Cerita Pendek: “Mantan Suamiku”

Ditulis oleh: Edi Miswar Mustafa

Mom, come on.”

“Bentar lagi, Samirka.”
Tampak ia demikian anggun dengan selendang warna gelapnya. Bahkan terbilang cantik dibandingkan kalau tidak menutup kepala sebagaimana galibnya. ”Maaf, karena Mamma masih ingin sendiri di sini menikmati lukisan. Bolehkah?”

“Samirka tunggu di ruang kerja Azhari, ya,” katanya kemudian. Azhari adalah seorang penulis muda kesohor sekaligus pegiat kebudayaan yang memfasilitasi pameran lukisan ini.

Duh, putriku. Aku menebah dada sejenak. Kau tentu saja tidak merasakan apa-apa. Karena kau memang bukan lagi orang timur meskipun kulitmu masih tidak berubah, masih tetap sawo matang.

Kulihat ia menghilang ke balik beton putih. Puluhan orang masih melihat-lihat lukisan. Jam belum beranjak larut. Sayangnya, tidak banyak yang datang. Coba kalau di California. Padahal, yang membuka pameran lukisan ini bukan sembarang orang. Guru besar salah satu universitas di provinsi ini.

Tetapi, Bang Yus tidak terlihat terkejut melihatku. Sebelumnya, ketika ia berpidato di teras rumah ini tadi, aku kira ia akan heran ketika menit demi menit selanjutnya kami akan bersua kembali setelah tahun-tahun berlalu dengan berkeping-kepingnya rasa keindahan. Lantas dari matanya akan timbul tanda tanya besar. Atau mungkin, ya, rasa-rasanya aku akan melihatnya murka semurka-murkanya seperti dua puluh enam tahun yang lalu. Ternyata tidak. Ternyata, tangannya segera terulur secara teratur sebagaimana kebiasaannya dahulu setiap kali berjumpa dengan orang-orang. Sepertinya tidak ada yang disembunyikannya. Air mukanya tetap sejernih tampilan pertama aku melihatnya. Dan bibir itu tetap mengembang.

“Meli?! Dengan siapa kau datang?!” tanyanya bagai takjub yang sangat.

“Bersama  Samirka,” sahutku sebiasanya untuk menyeimbangkan prilakunya.

Ia, segera menyalami Samirka. Dan saat itu, mungkin aku yang menjadi heran. Benarkah, hatinya telah jadi batu. Kemudian ia memperkenalkan kami kepada semua undangan. Aku adalah mantan isterinya. Samirka adalah anak sulungnya yang ikut denganku dan selama ini tinggal di Amerika.

Dua puluh enam tahun yang lalu rambutnya tidak setipis seperti sekarang. Walaupun gagang kacamatanya masih tetap yang model itu. Betapa bencinya aku kepada kacamata itu!  Seluruh hari dan malamnya hanya semata untuk studinya. Sementara aku, seorang ibu muda. Dan di negeri orang harus mengubur hasrat yang menyengat ke ubun-ubun.

Betapa aku merasa menyesal menerima pinangannya dulu. Aku pikir aku akan bahagia. Hari tua terjamin dalam kehidupan yang layak karena ia seorang dosen. Tentunya dalam masyarakat, statusku boleh dikatakan berada pada kelas menengah-atas.

‘Nyatanya semua itu semu belaka. Sama sekali tidak seperti yang aku bayangkan semula. Beasiswanya dalam menempuh jenjang S2 hanya cukup untuk makan kami sekedarnya. Tempat tinggal kami di daerah pinggiran California yang banyak ditinggali orang kulit hitam yang lebih menakutkan dari pekuburan di pesisir kampungku yang banyak dikebumikan korban-korban DI/TII. Bayangan impian pada musim dingin … salju, ah konyollah aku. Konon, sebelum berangkat, yang selalu aku bayangkan adalah bahwa aku akan menggenggam salju dengan tanganku. Salju seperti es krim, menyenangkan sekali. Dan tak lupa, ya aku ingin menjilatnya. Itu terpikir olehku. Tapi, nyaris saja Samirka meninggal karena musim dingin yang kami lalui tanpa perbekalan yang memadai.

Sementara Bang Yus, acuh, sibuk, atau apalah istilahnya; dengan kesendiriannya. Kalau pun ia bicara denganku pastilah tentang betapa tertinggalnya negeri kita dengan negeri-negeri Barat dalam segala hal. Terutama sekali dalam bidang pendidikan. Ia harus belajar segiat-giatnya. Ia akan mempersembahkan ilmu yang didapatnya untuk memperbaiki manajemen pendidikan, paling tidak di universitas tempatnya bernaung selama ini.

“Bang Yus, kami juga butuh perhatianmu.” Suatu kali pernah pula aku menggugat. Angin musim gugur California mendesah di luar sana. Ingatanku pada Teuku Iwan yang telah kukecewakan membuatku kian rundung menduka luka. Laksana layu yang terjadi pada kuntum-kuntum bunga.

“Kau kelihatan menjadi lain semenjak bergaul dengan keluarga Roger,” cetusnya lirih dan tak bisa kusangka sebelumnya. Matanya masih tertumpu pada buku-buku di depannya. Diseruputnya kopi yang kuhidangkan.

Mengapa jadi begini Teuku Iwan, batinku. Sungguh kau benar. Aku, katanya, dalam suratnya yang terakhir, takkan mungkin kuat hidup bersama laki-laki semacam di depanku sekarang ini. “Yang kau butuhkan adalah laki-laki yang demokratis. Laki-laki yang bukan saja mencintaimu dengan merelakan kau berbuat sesuatu hal yang kau inginkan meskipun suamimu tidak mendapatkan alasan bahwa yang kau kerjakan itu bermanfaat bagimu.’

Ya, tapi aku tidak percaya padanya. Kemudian aku lebih memilih hidup yang kupikir bermakna.

Pertemuanku dengan keluarga Roger membuatku sedikit merasa terhibur. Mereka menolongku dalam hal-hal yang kelihatan remeh-temeh memang. Tapi bagiku sangat berguna. Mereka mengajakku nonton walaupun hanya sebulan sekali pada akhir minggu. Mereka punya toko barang-barang antik, terutama souvenir dari negeri-negeri Timur. Aku lihat beberapa di antaranya malahan tak mungkin terbantahkan dari daerah Sulawesi.

Tak pernah lagi kuutarakan keluh-kesah pada akhirnya di hadapan suamiku. Dan semakin sering aku berpikir mengenai Teuku Iwan yang malang itu. Teuku Iwan yang berbudi luhur. Teuku Iwan yang naik gunung bersama Hasan Tiro karena ia pun sebenarnya kecewa dengan kebijakan politik Indonesia. Teuku Iwan yang pernah berkata, “Seandainya Pusat sadar bahwa keadilan ekonomi, budaya, hanya dapat dicapai melalui keadilan politik. Mungkin Indonesia yang kaya ini tidak akan seperti sekarang. Pemerintah kita masih kekanak-kanakan dengan mempertahankan pemilihan umum sistem per kepala, bukan per provinsi seperti di Amerika. Sehingga yang terjadi adalah presiden Indonesia itu sampai kiamat pasti dari suku Jawa. Dan yang terpenting adalah bahwa wakil-wakil tiap provinsi yang berada di Senayan tidak seimbang karena yang terbanyak hanya dari suku Jawa.”

Aku semakin dekat dengan keluarga Roger kemudian. Pada Rebecca, istri Roger, kuungkapkan juga betapa haus aku akan kehangatan biologis. Terutama ketika aku memintas taman-taman di tengah kota yang dipergunakan satu dua pasangan untuk berciuman.

Dan kemudian petaka itu terjadi. Roger merampas sunyiku. Di sudut toko souvenirnya, tahu-tahu dipintunya telah tergantung kata close. Lalu ia menghampiriku.

“Meli … Meli , aku ingin menolongmu,” ia berkata setengah berbisik.

“Jangan…,” desisku. Tapi ia terus mendekat. Merengkuh tubuhku. Mencium keningku. Lantas yang kuingat kami sama-sama terbujur dengan tubuh berkeringat.

“Rebecca yang mengatakannya kalau kau rindu akan perlakuan kasih sayang. Ia ingin aku menolongmu. Tapi, terus-terang dari pertama aku melihatmu. Aku selalu ingin menidurimu. Tidak apa…,” katanya lagi.

”Rebecca membolehkannya. Cinta bagi kami, juga perkawinan, asal saling suka tak apa harus seperti ini,” katanya lagi, usai menindihku dengan celakanya.

“Maaf, ‘Bu,” tiba-tiba seorang anak muda, seorang undangan, menyenggolku. Teman wanitanya menahan tawanya. Aku mengerti. Aku tersenyum. Mereka pastilah sedang bercanda dengan sesama. Mungkin mereka merasa aneh melihatku yang terkesima di depan lukisan.  Tepat di depanku sebuah lukisan seorang gadis berseragam sekolah bersideku memerhatikan sepatu bututnya. Di depannya bayang sebuah kaki wanita bergaun pesta yang meriah. Kalau aku  tak salah memaknakan tentang lukisan ini; mengenai impian si anak sekolah. Bayang wanita yang gemerlap di depannya tentulah pertanda keglamoran selebritis.

Ketika kemudian aku ingin mencari mereka dengan mataku, ternyata mereka telah berada di sudut yang lain. Apakah mereka menafsirkan seperti yang aku tafsirkan ? Dan mereka akan menganggapku pernah memiliki impian yang demikian ketika aku muda dulu. Entahlah. Mereka, menurutku pasangan yang serasi.

“Meli ,” tiba-tiba aku mendengar suaranya. Aku melihatnya mendekat rapat.

“Hai, Bang Yus. Kau semakin tampan saja?” kataku setengah berolok.

“Untuk apa harus kembali kemari? Bukankah kalian sudah mendapatkan apa kau inginkan?” ternyata ia tak mau menggubris candaku.

“Aku ingin melihatmu. Sebenarnya Samirka yang mengurus semua ini dibantu Azhari, temannya.”

“Untuk apa?”

“Kalau aku sendiri karena mungkin aku ingin mengatakan kembali padamu bahwa aku tidak pernah salah. Kaulah yang salah sehingga Roger kemudian memisahkan kita. Kaulah yang salah karena kau lebih suka buku-bukumu. Dan, sekarang, apa sumbangsihmu pada tanah Aceh ini. Tak ada sama sekali kan. Pikiran kalian yang laki-laki masih picik. Kalian tidak ingin mencerdaskan kami, kaum perempuan dengan membiarkan perempuan-perempuan asyik bersolek dan lebih senang mengumpulkan pakaian untuk menghadiri kenduri ini-itu.”

Ia terdiam. Lalu wajahnya mulai mengarah padaku dari lukisan di depannya. Mungkin, pikirannya tengah menerawang ketika kami masih bersama di Amerika. Ialah yang selalu menginginkan aku jadi perempuan yang tidak banyak menuntut. Perempuan-perempuan yang kusadari betul kemudian karena kutemui dalam roman-roman angkatan Balai Pustaka.

“Samirka tahu tentang perselingkuhanmu?”

“Ya. Dan ia tak habis pikir, mengapa laki-laki mempermasalahkan kelamin istrinya dipergunakan sekali-dua oleh orang lain, sementara seorang istri tak pernah mempermasalahkan berapa kalikah suaminya memasukkan kelaminnya ke kelamin perempuan-perempuan lain. Kau jangan bohong padaku. Apakah ketika kita di Amerika kau tidak ingin dan tidak pernah bersanggama dengan wanita-wanita berkulit putih…” Sampai di sini aku merasa geli. Tapi aku tetap menambahkan, “kata Samirka kau laki-laki brengsek. Jika dia jadi aku dulu. Dia akan memotong kelaminmu.”

Ia kelihatan terkejut. Tiba-tiba aku ingin tertawa. Aku melanjutkan kata-kataku, “Tapi, tentunya sekarang ia telah dapat menyadari dan takkan mungkin ingin berkata seperti itu lagi. Tenanglah. Dia tentu lebih suka kelamin yang muda daripada kelaminmu yang sekarang.”

“Kata-katamu seperti kata pelacur,” sungutnya dengan tolol.

Aku lagi-lagi tak sanggup menahan diri untuk tidak tertawa. Aku mengucapkan terima kasih padanya karena dialah sebenarnya yang pernah menjadikan aku seorang pelacur.  Jika tidak demikian, aku dan Samirka pastilah telah mati.

Dua hari kemudian aku pulang kampung. Kusempatkan menziarahi kubur Teuku Iwan yang tewas tertembak oleh serdadu pemerintah kemudian dieksekusi seperti Che Guevara di Kolombia. Kepada Samirka kuceritakan tentangnya. Laki-laki yang pernah mencintai ibunya. Dahulu sekali. Ketika kami masih sama-sama kuliah.

Esoknya aku kembali ke Amerika. Aku tidak tahan tinggal di Aceh karena terlampau panas. Di dalam pesawat Samirka membacakan puisi-puisi yang pernah diberikan padaku oleh Teuku Iwan. Ini salah satunya;

Kekasih I

orang yang kau telantarkan

serupa kubangan

juga rongsokan

namun merindukan

perlakuan yang semena-mena

kekasih

tempat dusta dan luka

laut yang dirayu sungai

dan tempat-tempat

berkumpulnya

gejolak yang mengerikan

kekasih

sama dengan perampasan

hak asasi manusia

Darussalam, medio Juli 2008

Iklan

5 Komentar

Filed under Edi Miswar Mustafa

5 responses to “Cerita Pendek: “Mantan Suamiku”

  1. Siwok Salda (azier)

    edi, aku tau saipa itu bang Yus yang kau maksud dan Samirka..

    huahahah

  2. nun

    Cerita ini lumayan, tapi masalahnya kenapa penulis ini membawa-bawa nama penulis sohor itu, tanpa menjelaskan fungsi kenapa dia harus hadir.

    Inilah masalah tempel-menempel yang sungguh keterlalulan, penulis ini anggap, kalau sudah menempel penulis sohor yang mungkin dikenalnya dengan baik, maka tulisan dia akan menjadi lebih bagus?

    Kenapa kita harus meminta tolong pada orang lain dengan menyeret-nyeret namannya serta kenapa selalu tidak pernah merasa yakin kalau tulisan kita tidak akan kekurangan nilai tanpa menyebut sesuatu yang sesungguhnya sangat tidak penting.

    Jadi berhentilah membuat lelucon yang mungkin hanya lucu pada waktu kita kanak-kanak: memanggil pemadam kebakaran padahal rumah kita sedang tidak terbakar!

    @ nun

  3. nun

    Dan untuk siwok salda alias azier kenapa engkau begitu senang ( engkau tunjukkan dengan tertawa) kalau engkau tahu siapa yang dimaksud penulis dengan bang yus dan samirka? saya pikir engkau seorang pemberani dalam berkomentar seperti yang kau tunjukkan di jalur sebelah pada tulisan engkau tentang pantat perempuan, tapi engkau tahu komentar engkau di atas komentar saya itu mirip sekali dengan apa yang disebut orang Aceh dengan kacak-kacak atawa kacak-kacak kutakat sigoe.

    Dokarim sejauh yang saya pantau dari lamkrak yang sejuk, dalam iklannya setiap menerima peserta baru, tidak pernah menyatakan setuju dengan kacak-kacak kutakat sigoe jenis ini. mestinya anda, siwok salda alias azier, bertanggung jawab dengan menuntaskan komentar anda itu.

    Lalu siwok salda alias azier, ada masalah apa kalau anda tahu tentang bang yus dan samirka dalam cerita edi miswar di atas?
    Anda tidak mugkin kenal dengan bang yus ataupun samirka sebab mereka hidup di dalam cerita edi miswar. apakah anda pernah masuk ke dalam cerita edi miswar lalu berjumpa dengan dua orang yang saya yakin tampan dan cantik jelita itu?
    ah, sok tahu banget loe, itu kalau kata teman saya orang blok m jakarta, waktu saya bilang pergi ke mekkah sekarang jauh lebih dekat daripada pergi ke Lebak Bulus — padahal saya belum bilang mau ke mekkahnya dari mana dulu (hihi).
    Maksud saya, wahai siwok salda alias azier, anda tidak bisa berteriak kacak-kacak kutakat sigoe sekalipun anda punya musuh bernama bang yus sekaligus samirka dan kebetulan dua musuh anda itu sama persis dengan samirka dan bang yus dalam ceritanya edi miswar — haha ketahuan motif anda ketawa kan, anda senang cerita si edi telah melampiaskan nafsu purba anda kepada dua musuh anda itu, mengenai nafsu purba bukankah sesuatu yang anda tantang dengan berdarah-darah dalam tulisan anda di jalur sebelah. saya tiba-tiba jadi bingung, apakah anda tidak mengerti bahwa sastra itu bukan sindiran, bahwa sastra itu hanya bisa meniru tapi tidak bisa mewakili kenyataan? ini bahkan juga berlaku jika si penulis melacurkan karyanya untuk maksud itu.

    saya tiba-tiba merasa sangat sedih dan kehilangan ide, apakah sekolah dokarim yang terhormat itu tidak pernah mengajarkan murid-murinya tentang apa itu beda antara fakta dan fiksi? bahwa kalau kita menulis sebuah cerita tentang seekor babi bernama George Bush , lantaran kita benci sekali kepada babi itu, mestilah babi yang cukup pintar tidak perlu merasa marah, sebab cerita tetap cerita dan cerita bukan sebagai diri si babi.

    saya harus turun, harus turun ke banda aceh, dari tempat saya di lamkrak yang sejuk ini, untuk pergi menghadap pak fozan santa untuk merequest agar anak-anak dokarim jangan lupa untuk diajarkan apa itu beda antara fakta dan fiksi. bersabarlah saudara/ i, saya akan turun, manakala terong, gambas dan cabe saya sudah berbuah, suatu hari nanti. @ Nun

  4. E.M.Mustafa

    saya senang, Nun, telah memberikan apresiasinya. saya kuliah di jurusan sastra (yah… paling sedikit diajarkan sastra secara textbook-lah). mimesisme, atau karya sastra sebagai duplikat alam kayaknya panjang kalau mau diperdebatkan. tapi, tak apalah. pemahaman, Nun sendiri lumayan. menurut saya, asal kita jangan vonis-memvonis.

    tentang Azhari, dengan embel-embel dari saya kesohor itu, memang saya sendiri mengakui penempelan itu. saya masih sentimentil. saya ingin orang segera tahu apa yang dikatakan M. H. Abrams dari buku teori sastra A. teeuw sebagai pencerminan alam.

    Azier, sudahlah. engkau urus saja soal ketat di bawah, jilbab di atas. tak sudi engkau sebut-sebut dara itu lagi. yah, bukannya tiga patah indah. bukan itu. aku, engkau harus tau, tidak lagi pernah patah hati. he he he

    terima kasih atas komentar, Nun. pada azier, jumpa di kedai kopi saja nanti aku ucapkan; sabah (terj. Aceh untuk kata terima kasih).

  5. cerpen hana jioh dari kenyataan..yang jelas kee mumang ku baca arah cerita jih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s