Tsunami Museum. Sayembara ini menghabiskan anggaran hampir 1 milyar! Sayembara ini diikuti oleh 153 peserta, tapi kemudian setelah Seleksi Awal Tahap I terpilih 149 karya yang layak mengikuti Seleksi Awal Tahap II. Setelah tahapan Seleksi Awal berakhir, diperoleh 68 peserta yang lolos dan masuk nominasi Dewan Juri. Sayembara ini akhirnya dimenangkan oleh sebuah kelompok yang bernomor peserta SMT/106/1107 yang diketuai oleh M. Ridwan Kamil S.T. M. UD –seorang arsitek yang pernah mendapatkan penghargaan dari British Council atas ide kreatifnya dalam hal arsitektur international dan dinobatkan sebagai Young Design Entrepreneur of the Year pada tahun 2007.

Mengapa bukan kapal apung pembangkit listrik milik PLN yang kemudian terdampar di pemukiman Punge setelah terbawa gelombang dari Ulee Lheue? Dan mengapa museum tsunami tidak dibangun di dekat pantai ? Tanya saya pada Nurdin AR di ruang dinasnya di Museum Aceh.

“Begini, kata Nurdin. Ada beberapa persyaratan untuk membangun sebuah museum. Yang pertama yang harus dilihat yaitu letaknya. Letak berkaitan erat dengan tingkat salinitas suatu wilayah, keadaan angin, keadaan air, dan lingkungan masyarakat. Makanya kita tidak membangun museum di daerah dekat pantai. Nanti biaya perawatan bisa lebih besar daripada biaya pembangunan.”


Penguasaan dan Pengendalian

Berikut ini saya sarikan sebuah dokumen yang tersimpan dalam arsip perpustakaan Komunitas Tikar Pandan, kertas posisi ini adalah sebuah sudut pandang lain kenapa lembaga tersebut menolak pendirian Museum Tsunami:

Menurut sejarah, museum adalah tempat menyimpan koleksi dari rasa ingin tahu raja dan orang kaya yang mereka kumpulkan dari perdagangan maupun kontak langsung, termasuk di dalamnya barang-barang yang indah dan aneh dari tempat-tempat yang jauh. Dengan munculnya dan berkembangnya ilmu pengetahuan dan juga biologi modern setelah Darwin maka koleksi tersebut mulai diorganisasikan berdasarkan logika evolusi dan tidak lagi sebagai ruang pamer barang-barang aneh dan indah.

Munculnya revolusi yang menghancurkan monarki di Eropa menyebabkan koleksi-koleksi milik museum menjadi milik publik. Malah, sejak saat itu, museum menjadi tempat pendidikan alternatif bagi publik tentang sejarah alam, etnografi, arkeologi dan lain-lain. Museum mulai sangat berkembang pada masa kolonial dengan pameran dunia yang memperlihatkan orang dan obyek yang didatangkan dari daerah koloni.

Field Museum of Natural History in Chicago adalah salah satu contohnya. Museum ini dibangun untuk World Fair yang dibangun mengikuti jejak pameran besar di Paris di mana simbol eksotisme turisme modern telah dibangun yaitu menara Eiffel, terjadi pertama di Paris, dan Crystal Palace, di London, dibangun pada kesempatan yang kurang lebih sama.

Inti dasarnya adalah museum adalah institusi Eropa yang akarnya ada di Monarki, lalu setelah itu menjadi pusat pendidikan dari aspek kolonialisme. Jadi museum adalah bagian yang sangat intim dari sejarah kekuasaan. Yaitu, penguasaan dan pengendalian; dominasi dan ekstrasi.

Setelah perang dunia kedua alasan filosofis dari museum bahkan definisi dari museum itu sendiri sudah banyak berubah. Namun esensi museum sebenarnya tidak banyak berubah di mana museum adalah lembaga atau tempat yang hanya mengumpulkan, melakukan kurasi dan mempertunjukkan objek kepada khalayak.
Perubahan filosofis terbesar adalah museum tidak lagi menggunakan objek ini untuk menuturkan narasi besar yang secara sadar atau pun tidak sadar mendukung kolonialisme, imperialisme, dan staqus quo, namun komunitas dan aktivis sosial telah menimbulkan tekanan yang cukup besar untuk memaksa museum menceritakan kisah yang lain dari cerita yang sebelumnya dan biasanya dituturkan melalui pameran dan koleksi tersebut. Yang biasanya berfokus pada mereka yang terpinggirkan dan tertekan.

Isu ini menjadi sangat dominan di tahun 80-an dan 90-an saat protes publik dan akademisi berhasil memutarbalikkan hampir seluruh pameran penting di Amerika menjadi dinamit politik. Konsekuensinya adalah museum-museum di dunia dipaksa secara kritis untuk memikir ulang persoalan kekuasan dan warisan yang mereka kreasikan dan mereka jaga. Hari ini definisi dari museum sendiri sudah berubah dan di dalam istilah museum sendiri juga termasuk ruang, taman nasional, komunitas museum, sudah mulai muncul dan bentuk ekperimen radikal juga banyak dikerjakan yang pada intinya menggunakan gagasan museum, namun kini untuk penguatan komunitas lokal. Bahkan esensi dari museum hari ini bukan lagi menciptakan koleksi contoh-contoh sejarah untuk dinikmati para elite dan tidak membuat katalog yang bergaya tapi kini museum adalah ruang untuk kritik dan menumbuhkan keterlibatan masyarakat dalam menuturkan sendiri sejarah mereka dengan tujuan untuk mengubah cerita yang pernah dibuat tentang mereka lewat pelibatan yang lebih praktis.

Alasan politik sebagai ekpresi dari kekuasaan dan pengendalian, specimen museum adalah simbol di mana ikon-ikon yang paling berharga dari kultur asing dibawa oleh penjajah dan dipertontonkan di pusat-pusat Metropolis Negara Kolonial. Di sisi lain ini bisa dilihat untuk merusak objek dan budaya yang menciptakan ikon tersebut. Tentu ini adalah tafsir radikal.

Contoh yang paling kuat dalam hal ini adalah Museum Holocaust. Museum Holocaust yang pertama dibangun oleh pemerintah Israel dan dinamai Yad Va Shem, yang artinya Tangan Tuhan. Museum serupa dibangun di Amerika baru dibangun beberapa tahun yang lalu sekitar 10 tahun lalu, kalau tak salah. Di Jerman dan di Austria, lokasi dari kamp konsentasi itu kini dijadikan museum. Museum ini, tak bisa dipungkiri, penting bukan hanya bagi orang Yahudi tetapi bagi orang yang peduli pada penindasan dan bahayanya ketololan dan kebencian pada yang Lain, baik secara internal maupun eksternal.

Namun museum tersebut tidak mempunyai kegunaan untuk mengobati. Yang terjadi adalah mengenang korban, dan memberikan kita catatan nyata tentang apa yang dialami korban, apa yang dilakukan atas mereka, dan mengapa.

Tujuannya bukan untuk mendidik agar orang tidak melakukan hal yang sama bahkan kalau neo-Nazi dan orang yang antiYahudi punya kesempatan, mungkin mereka akan menggunakan informasi ini untuk melakukan pembantaian secara lebih sukses lain kali. Museum seperti ini adalah untuk menghormati yang mati, dan untuk mengingat pembantaian atas apa yang dibangun beribu tahun di Eropa, di tempat di mana komunitas ini disapu dari peta.

Penting sekali bagi kita untuk membedakan tujuan untuk mengabdikan, mengenang, menyaksikan, dan mengobati dan bagaimana hal-hal ini berbeda tergantung dari tipe dari pengabadian atau museum yang tengah direncanakan.

Yang terpenting adalah bahwa hanya komunitas itu sendirilah yang berhak untuk membangunnya. Ini sangat penting. Tidak ada seorang lainpun yang berhak untuk datang dan membuat memorial untuk komunitas lain, apalagi tanpa permintaan atau kontrol dari masyarakat lokal. Melakukan hal seperti itu adalah salah besar, tidak bermoral, dan rasanya tak pernah terjadi. (Arsip No: A/P12-2007)

Karena Memori Tidak Ada

Sebagai salah seorang anggota tim peneliti Jonathan Zilberg (seorang peneliti tamu pada Smithsonian Meuseum Washington DC dan kurator kehormatan di Episentrum Ulee Kareng) saya berkesempatan mewawancarai lima orang tokoh lokal, serta dua orang penduduk lokal asal Pulau Simeulue yang berkompeten pada bidang-bidangnya mengenai pemahaman dan kesetujuan mereka terhadap pembangunan museum ini. Mereka adalah Azhari, Fozan Santa, Wiratmadinata, Drs. Nurdin AR, M. Hum, dan Drs. Mukhlis A. Hamid M.S. serta Rona Samdony, dan Yides Miswady.

Diskursus mengenai rencana pembangunan NAD Tsunami Museum telah ada sejak awal rencana pembangunan ini mencuat ke publik. Sebagian aktivis lokal menyayangkan kenyataan bahwa BRR lebih mengutamakan untuk membangun sebuah museum yang harganya mencapai 70 Milyar rupiah daripada membangun infrastruktur atau membenahi hal lain yang lebih pokok diperlukan oleh masyarakat yang terkena musibah (the survivors). Mengenai ide awal rencana pembangunan juga dipertanyakan. Apakah benar Directur The Asian Research Institute pada the National University of Singapore, Anthony Reid, yang menginisiasi ide pembangunan museum ini saat konferensi Internasional yang pernah diselenggarakan oleh BRR?

Drs. Nurdin AR, M. Hum, Kepala Museum Aceh, memberi komentar soal tersebut sebagai berikut:

“Hal yang harus kita pahami bahwa uang yang digunakan tidak berasal dari BRR. Tetapi dari Departemen ESDM (Energi, dan Sumber Daya Mineral). Kebetulan di BRR. Itu ESDM, Departemen Pertambangan dan Energi. Ada hubungannya. Peristiwa tsunami adalah peristiwa geologi. Dan ada sektor geologi di bawah departemen ESDM itu. Pembangunan yang lain juga berjalan seiring. Museum tsunami perlu. Karena merekam peristiwa yang luar biasa, sebagai sebuah rekam jejak. Museum juga bakal menjadi daya tarik wisata, pengembangan ekonomi, pembangunan di daerah Aceh. Yang tidak ada di tempat lain. Kan kita harus lihat jauh ke depan. Jangan lihat hari ini. Kita lihat hari ini, rumah penduduk untuk korban tsunami belum selesai semua. Tapi, kita lihat orang Aceh, ada yang mendapatkan 10 buah rumah bantuan tsunami. Ini sedang diverifikasi sekarang, dan akan diambil ulang. Ini sebuah persoalan di Aceh. Yang mestinya dipahami, tsunami adalah konteks yang harus ditangkap, diolah, menjadi potensi ekonomi bagi daerah.”

“Museum akan membantu pengembangan kumpulan memori atas even seperti itu jika terjadi kembali orang akan tahu apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan diri. Seperti halnya smong di Simeulue. Mengapa di Simeulue sedikit korbannya? Karena ada memori kolektif masyarakat di Simeulue, bahwa setelah gempa, ada smong, dan smong sangat berbahaya. Di Aceh, orang tidak ada pengalaman seperti itu, maka banyak yang bingung ketika menghadapi tsunami. Bingung. Mau lari kemana. Padahal naik ke lantai atas rumah, walaupun goyang, dapat selamat. Tapi ini gak tahu. Ada yang memahami, ini adalah kiamat, ngapain kita lari, hancur semua. Banyak orang yang bingung,” begitu Nurdin AR, dia rasakan dan lihat sendiri pengalaman itu waktu terjadinya musibah itu.

“Jadi karena memori ini tidak ada. Jadi kita harapkan dengan adanya museum tsunami, memori kolektif masyarakat Aceh akan terpelihara, bahwa dulunya di Aceh pernah dilanda tsunami yang besar. Dan kalau terjadi tsunami lagi, orang akan ingat bahwa bagaimana cara menyelematkan diri. Ketika generasi yang terkena tsunami masih ada, gak apa-apa. Tapi untuk generasi mendatang, yang tidak pernah mengetahui sejarah tsunami, ketika dia datang ke museum tsunami, akan tahu, bahwa beginilah dulu tsunami yang terjadi di Aceh, sekian banyak korban, yang seharusnya tidak perlu, karena bingung,” tambahnya lebih lanjut.

Menurut pendapat dua orang penduduk lokal asal Pulau Simeulue, mereka sekarang sedang melanjutkan pendidikan di Universitas Syiah Kuala, yaitu Rona Samdony dan Yides Miswady, mereka berdua berasal dari Desa Sigulai Kecamatan Simeulue Barat Kabupaten Simeulue, secara umum, mereka-mewakili orang-orang muda yang hidup jauh dari tradisi, merasa perlu akan adanya pembangunan museum tsunami. Seperti halnya gempa besar yang terjadi di Pulau Simeulue pada tahun 2000 lalu, hanya sedikit korban yang jatuh dari bencana itu. Hal itu karena pewarisan ingatan kolektif yang dilakukan oleh komunitas setempat yang berkembang dan terwariskan. Tetapi, mereka beranggapan tetap perlunya museum sebagai sebuah tempat pembelajaran bagi generasi kelak, yang hidup pada jaman yang berbeda dengan orang-orang tuanya dulu. Masyarakat Aceh, sebagaimana kebiasaanya, enggan atau malas untuk mengunjungi situs-situs sejarah.

Minimnya kunjungan ke Museum Aceh –yang sempurna selamat saat tsunami menerjang kota Banda Aceh dan dibangun sejak tahun 1915- adalah contohnya. Mengapa kita membutuhkan museum baru sedangkan museum yang lama tidak ada yang mengunjungi?

“Dan setelah dibangun, jangan lupa berpikir tentang biaya untuk merawat dan mengoperasikannya secara layak dan ramah pelancong. Untuk apa jika lantas menjadi museum kematian yang angker dan sepi. Bukan sebagai early warning sites bagi masyarakat yang suka lupa. Lihatlah berapa banyak tempat dan situs sejarah di Aceh yang benar-benar pernah setiap waktu disesak pelancong dan mengambil cerita hikmah dari peristiwa-peristiwa silam, ” tambah Fozan Santa.

“Musibah tsunami di Aceh adalah musibah dunia. Museum tsunami, bukan diciptakan untuk orang Aceh. Museum itu milik orang Aceh, Indonesia, dan dunia. Ini adalah objek wisata bagi penduduk dunia. Pola pikirnya seperti itu. Kalau kita berpikir, hanya untuk orang Aceh, terlalu mahal museum itu. Tapi berpikir dunia, sangat murah harganya. Kan gitu cara pikirnya, “ tandas Nurdin AR.

Hikayat Nasehat Yang Tidak Jelas

Drs. Mukhlis A. Hamid, seorang dosen pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra pada Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh menyimpulkan opininya dengan sangat ringkas. Dia berpendapat bahwa sebuah museum “yang akan menghabiskan milyaran rupiah dari dana rekonstruksi dan rehabilitasi hanya dapat dibenarkan bila pembangunannya memenuhi beberapa kriteria di bawah ini.

• tujuannya sebagai pusat pembelajaran bagi generasi yang akan datang,
• dibangun dengan dana yang tidak terlalu besar,
• tidak untuk dibisniskan,
• jelas contentnya, dan
• dibangun setelah semua rumah korban tsunami selesai semua.

Tapi, bila beberapa ketentuan yang disyaratkan, tak terpenuhi, Mukhlis beranggapan museum tsunami ini adalah sebuah pemubaziran uang sedekah masyarakat dunia.

Nurdin AR, saat ditanyakan tentang bagaimana dengan isi dari museum itu, menjawab : “Content tidak begitu dipermasalahkan. Tapi itu yang masih menjadi pertanyaan sampai saat ini. Sejak awal muncul ide pembangunan museum, seharusnya kita mulai memikirkan apa yang akan kita isi dalam museum itu. Ternyata semua orang berpendapat, dalam tim itu orang juga berpendapat, bahwa building dulu. Paling tidak building ini bakal menjadi monumen. Kemudian baru kita pikirkan apa yang perlu diisi. Apa mobil yang sudah jadi kayak kerupuk, kemudian ada perahu, ada benda-benda etnografi yang mungkin sudah setengah rusak, yang menggambarkan dampak dari serangan gempa dan tsunami. Ada foto, foto apa saja yang menampakkan kerusakan akibat gempa dan tsunami, ada diorama, dibuat di dalamnya. Makanya biaya pembangunan gedung museum tsunami itu mahal. Kerja museum termasuk juga kerja kebudayaan, yang menimbulkan dampak, bukan seperti penjual pinang. Bagaimana cara mendapatkan keuntungan esok hari. Biaya pembangunan yang begitu besar tak akan tertutupi dalam 3 bulan, mungkin juga bakal lama. Dampak yang timbul diperkirakan 5-10 tahun ke depan. Dampak yang diharapkan timbul tidak hanya dampak ekonomi, dampak psikologis masyarakat, memori masyarakat.”

Senada dengan pendapat Mukhlis yang pada poin ketiga dalam kriteria itu yaitu tidak untuk dibisniskan, Nurdin AR beranggapan, bahwa karena kerja museum termasuk juga kerja kebudayaan, yang menimbulkan dampak, bukan seperti penjual pinang. Yang hanya memikirikan bagaimana cara untuk mendapatkan keuntungan esok hari. Biaya pembangunan yang begitu besar tak akan tertutupi dalam 3 bulan, mungkin juga bakal lama. Dampak yang timbul diperkirakan 5-10 tahun ke depan. Dampak yang diharapkan timbul tidak hanya dampak ekonomi, dampak psikologis masyarakat, memori masyarakat.

Sampai dengan tanggal 24 Oktober 2008, ketika rencana pembangunan NAD museum tsunami tetap dilanjutkan, seperti tersiar di Harian Aceh Edisi Jumat 24 Oktober 2008, bahwa masih banyak korban tsunami yang belum mendapatkan bantuan rumah, terutama di Sigli, dan masih banyak yang tinggal di barak. Sebuah kontradiksi!

Hal yang paling kita takutkan adalah bila setelah nantinya museum itu telah selesai dibangun, skandal pembangunan akan mencuat dan menjadi serius. Dan setelah itu nilai yang hampir 70 milyar rupiah akan menjadi tidak jelas, dan menjadi obscure cautionary tale atau hikayat nasihat yang tidak jelas.

Tsunami Study Centre

Tsunami tidak harus diingat melalui bangunan yang menghabiskan dana 70 Milyar. Kita masih bisa meneruskan atau menuliskan sejarah kita, misalnya melalui hikayat-hikayat modern Aceh pascatsunami. Melalui syair-syair, karya-karya sastra lainnya, yang hidup dan berkembang di masyarakat, secara lisan atau tulisan. Bukankah hikayat merupakan cerita sejarah dan khasanah antropologis yang penting dalam sejarah kehidupan masyarakat Aceh?

Wiratmadinata –Sekretaris Jenderal Forum LSM Aceh- dalam surat elektroniknya, mengatakan bahwa: “Jika hanya ingin menampilkan koleksi seperti gambar-gambar, diorama, atau nama-nama orang yang meninggal, mengapa tidak dibuat saja sebuah majalah atau buku khusus? Saya setuju bahwa kita harus menemukan medium yang cocok untuk mengenang tsunami, tetapi dengan tidak menghabiskan sejumlah besar uang. Apakah nantinya museum ini hanya akan menjadi bangunan megah dengan koleksi yang minim?”

Lebih lanjut Wiratmadinata menambahkan “Saya percaya hal yang produktif yang harus dilakukan adalah menciptakan Tsunami Study Centre atau Pusat Pembelajaran Tsunami, yang mengembangkan kemampuan sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk melatih orang dalam keahlian mitigasi tsunami. Hal itu dapat dengan mudah dan termasuk sebuah ruangan tempat rekaman even 26 Desember 2004 yang masyarakat dapat belajar lebih dalam dari pengalaman itu. Pendekatan ini akan lebih mudah diterapkan daripada membangun bangunan yang sungguh mahal.

Jika pun uang itu harus dihabiskan untuk sebuah museum, museum apa saja, saya lebih memilih untuk membangun museum sejarah dan budaya yang akan dijalankan oleh orang-orang yang profesional dengan peningkatan kapasitas staff yang telah ada pada lembaga yang telah ada. Hal ini seharusnya dapat dilakukan melalui pembuatan kerja sama dengan museum-museum misalnya Leiden, atau minimal menyediakan kopian dokumen atau artifak budaya. Hal ini dapat lebih bermanfaat dan lebih mungkin, dan juga mencari kemungkinan dari pemulangan kembali koleksi Aceh yang berada di museum-museum di luar Aceh.”

Wira percaya bahwa salah satu alasan mengapa orang Indonesia begitu mudah melupakan sejarahnya sendiri dan gagal belajar dari masa lalu adalah karena orang Indonesia kekurangan museum yang bagus atau tidak memanfaatkan museum secara efektif. Aceh sedianya membutuhkan museum yang bagus karena jika kita ingin mempelajari tentang Aceh melalui artefak, dokumen, dan pusaka sejarah lainnya, maka kita harus ke Leiden

Azhari, salah seorang korban yang selamat dari bencana, berpendapat bahwa hal yang harus kita ketahui adalah orang-orang yang selamat lebih suka mengingat dan berdoa untuk orang-orang tercinta yang menjadi korban tsunami, lima kali sehari baik di rumah atau di mesjid.

Penutup

Tenggat waktu pembangunan gedung Museum Tsunami sudah sampai meski kenyataan menunjukkan bahwa target penyelesaian tidak tercapai. Masih banyak hal yang masih harus diselesaikan oleh Waskita dalam satu atau dua bulan ke depan. Para tukang masih harus bekerja keras untuk segera menyudahi pekerjaan mereka, beristirahat sejenak, lalu kembali ke kampung menjenguk anak dan istri.

Dana milayaran rupiah sudah tersedot untuk membangun sebuah gedung megaproyek bernama “Museum Tsunami”. Masih butuh milyaran rupiah lagi untuk merekrut dan menggaji staf, mendatangkan dan membuat isi museum, serta merawat gedung itu pada tahun-tahun yang akan datang. Maka, sudah siapkah?

Sementara, di luar gedung itu, berbagai persoalan korban tsunami belum juga diselesaikan secara bijak.

Karenanya, patut juga kita cermati ulang isi di balik kata-kata bijak yang tertera pada bagian awal tulisan ini: Masyarakat yang terluka mengenang luka mereka dengan empat cara: dalam doa, dengan monumen, dengan kesaksian, dan sesekali dengan museum – meski yang terakhir ini terkadang harus dibayar sangat mahal.

Semoga akhirnya tidak menjadi seperti impian John Hammond yang berniat membangun museum dinosaurus!

 

Iklan

8 Komentar

Filed under Rizki Alfi Syahril

8 responses to “Tsunami Museum : Penghancuran Ingatan Kolektif, Bencana, dan Sejarah

  1. zavista

    riz, tulisan dah bagus. coba padatkan lagi. coba olah kreatif lagi bagaimana cara kutipan langsung dan tak langsung dari para komentator. biar jadi kayak bercerita gicu…be a best teller, riz!

  2. zavista

    riz, tulisan dah bagus. coba padatkan lagi. coba olah kreatif lagi bagaimana cara kutipan langsung dan tak langsung dari para komentator. biar jadi kayak bercerita gicu…be a best teller, riz!

  3. nad

    ridwan kamil arsiteknya?
    aku pernah ketemu dia,

  4. It is indeed excellent to finally see some evidence of critical local reflection on the pros and cons of the Tsunami Museum, specifically as regards the lack of public participation in its planning except as regards the architecture competition for the building’s design.

    This is a commendable example of emerging research and publishing capacity in Aceh by local intellectuals. It points to an important emerging critique in Acehnese civil society about the relevance of this museum, its future value to the community and above all to symbolic dominance in the exclusion of community participation in memorial construction.

    Pity it is not in English as well though. Perhaps someone will translate it!

  5. Muzium Tsunami? Ya pengisiannya sudah wujud sejak peristiwa itu. Tentunya dalam roh manusia yang mengalamaninya. Kerja sekolah Dokarim adalah contoh pengisian yang sudah berjalan. Semoga dalam muzium itu kelak turut direncanakan ruang sekolah yang telahpun menghasilkan – produksi seni -sastera – dan budaya. Para seniman seni rupa juga telah menghasilkan karya sebelum dan sesuydag tsunami. Teruskan semangat – berkarya sebagai bahan lansung tsunami.

  6. pro kontra, pasti ada..
    untuk apa museum smahal itu, kalau kita punya kapal apung yg gratis..
    aceh, masih saja dpimpin pejabat pejabat gila proyek

    saleum,
    AcehFoto!

  7. njak buleun

    Benar sekali kata kak Siti Zainon! Yang harus diselamatkan adalah manusia Acheh, korban mangsa tsunami serta dibikinkan tempat yang layak untuk menyambung masa depan mereka. Ingatan mereka penting bagi suatu masa untuk boleh re-telling ke genarasi masa depan.

    Tapi moseum tsunami -seperti ilegal buiding sahaja- tak ada guna kecuali untuk menghamburkan tambang 70 milyar rupiah sebagai monumen (MONAS) bahwa pemerintah jakarta pernah bantu Acheh- meski tak sampai sepenuh ikhlas. Kini moseum sudah kotor penuh sampah karena belum boleh pakai sebab tak ada penanggungjawab, padahal sudah dirasmikan pejabat presiden SBY sampai memotong 3 pohon asam tua yang rindang yang juga menjadi saksi bisu geulumbang raya dan sempat menjadi tempat bergantung sejumlah korban saat itu.

    Moseum tak ada isinya cuma bangunan saja yang lumayan bagus tapi merusak tataruang dan landscape kota banda Aceh warisan budaya (historical bandar). Katanya isi moseum diserahkan pada aspirasi rakyat Aceh yang tak pernah tahu apa pentingnya moseum dibanding harga diri mereka sebagai korban mangsa tsunami yang masih tegar meski tanpa rumah yang layak.

    Kalau saya punya usul; moseum itu harus diubah fungsi sebagi rumah susun (flat) bagi para korban tsunami yang belum mendapat rumah atau sudah dapat tapi tak layak huni. Agar ‘dosa sosial’ pemangku rehab-rekon Acheh bisa sedikit dianulir, sementara berpolitik atas nama bantuan korban jangan pernah dikira akan tumpas pupus dalam sebuah konstruksi sistem dan birokrasi yang suka mengemis pada dunia!

  8. Nun Parisi

    aku cinta kalilah tanggapan njak buleun di atas!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s