Salju Hitam

Ditulis oleh: Raisa Kamila

MALI dan Rajif akhirnya ikut dengan Bapak dan Ibu Shah untuk sepanjang hari dan malam ini. Mali membayangkan tempat yang akan mereka tuju itu seperti sebuah tebing curam tempat orang-orang dipaksa bekerja. Bapak dan Ibu Shah selama beberapa hari dan malam pergi ke sana dengan busana putih yang tidak menyenangkan. Setelah itu pulang tengah malam ke rumah penginapan dengan baju putih yang berwarna kusam dan campur debu dan muka lelah sehingga saat Mali menceritakan tentang sumur dalam yang gelap di rumah penginapan, Ibu Shah tidak berkata apa- apa selain, “Aku lelah sekali.”.

Sementara Rajif sudah bisa membayangkan hidungnya bersih dari segala kotoran saat pergi ke tempat yang ditujunya nanti. Menetap di rumah penginapan dan menunggu Bapak dan Ibu Shah pulang membuatnya kelaparan dan terpaksa harus memakan kotoran hidungnya yang sedikit asin, kenyal tapi segar. Rajif menawarkan sebiji kotoran hidung untuk Mali, tapi dengan lembut Mali menolak, dia lebih suka yang manis dan tidak terlalu legit.

Mali dan Rajif membayangkan tempat yang mereka tuju adalah tebing curam dengan orang-orang yang dipaksa bekerja; berseragam putih dan bermuka muram; bekerja tanpa keluh sehari-semalam penuh. Dan lagi, tambah Rajif, tidak bisa makan apa pun kecuali kotoran hidung sendiri.

BAPAK dan Ibu Shah tidak akan menghabiskan persedian uang yang semakin menipis untuk menyewa satu kamar di penginapan. Bapak Shah senang mendengar Ibu Shah punya saudara jauh yang bersedia rumahnya ditempati selama 44 hari mereka melakukan ibadah di tanah yang dimuliakan Tuhan, ditambah satu minggu untuk berjumpa ibu dari Bapak Shah yang sedang melakukan ibadah yang sama.

Mali sebenarnya takut dengan sumur dalam yang gelap di depan rumah penginapan. Seperti kuburan yang menimbun lapisan mayat-mayat di dalamnya. Mali dan Rajif sepakat untuk melupakan perihal sumur dalam dan gelap itu dengan bermain SEGA bersama saudara- saudara jauh mereka yang sepantaran dan tidak disuruh pergi untuk memamakai seragam putih dengan Bapak atau Ibu mereka.

Dalam heningnya malam-malam yang mulia itu, Rajif dan saudara yang masih sepantaran menertawakan Mali yang berkali-kali kalah dalam pertarungan tinju melawan monster bergigi lima di SEGA. Mali tidak mau menyerah dan membalas mengejek satu saudaranya yang tidak bisa memainkan gasing berlampu warna-warni. Semua tertawa dan melupakan bahwa semua orang di luar sana sedang merayakan keseragaman di hadapan Tuhan dengan hening dan khidmat, dengan doa-doa panjang dari buku petunjuk bacaan yang dililitkan di tenggorokan, dalam sujud-sujud melelahkan untuk sebuah pengampunan berkepanjangan, sepanjang hari, sepanjang malam.

Pintu rumah diketuk tiga kali. Semua terdiam. Mali tiba-tiba ingat nasehat Ibu Shah untuk tidak terlalu riuh saat malam. Saudara jauh yang tertua membuka pintu sebentar dan menutupnya kembali cepat- cepat. Mali, Rajif dan saudara jauh lainnya menunggu saudara jauh tertua membuka mulut dan mengatakan ada apa? Apakah kota di bom? Tanya seorang saudara jauh perempuan. Saudara jauh tertua mengatakan, bahkan lebih buruk dari itu. Rajif menangis dan Mali tidak bisa bicara lebih banyak lagi. Saudara jauh tertua mengatakan, seseorang datang menyampaikan berita duka, bahwa tetangga sebelah baru saja meninggal dengan cara yang tidak menyenangkan: kepalanya dipenggal dengan pedang panjang secepat cahaya petir datang dan menghilang sebelum suaranya kedengaran, seperti nasib musuh di dalam SEGA, tambahnya.

Kenapa? tanya Mali sebelum semuanya beranjak pergi ke kamar tidur masing- masing dan menghentikan acara berkumpul di ruang bermain SEGA. Saudara jauh laki- laki mengatakan dengan nada yang wajar, mereka tidak pergi beribadah seperti bapak dan ibu kita, mereka juga membuat keributan di sela-sela khusyuknya orang- orang memanggil nama Tuhan. Sudah jelaskan?

PERJALANAN menuju tempat ibadah tidak terlalu menyenangkan. Dengan mobil kutu berwarna merah mencolok, Mali, Rajif, Bapak dan Ibu Shah serta seorang pengemudi dengan kepala berkerudung motif taplak meja melewati gurun pasir yang gersang dan menjemukan.

Mali dan Rajif memilih lebih baik pergi ke tebing curam dan bekerja paksa dengan seragam putih yang panjang ketimbang dihabisi dengan pedang. Ini tanah yang mengerikan seperti sumur gelap dan dalam di rumah penginapan, kata Mali dan disambut anggukan setuju Rajif yang kelaparan tapi tidak memiliki persediaan kotoran hidung lagi.

Kapan kita pulang ke rumah? Tanya Rajif pada Ibu Shah yang terkantuk- kantuk melafalkan ucapan ampunan dan memuji kebesaran Tuhan, satu per satu pada setiap butiran tasbih yang berada di tangannya. Ibu Shah berhenti pada lafal kesebelas dan mengatakan pada Rajif, bahwa mereka baru akan pulang ke rumah setelah semua ibadah selesai. Selain itu mereka juga akan menjumpai neneknya dulu dan akan pulang bersamaan ke tempat asal mereka, di Kepulauan Tenggara.

Mali mengalihkan pandangannya dari gurun pasir yang seakan-akan membawa mereka ke ujung yang tidak bertepi, lalu bertanya pada Bapak Shah, “Apa? Kita punya nenek?” Bapak Shah sedang meletakan kain taplak meja pada kepalanya dan merapikan dengan teliti melalui cermin kecil di mobil merah mencolok menjawab, “Tentu saja kalian punya nenek, tapi sekarang tinggal satu yaitu ibuku. Nenek dari pihak ibumu sudah meninggal setahun lalu,” jawabnya.

“Nenek kita itu seperti apa?” Tanya Rajif sebelum Mali sempat bertanya kenapa nenek dari pihak Ibu Shah meninggal. Tapi Mali membatalkan pertanyaan itu dan menambahkan pertanyaan Rajif, “Iya, iya, nenek itu seperti apa? Apakah seperti nenek sihir yang meracuni Putri Salju? Atau seperti nenek tetangga kita di komplek perumahan mahasiswa, yang berkulit dan berambut putih dan setiap sore berkacamata hitam menyapa anak- anak TK seperti kami dengan bait lagu disko yang semua orang sudah lupa?”

“Bukan,” kata Ibu Shah sedikit gusar dan lagi- lagi berhenti mengucapkan syukur dan ampun kepada Tuhan pada bilangan keduapuluhsembilan,“Tidak ada nenek sihir dan nenek kalian itu, ibu dari bapakmu, sudah lama tidak kami temui juga. Sebelum kita berangkat sekolah sepuluh tahun lalu, dia sudah lumayan tua dan sudah banyak lupa. Dia hanya berpesan singkat untuk membawa pulang salju dalam karung goni untuk dilihatnya sebelum terlalu tua dan mati,” lanjut Ibu Shah dengan suara yang agak tercekat.

“Apakah kalau nenek sudah terlalu tua sudah pasti akan mati?” Tanya Mali lagi. Rajif menunggu dengan kebingungan jawaban dari Bapak atau Ibu Shah. Bapak Shah berhenti merapikan kain taplak meja di kepalanya dan berkata, “Mati itu pasti dan tidak harus menunggu menjadi terlalu tua dulu.” Mali baru akan mengatakan kalau neneknya bisa saja sudah mati sekarang atau mungkin beberapa saat lagi, tapi Ibu Shah menyahut, “Amalia!” Dan Mali paling benci siapapun yang memanggil nama lengkapnya.

APA yang ditemui Mali dan Rajif berbeda dengan bayangan mereka sebelumnya. Tidak ada tebing curam dan pekerja paksa. Yang ada adalah lantai putih dingin yang cantik, orang-orang dengan balutan kain putih dengan kulit beraneka warna, beberapa duduk di sudut-sudut bangunan suci, beberapa melakukan ibadah tiada henti. Dan di tengah, ada bangunan persegi. Seperti iglo dari salju hitam di Kutub. Tapi Mali dan Rajif berpisah, mereka tidak bisa membicarakan apa yang kira-kira berada di dalam iglo persegi salju hitam itu. Mali pergi dengan Ibu Shah, Rajif pergi dengan Bapak Shah.

Selebihnya, tempat itu membosankan. Mali menghancurkan roti kabin dan memberi remah-remahnya kepada semut-semut yang lewat. Mungkin mereka kelaparan seperti Rajif, pikir Mali. Dia senang melihat semut- semut itu berbaris dan merebut remahan roti kabin dari Mali. Ibu Shah dan ibu-ibu lain larut dalam kalimat-kalimat suci yang diucap berkali- kali. Mali awalnya sedikit terpesona melihat semua ibu berseragam putih dan beberapa saat kemudian dia merasa janggal karena takut tidak bisa membedakan yang mana Ibu Shah diantara kerumunan ibu-ibu yang memakai baju putih yang tidak ada beda.

Dia juga takut sandal baru berwarna merah mudanya hilang di antara banyaknya sandal yang harus dilepaskan di pintu gerbang. Dan juga takut akan terhimpit ibu-ibu bertubuh besar saat sedang memakai sandal nanti. Tapi kemudian, Mali menenangkan diri sendiri dengan mengatakan, ini lebih baik daripada leherku dipenggal dengan pedang panjang. Mali lagi-lagi merasakan ngeri di ujung kaki.

“Amalia!” Seru Ibu Shah dengan suara dipelankan saat melihat tempat duduknya penuh dengan remah- remah roti kabin dan semut, “Apa yang kau lakukan?” Ibu Shah menarik kantong plastik roti kabin dari tangan Mali. “Mereka kan lapar!” Sahut Mali setengah protes karena roti kabinnya disita Ibu Shah. Tapi Ibu Shah tidak mau tahu, “Jangan manjakan semut! Nanti kalau roti kabinnya sudah habis dan mereka masih lapar, mereka akan memakanmu, tahu?” Mali terdiam dan melipat kakinya ke dalam dadanya, mengikat dengan tangannya. Baiklah, dia tidak akan memanjakan semut lagi. Ternyata mati dimakan semut juga tidak lebih baik daripada mati dipenggal.

Ibu Shah lega dan kemudian kembali mengikuti alunan panjang kalimat-kalimat suci. Tapi Mali tidak tahu harus berbuat apa. Kepalanya penuh dengan pikiran tentang pedang panjang, semut pemakan manusia, sumur gelap dan dalam, nenek yang terlalu tua, gurun pasir, orang- orang berbaju putih, kotoran hidung Rajif. Mali tidak pernah menemukan tempat lain seburuk tempat yang dimuliakan Tuhan itu.

Mali tahu tempat ini cuma persinggahan sementara menuju rumah mereka di Kepulauan Tenggara. Dia dan Rajif lahir di negara besar di Utara, yang Bapak dan Ibu Shah pergi jauh ke sana untuk melanjutkan sekolah tinggi dan terlalu lama sampai mendapatkan gelar sarjana. Tidak ada hal lain yang diinginkan Mali kecuali pulang ke rumah mereka di Kepulauan Tenggara, sekalipun dia juga tidak punya ide apapun tentang keadaan di sana.

Ibu Shah berdiri, hal yang sama juga dilakukan ibu- ibu lainnya. Mali takjub lagi melihat barisan panjang orang- orang berbaju putih itu. Apakah neneknya berada di situ juga?
Seperti halnya rumah di kepulauan Tenggara, Mali juga tidak punya bayangan apapun tentang neneknya. Keduanya adalah sesuatu yang memiliki hubungan dekat namun berjarak dengan Mali dan Rajif. Mali membayangkan hal itu seperti saat dia memasuki kamar mandi di bandar udara yang besar bulan lalu, dia bisa begitu akrab dengan suara dari bilik kamar mandi sebelah; suara resleting yang dibuka, celana yang diturunan dan suara kencing yang keluar tertahan atau bebas hambatan ke kloset duduk yang menjijikkan, semuanya terdengar akrab dari bilik Mali yang sedang buang air besar. Tapi dia tidak bisa menebak seperti apa pemilik suara kencing barusan.

Tangan Mali yang pendek ditarik perlahan oleh Ibu Shah agar tidak terpisah dari kerumunan perempuan- perempuan yang keluar berdesakan dari ruangan besar tempat ibadah dilangsungkan. Mali lagi- lagi ketakutan. Dia merasa begitu kecil dan ringkih di dalam kerumunan perempuan- perempuan yang nyaris kesemuanya berkeriput dan tua. Ibu Shah berhasil menarik keluar Mali ke pintu gerbang dan menyuruh Mali cepat- cepat memakai sandalnya yang berwarna merah muda.

Kaki kiri Mali tidak masuk dengan rapi ke sandalnya yang ternyata tidak hilang di pintu gerbang. Mali melihat perempuan tua di depannya, yang mungkin telah kehabisan remah- remah roti kabin untuk diberi kepada lalat yang kelaparan, sehingga sekarang lalat- lalat itu mengerubutinya yang kelihatan lemas dan tidak bergerak lagi. Mungkin sudah mati, pikir Mali. Dia tiba- tiba seperti terbiasa dan merasa tidak perlu bertanya lagi kepada Ibu Shah, mereka akan terlambat mengelilingi iglo persegi dari salju hitam, dan keberkahan akan berkurang.

Helvetica, Oktober- November 2008.

Dipublikasikan pertama kali di Suara Merdeka edisi 18 Mei 2009

Iklan

3 Komentar

Filed under Raisa Kamila

3 responses to “Salju Hitam

  1. Muhadzdzier EM Salda

    tulisan ini juga bisa di baca di
    http://sriti.com/story_view.php?key=3202.

    selamat Raisa, Cerpenis Muda Aceh masa depan.

  2. pang tuah

    trim, baru tau kalau kotoran hidung itu, rasa asin! aku pikir, pahit!

  3. pang tuah

    trim, baru tau kalau kotoran hidung itu, rasanya asin! aku pikir, pahit!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s