Tentang Definisi Politik Mahasiswa Yang Kita Perdebatkan

Ditulis oleh: Rizki Alfi Syahril

Pemilihan raya (Pemira) untuk memilih Presiden Mahasiswa Universitas Syiah Kuala untuk masa bakti satu tahun ke depan akan dilaksanakan pada hari Senin (11/5) ini. Masa kampanye dan debat kandidat telah terlalui. Dan rupanya, proses politik yang biasanya kita dengar di dunia nyata, juga terjadi kampus. Misal adanya pengrusakan atau penghilangan beberapa atribut kampanye dari beberapa calon, adanya black campaign¸dsb.

Tetapi, di antara semua hal yang terjadi, isu utama yang mengalir, yaitu bagaimana rupanya isu partai politik masuk kampus tetap menjadi isu utama yang digembor-gemborkan oleh beberapa calon untuk menjatuhkan calon lain yang ditengarai menjadi boneka dari sebuah partai politik. Isu ini telah berkembang selama beberapa periode kepengurusan Presiden Mahasiswa Unsyiah.

Kampus Unsyiah, dengan lebih dari dua puluh ribu mahasiswanya, adalah lahan empuk dan menjadi rebutan bagi partai politik untuk mencoba mendulang suara dari kalangan intelektual muda itu. Kampus, dinilai sangat potensial untuk menjadi basis massa partai-partai politik.

Pada debat kandidat Calon Presiden Mahasiswa yang dilaksanakan tahun 2008, saya teringat bagaimana jawaban Yanwar Fakhri (Capresma 2008) yang menjawab pertanyaan dari mahasiswa tentang bagaimana tanggapan Anda terhadap partai politik yang masuk ke kampus. Yanwar menjawab “ Fungsi mahasiswa ada dua. Yang pertama sebagai akademisi/intelektual yang menuntut ilmu di kampus, dan yang kedua sebagai masyarakat. Karena Fungsinya sebagai masyarakat, mahasiswa memiliki hak untuk berpolitik sebagaimana diatur dalam UUD 1945, bahwa setiap orang bebas mengeluarkan pendapat dan berorganisasi. Dan kita tidak boleh melarang seseorang untuk berpolitik, karena itu adalah Hak nya sebagai warga negara. Mungkin yang perlu kawan-kawan cermati, bahwa ketika dia di kampus, dia tidak boleh menyebarkan ideologi politiknya pada orang lain, karena Undang-Undang Pemilu juga melarang orang untuk berkampanye di lingkungan kampus”. Hal yang kemudian saya lihat perkembangannya selama dua tahun ini, isu ini tetap berkembang, karena pada dasarnya Partai lain tidak ada yang bisa mendapatkan massa sebegitu besarnya, selain partai yang dituding telah menitipkan kader-kadernya di lingkungan dakwah kampus.

Ketika duduk dan berdiskusi dengan beberapa kawan, isu ini kembali mencuat dan menjadi diskusi dan debat yang menarik, yang kemudian mendorong saya untuk menuliskan opini ini. Mengapa hal ini saya lakukan ? Karena ada banyak hal yang hingga saat ini, rupanya masih luput atau abai untuk kita pikirkan bersama. Yang pertama tentu saja tentang Apa itu Definisi Politik.

Saya harus membaca buku The Art of War karangan Sun Tzu, Zarathustra karangan Nietzche yang menjadi buku penggerak Hasan Tiro untuk memproklamirkan GAM di Gunung Halimun, membaca Das Capital dan Reason ini Revolt yang menjadi landasan berpikir kaum Marxian, Bayang Tak Berwajah karangan Subcomandante Marcos, In The Origin of Species karya Charles Darwin, Catatan Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie, Di Bawah Bendera Revolusi karya Soekarno, Aksi Massa dan Madilog karya Tan Malaka, dan tentu saja buku tentang varian gerakan atau strategi politik yang pernah ada di dunia ini. Dan tak lupa juga, Alquran.

Apa yang merisaukan saya tentang definisi ini?

Saya termasuk orang yang percaya bahwa Hidup, bagaimanapun itu, adalah proses kita berpolitik. Proses bagaimana kita dapat mencapai tujuan kita, proses dimana kita menunjukkan eksistensi diri kita, dan proses kita untuk dapat bertahan.

Bahkan, Alquran, juga menegaskan bahwa Tujuan manusia diturunkan ke bumi adalah untuk menjadi khalifah. Khalifah atau imam, atau leader atau pemimpin adalah jabatan politik tertinggi yang sering kita Ributkan dan Kita Rebutkan.

Salah satu tesis dari Bapak Evolusi kita, Darwin, yaitu bahwa bukanlah species yang terkuat dan terpandai yang akan menang dari proses seleksi alam,(menjadi the survivor), tetapi yang paling pandai menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang dapat menang dan bertahan!

Dari proses pembentukan Kita (Selaku manusia), kita telah melakukan proses politik yang paling kejam yang pernah ada di bumi ini, yaitu penaklukan dengan cara membunuh lawan (bahkan bila mungkin, memnbunuh kawan).

Dari ribuan sperma yang diproduksi dari Bapak Kita, hanya sebagian atau bahkan satu yang dapat bertemu dengan sel telur Ibu Kita, sehingga kemudian dapat membentuk Kita. Proses kejar mengejar, proses perjalanan sperma yang terjadi di saluran rahim Ibu Kita, tanpa kita sadari adalah sebuah proses politik yang paling purba!

Bahkan pada awal penciptaan dunia juga sudah mulai dapat kita temukan prose politik itu, yaitu Lobby, Negosiasi, dan juga Persaingan.

Adam kesepian di surga, dan dia meminta Allah untuk menciptakan seseorang untuk menemaninya.

Hawa telah tercipta, dan sebagaimana kemudian terang diceritakan dalam Novel atau Film tentang Spionase khususnya Genre James Bond, bahwa wanita dengan segala daya tariknya, dapat meluluhkan hati pria, sehingga mau menuruti permintaannya!

Dan Adam dan Hawa turun di bumi!

Kemudian kita juga tentu masih ingat, bagaimana sejarah terus berkembang.

Kita mengetahui tentang persaingan yang terjadi antara Habil dan Qabil untuk memperoleh pasangan istri yang juga adik kandungnya, yang juga menjadi sejarah pembunuhan yang pertama terjadi di bumi!

Saya menjadi geli dan nyaris tertawa terbahak-bahak ketika kawan-kawan saya dan siapapun itu,yang apatis dan benci dengan apa yang namanya politik (seperti halnya Abang angkat saya yang tertawa ketika membaca buku karangan orang Jawa yang menuliskan tentang Aceh tetapi detail ceritanya Sangat Jauh dari Aceh).

Mengapa ?

Karena saya tidak mendapatkan sebuah pencerahan atau gagasan baru yang dapat kita perdebatkan, kecuali mengakui, bahwa yang mengatakan itu tidak tahu apa-apa tentang apa yang dia katakan !

Dalam sebuah buku kuno yang berjudul “Perbedaan antara Pemimpin dan Aktivis dalam Gerakan Protes Mahasiswa” yang saya temukan di pustaka tua di kampus Ekonomi, tertulis bahwa : “Tidak semua sarjana atau orang yang pernah duduk di perguruan tinggi dapat disebut sebagai intelektual. Karena syarat menjadi seorang intelektual yaitu sebagaimana yang dikemukakan olen Knopfelmacher :

1. Intelektual adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi yang mempunyai pengetahuan setingkat dengan pengetahuan yang diberikan di pendidikan tinggi

2. Mereka berminat pada masalah-masalah yang menyangkut nasib (destiny) manusia, yaitu masalah-masalah moral dan moral politik.

3. Mereka mampu menyatakan prinsi-prinsip moral dan prinsip-prinsip politik mereka secara lisan maupun tulisan.

Salah satu ciri khas kaum intelektual adalah sifatnya yang kritis. Karena ia hidup dalam dunia idea, maka kaum intelektual selalu melihat kekurangan dalam kenyataan dan selalu mau mengkritik dunia nyata, selalu menghendaki perubahan-perubahan dalam dunia nyata ke arah yang menghendaki harapan-harapan idealnya.

Fremerey mengemukakan bahwa sebagai salah satu kelompok masyarakat mahasiswa mempunyai peranan yang penting sebagai kekuatan politik (political pressure group) karena sifatnya yang berikut :

pekerjaannya yang luas, kebebasan atas keuangan dan keluarga, penyelesaiannya    melalui sebuah jaringan komunikasi informal yang relatif dekat, sebaik control yang terbatas dari aktivitas yang dilakukan jajaran eksekutif.  (Framerey, M. 1976)

Lipset juga berpendapat bahwa mahasiswa dapat diperhitungkan sebagai kelompok yang punya kekuatan politik oleh karena :

Mahasiswa sebagai sebuah lapisan sosial lebih responsif pada trend politik, untuk merubah suasana hatinya, kesempatan untuk melakukan aksi, daripada kelompok lain di dalam populasi.  (Lipset & Altbach: 1969).

Teranglah bahwa peranan mahasiswa dalam masyarakat oleh beberapa sarjana tidak dipandang hanya terbatas pada kritik atau kontrol sosial, melainkan lebih jauh lagi bisa merupakan kekuatan politik yang mampu merangsang terjadinya perubahan-perubahan sosial-politik di negara itu. Sehingga D. K. Emerson perlu mengingatkan :

Bahaya yang besar ketika menulis tentang aktivitas politik mahasiswa di negara berkembang yaitu intensitas dan capaian kemenangan yang bisa mengaburkan kita pada ketidakhadirannya, kelemahan, dan tidak kurangnya kegagalan. (Fremerey, M. 1976).

Pada dasarnya, saya adalah orang yang sangat tidak suka dan benci dengan keseragaman, (apalagi memaksa orang agar menjadi “tampak seragam” dengan kita), tetapi saya sangat suka dengan perbedaan yang terjalin dan terjaga dengan indah, sebagaimana Pelangi!

Dan semoga kita tidak termasuk dalam jamaah yang hanya berdoa ketika musibah datang tanpa adanya keinginan untuk merubah keadaan!

Sedikit saya kutip sajak karya Wiji Thukul dengan Judul Peringatan (1987) :

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

Dituduh subversi dan mengganggu keamanan

Maka hanya satu kata : lawan !

Episentrum, 27 April 2009.

 

 

 

Iklan

2 Komentar

Filed under Rizki Alfi Syahril

2 responses to “Tentang Definisi Politik Mahasiswa Yang Kita Perdebatkan

  1. Urus Setia

    Tulisan ini sudah dimuat di Harian Serambi Indonesia, Edisi Kamis, 14 Mei 2009.
    Sila Klik link ini untuk membaca versi on-line nya :
    http://www.serambinews.com/news/mendebat-politik-mahasiswa.

    Makasih

  2. Nindy

    Kiki, tulisan ke bikin aku mau pulang cepat-cepat pulang saja! Jadi bagaimana Pemilu Raya di kampus?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s