Tuhan Tidak Tidur; sebuah surat cinta untuk Wakil Rakyat.

Kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh yang terhormat. Perkenalkan nama saya Muhadzdzier M. Salda, Murid Sekolah Menulis Do Karim Banda Aceh dan rakyat jelata yang bermukim di kampung Aceh. Mari, sekali ini aku ingin menulis surat untukmu Tuan dan Puan para wakil rakyat yang terhormat. Hanya untukmu. Surat cinta, Tuan! Mungkin ini suratku sekali dalam seumur hidup. Seperti aku menulis surat kepada seorang kekasih pujaan hati belahan jiwa. Maka seperti itulah kecintaanku kepada Tuan-Puan Wakil Rakyat yang terhormat. Ah, kata-kata yang terakhir itu sepertinya tidak seharusnya kusebutkan lagi. Benarkah engkau masih terhormat? Mengingat bulan depan engkau akan melakukan kunjungan kerja ke Luar Negeri. Begitulah kira – kira kabar berita yang ku baca di koran harian. Tak pantas sepertinya menyebut kunjungan kerja, lebih baik kusebut saja jalan-jalan menghabiskan anggaran yang notabenenya berasal dari uang rakyat.
Para wakil rakyat yang terhormat, sebelum lebih jauh sungguh kutulis surat untukmu dengan harap-cemas. Mengingat karena aku sebagai mahasiswa yang tak tau diuntung akan kau sebut nantinya. Bersebab beberapa bulan dan tahun yang telah berlalu engkau telah menjebloskan proposal-proposal kegiatan kemahasiswaan kami melalui anggaran yang engkau sahkan demi terlaksananya kegiatan. Waktu itu aku tidak pernah berpikir engkau akan membungkam mulut kami dengan bantuan uang supaya tidak bersuara suatu saat kelak jika engkau menghabiskan uang rakyat untuk jalan-jalan keluar negeri. Oh iya, alasan kalian memang bukan untuk jalan-jalan kan? Alasan yang kalian sebut dengan kunjungan kerja dan studi banding –istilahnya-, untuk memajukan tanah endatu kita, Aceh!
Dari tajuk suratku di atas, Tuan-Puan sudah tau tentunya maksud kutulis surat cinta ini. Bahwa ditengah kehidupan rakyat kita yang masih repot mencari sebambu beras sehari untuk keluarganya, ada banyak rakyat kita yang masih berkudis berkurap, ada banyak rakyat kita yang masih tidur di bawah atap rumah pelepah rumbia yang bocor, ada banyak sekali rakyat kita yang mengerang menahan sakit kanker, tumor, anak-anak yang menderita gizi buruk dan sebagainya yang tak bisa berobat kerumah sakit karena persoalan klasik (kemiskinan), ada banyak rakyat kita yang anak-anaknya tidak bersekolah karena harus membantu mengantarkan orang tua mereka untuk mengemis door to door ke seluruh penjuru kampung.
Belum habis dengan itu, ditengah kondisi kampung kita yang baru saja usai dari perang dan amuk air laut. Tetapi engkau masih saja ngotot untuk keluar negeri mengakhiri masa tugas di penghujung akhir September nantinya. Mengingat ada banyak dari Tuan yang tak lagi bisa duduk di kursi empuk itu.
Memang seperti yang telah di bicarakan oleh Ketua DPRA Bapak Sayed Fuad Zakaria, bahwa wacana kunjungan ke luar negeri sudah jauh-jauh hari diagendakan. Bahkan pada masa awal engkau menjadi wakil rakyat tahun 2004 lalu. Tapi mengapa baru sekarang diumumkan kepada publik setelah selesai pemilu legislatif kemarin? Aku yakin sekali, jika saja wacana ini diberitakan sebelum pemilu legislatif, tentu akan sangat berpengaruh bagi perolehan suara kalian yang maju lagi menjadi caleg. Pintar-pintar sekali memang kalian ini membohongi rakyat. Untung saja beberapa diantara kalian tidak lagi dipilih pada pemilu kemarin.
Untukmu yang duduk sambil diskusi dengan baju safari, Tuan dan Puan wakil rakyat. Aku tentu sangat kecewa sekali dengan sikap kalian ini. Maunya mementingkan kepentingan pribadi semata. Berlebih lagi kekecewaanku ini pada seorang Khairul Amal yang berasal dari Partai Keadilan Sejahtera, yang sejatinya sebagai sebuah partai yang selama ini getol menolak kegiatan-kegiatan menghamburkan uang rakyat justru ikut mendukung kunjungan ke Luar Negeri. Ah, menyesal benar aku memilih engkau lima tahun yang lalu ketika saat itu aku masih di kampung Bireuen. Benar saja bahwa tidak ada lagi Wakil Rakyat yang bisa kami percaya. Kalian semua egois. Mentang-mentang rakyat tidak lagi memilih kalian pada pemilu bulan lalu, seenaknya saja kalian menghabiskan uang rakyat yang sejatinya bisa di gunakan untuk membantu membuat rumah, biaya kesehatan untuk kehidupan sebagai rakyat di Nanggroe yang anggarannya meulimpah ruah.
Uang sebanyak Rp. 3,4 Miliar yang di anggarkan untuk kunjungan keluar negeri tentu saja bukan sebuah angka nominal yang sedikit bagi kalian yang pernah atau tidak melihat uang. Jika saja uang itu digunakan untuk membangun rumah kaum dhuafa dengan taksiran harga per rumah sebesar 40 juta, katakanlah, maka jumlah rumah yang bisa di bangun mencapai 85 buah rumah type 36. Sebuah hal yang sangat positif bukan? Berapa banyak rakyat yang akan terbantu dengan alokasi uang itu. Atau seandainya saja uang 3,4 miliar itu kita belikan kopi, maka seluruh rakyat Aceh bisa ikut minum tentunya. Seperti tingkah dosenku di kampus yang mampu mengolah setumpuk taik kerbau menjadi setangkai bunga mawar yang indah dan harum. Kenapa pula ini tidak bisa kalian lakukan?
Para anggota dewan perwakilan rakyat Aceh yang terhormat. Jika saja kalian menggunakan hati nurani dan perasaan. Berapa banyak rakyat Aceh akan mencerca sikap Pak dewan jika saja Mendagri mengizinkan untuk kalian melancong keluar negeri. Hanya saja cercaan rakyat memang tidak semuanya pernah terekspos ke media. Tapi percayalah, disetiap sudut jambo jaga sudah begitu banyak cemoohan yang aku dengar dari mulut mereka di kampung-kampung terhadap sikap para Tuan-Puan yang menghabiskan uang dari Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA).
Ketika masa kerja tuan-tuan akan berakhir pada September 2009. Apa yang bisa kalian lakukan ketika pulang dari luar negeri. Pulang dari luar negeri saja masa kerja akan berakhir, tak ada lagi yang bisa Tuan lakukan. Jadi kunjungan kerja ke luar negeri hanyalah pelesiran untuk menghambur-hamburkan uang rakyat sebelum masa kerja berakhir. Mengingat cukup banyak diantara bapak-bapak wakil rakyat yang terhormat tidak lagi terpilih menduduki jabatan wakil rakyat pada masa periode 2009-2014.
Untukmu yang biasa bersafari disana, di gedung DPRA. Para wakil rakyat yang kucintai. Terakhir kali sebagai rakyat jelata, aku tentu begitu berharap, sudah sepantasnya rencana kunjungan ke luar negeri dibatalkan saja. Ini sikap perangai yang sangat buruk sekali. Buatlah kegiatan di akhir masa jabatan yang happy ending. Mirip seperti orang (maaf) bersenggama. Sama-sama enak. Yang suatu saat kelak nantinya akan di kenang oleh rakyat sebagai sebuah kenangan yang enak dan menyenangkan.
Jika kita mengkaji dari selama ini yang mereka peroleh sebagai wakil rakyat sudah lebih dari cukup. Apa yang kurang seperti yang selama ini mereka dapatkan. Mulai dari gaji, tunjangan, mobil dinas, uang sewa rumah, uang kopi, uang  terima kasih dan uang tetek bengek lainnya. Mereka yang mengaku para wakil rakyat, sudah sepantasnya merasakan apa yang selama ini kerap dirasakan oleh rakyat. Biar bisa di sebut, wakil rakyat seharusnya merakyat seperti kata Iwan Fals.
Kepada bapak Mendagri Mardiyanto, aku mendesak untuk tidak memberikan izin kepada Anggota DPRA melakukan  studi banding atau jalan-jalan ke luar negeri. Sungguh dari pengamatan saya, itu tidak bermanfaat sama sekali Pak! Tetapi akan sangat berguna dana 3,4 Miliar itu di pergunakan untuk kepentingan publik semisal melanjutkan pembangunan rumah korban konflik, korban tsunami, serta kaum dhuafa di Aceh atau sebaiknya dana itu di alokasikan saja untuk tujuan yang langsung menyentuh kepada kepentingan rakyat banyak. Atau begini saja, kita gunakan saja uang itu untuk ngopi bareng di Ulee Kareng, kita undang seluruh rakyat Aceh kesana. Ngopi bareng bersama anggota DPRA. Oya, jika kalian tidak setuju ya sudah. Kalian boleh pergi saja ke luar negeri, tapi dengan syarat, pulang dari sana kalian bawa pulang si jago Jose Mourinho pelatih Inter Milan, sebuah klub sepak bola di Italia,  untuk menangani Persiraja Banda Aceh. Bagaimana, Tuan?
Tuan dan Puan para wakil rakyat yang berbahagia, akhirnya ingin aku sampaikan pada kalian semua permintaan maafku jika telah lancang menulis surat ini. Tidak ada maksud mencaci atawa maki. Percayalah bahwa Tuhan Tidak Tidur. Akan di catat oleh Malaikat semua perbuatan baik dan buruk kita di dunia ini. Dan suatu masa nantinya aku dan engkau para wakil rakyat akan bisa juga ke luar negeri yang sebenar-benarnya. Negeri akhirat maksudku. Kalau itu sungguh, tidak ada yang bisa melarang kalian kesana. Permohonan maafku, Muhadzdzier M. Salda, rakyat jelata di Nanggroe Aneh Darussalam. Eh, Nanggroe Aceh Darussalam.
Akhir kata, wassalam!

Ditulis oleh: Muhadzdzier M. Salda

Kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh yang terhormat. Perkenalkan nama saya Muhadzdzier M. Salda, Murid Sekolah Menulis Do Karim Banda Aceh dan rakyat jelata yang bermukim di kampung Aceh. Mari, sekali ini aku ingin menulis surat untukmu Tuan dan Puan para wakil rakyat yang terhormat. Hanya untukmu. Surat cinta, Tuan! Mungkin ini suratku sekali dalam seumur hidup. Seperti aku menulis surat kepada seorang kekasih pujaan hati belahan jiwa. Maka seperti itulah kecintaanku kepada Tuan-Puan Wakil Rakyat yang terhormat. Ah, kata-kata yang terakhir itu sepertinya tidak seharusnya kusebutkan lagi. Benarkah engkau masih terhormat? Mengingat bulan depan engkau akan melakukan kunjungan kerja ke Luar Negeri. Begitulah kira – kira kabar berita yang ku baca di koran harian. Tak pantas sepertinya menyebut kunjungan kerja, lebih baik kusebut saja jalan-jalan menghabiskan anggaran yang notabenenya berasal dari uang rakyat.

Para wakil rakyat yang terhormat, sebelum lebih jauh sungguh kutulis surat untukmu dengan harap-cemas. Mengingat karena aku sebagai mahasiswa yang tak tau diuntung akan kau sebut nantinya. Bersebab beberapa bulan dan tahun yang telah berlalu engkau telah menjebloskan proposal-proposal kegiatan kemahasiswaan kami melalui anggaran yang engkau sahkan demi terlaksananya kegiatan. Waktu itu aku tidak pernah berpikir engkau akan membungkam mulut kami dengan bantuan uang supaya tidak bersuara suatu saat kelak jika engkau menghabiskan uang rakyat untuk jalan-jalan keluar negeri. Oh iya, alasan kalian memang bukan untuk jalan-jalan kan? Alasan yang kalian sebut dengan kunjungan kerja dan studi banding –istilahnya-, untuk memajukan tanah endatu kita, Aceh!

Dari tajuk suratku di atas, Tuan-Puan sudah tau tentunya maksud kutulis surat cinta ini. Bahwa ditengah kehidupan rakyat kita yang masih repot mencari sebambu beras sehari untuk keluarganya, ada banyak rakyat kita yang masih berkudis berkurap, ada banyak rakyat kita yang masih tidur di bawah atap rumah pelepah rumbia yang bocor, ada banyak sekali rakyat kita yang mengerang menahan sakit kanker, tumor, anak-anak yang menderita gizi buruk dan sebagainya yang tak bisa berobat kerumah sakit karena persoalan klasik (kemiskinan), ada banyak rakyat kita yang anak-anaknya tidak bersekolah karena harus membantu mengantarkan orang tua mereka untuk mengemis door to door ke seluruh penjuru kampung.

Belum habis dengan itu, ditengah kondisi kampung kita yang baru saja usai dari perang dan amuk air laut. Tetapi engkau masih saja ngotot untuk keluar negeri mengakhiri masa tugas di penghujung akhir September nantinya. Mengingat ada banyak dari Tuan yang tak lagi bisa duduk di kursi empuk itu.

Memang seperti yang telah di bicarakan oleh Ketua DPRA Bapak Sayed Fuad Zakaria, bahwa wacana kunjungan ke luar negeri sudah jauh-jauh hari diagendakan. Bahkan pada masa awal engkau menjadi wakil rakyat tahun 2004 lalu. Tapi mengapa baru sekarang diumumkan kepada publik setelah selesai pemilu legislatif kemarin? Aku yakin sekali, jika saja wacana ini diberitakan sebelum pemilu legislatif, tentu akan sangat berpengaruh bagi perolehan suara kalian yang maju lagi menjadi caleg. Pintar-pintar sekali memang kalian ini membohongi rakyat. Untung saja beberapa diantara kalian tidak lagi dipilih pada pemilu kemarin.

Untukmu yang duduk sambil diskusi dengan baju safari, Tuan dan Puan wakil rakyat. Aku tentu sangat kecewa sekali dengan sikap kalian ini. Maunya mementingkan kepentingan pribadi semata. Berlebih lagi kekecewaanku ini pada seorang Khairul Amal yang berasal dari Partai Keadilan Sejahtera, yang sejatinya sebagai sebuah partai yang selama ini getol menolak kegiatan-kegiatan menghamburkan uang rakyat justru ikut mendukung kunjungan ke Luar Negeri. Ah, menyesal benar aku memilih engkau lima tahun yang lalu ketika saat itu aku masih di kampung Bireuen. Benar saja bahwa tidak ada lagi Wakil Rakyat yang bisa kami percaya. Kalian semua egois. Mentang-mentang rakyat tidak lagi memilih kalian pada pemilu bulan lalu, seenaknya saja kalian menghabiskan uang rakyat yang sejatinya bisa di gunakan untuk membantu membuat rumah, biaya kesehatan untuk kehidupan sebagai rakyat di Nanggroe yang anggarannya meulimpah ruah.

Uang sebanyak Rp. 3,4 Miliar yang di anggarkan untuk kunjungan keluar negeri tentu saja bukan sebuah angka nominal yang sedikit bagi kalian yang pernah atau tidak melihat uang. Jika saja uang itu digunakan untuk membangun rumah kaum dhuafa dengan taksiran harga per rumah sebesar 40 juta, katakanlah, maka jumlah rumah yang bisa di bangun mencapai 85 buah rumah type 36. Sebuah hal yang sangat positif bukan? Berapa banyak rakyat yang akan terbantu dengan alokasi uang itu. Atau seandainya saja uang 3,4 miliar itu kita belikan kopi, maka seluruh rakyat Aceh bisa ikut minum tentunya. Seperti tingkah dosenku di kampus yang mampu mengolah setumpuk taik kerbau menjadi setangkai bunga mawar yang indah dan harum. Kenapa pula ini tidak bisa kalian lakukan?

Para anggota dewan perwakilan rakyat Aceh yang terhormat. Jika saja kalian menggunakan hati nurani dan perasaan. Berapa banyak rakyat Aceh akan mencerca sikap Pak dewan jika saja Mendagri mengizinkan untuk kalian melancong keluar negeri. Hanya saja cercaan rakyat memang tidak semuanya pernah terekspos ke media. Tapi percayalah, disetiap sudut jambo jaga sudah begitu banyak cemoohan yang aku dengar dari mulut mereka di kampung-kampung terhadap sikap para Tuan-Puan yang menghabiskan uang dari Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA).

Ketika masa kerja tuan-tuan akan berakhir pada September 2009. Apa yang bisa kalian lakukan ketika pulang dari luar negeri. Pulang dari luar negeri saja masa kerja akan berakhir, tak ada lagi yang bisa Tuan lakukan. Jadi kunjungan kerja ke luar negeri hanyalah pelesiran untuk menghambur-hamburkan uang rakyat sebelum masa kerja berakhir. Mengingat cukup banyak diantara bapak-bapak wakil rakyat yang terhormat tidak lagi terpilih menduduki jabatan wakil rakyat pada masa periode 2009-2014.

Untukmu yang biasa bersafari disana, di gedung DPRA. Para wakil rakyat yang kucintai. Terakhir kali sebagai rakyat jelata, aku tentu begitu berharap, sudah sepantasnya rencana kunjungan ke luar negeri dibatalkan saja. Ini sikap perangai yang sangat buruk sekali. Buatlah kegiatan di akhir masa jabatan yang happy ending. Mirip seperti orang (maaf) bersenggama. Sama-sama enak. Yang suatu saat kelak nantinya akan di kenang oleh rakyat sebagai sebuah kenangan yang enak dan menyenangkan.

Jika kita mengkaji dari selama ini yang mereka peroleh sebagai wakil rakyat sudah lebih dari cukup. Apa yang kurang seperti yang selama ini mereka dapatkan. Mulai dari gaji, tunjangan, mobil dinas, uang sewa rumah, uang kopi, uang  terima kasih dan uang tetek bengek lainnya. Mereka yang mengaku para wakil rakyat, sudah sepantasnya merasakan apa yang selama ini kerap dirasakan oleh rakyat. Biar bisa di sebut, wakil rakyat seharusnya merakyat seperti kata Iwan Fals.

Kepada bapak Mendagri Mardiyanto, aku mendesak untuk tidak memberikan izin kepada Anggota DPRA melakukan  studi banding atau jalan-jalan ke luar negeri. Sungguh dari pengamatan saya, itu tidak bermanfaat sama sekali Pak! Tetapi akan sangat berguna dana 3,4 Miliar itu di pergunakan untuk kepentingan publik semisal melanjutkan pembangunan rumah korban konflik, korban tsunami, serta kaum dhuafa di Aceh atau sebaiknya dana itu di alokasikan saja untuk tujuan yang langsung menyentuh kepada kepentingan rakyat banyak. Atau begini saja, kita gunakan saja uang itu untuk ngopi bareng di Ulee Kareng, kita undang seluruh rakyat Aceh kesana. Ngopi bareng bersama anggota DPRA. Oya, jika kalian tidak setuju ya sudah. Kalian boleh pergi saja ke luar negeri, tapi dengan syarat, pulang dari sana kalian bawa pulang si jago Jose Mourinho pelatih Inter Milan, sebuah klub sepak bola di Italia,  untuk menangani Persiraja Banda Aceh. Bagaimana, Tuan?

Tuan dan Puan para wakil rakyat yang berbahagia, akhirnya ingin aku sampaikan pada kalian semua permintaan maafku jika telah lancang menulis surat ini. Tidak ada maksud mencaci atawa maki. Percayalah bahwa Tuhan Tidak Tidur. Akan di catat oleh Malaikat semua perbuatan baik dan buruk kita di dunia ini. Dan suatu masa nantinya aku dan engkau para wakil rakyat akan bisa juga ke luar negeri yang sebenar-benarnya. Negeri akhirat maksudku. Kalau itu sungguh, tidak ada yang bisa melarang kalian kesana. Permohonan maafku, Muhadzdzier M. Salda, rakyat jelata di Nanggroe Aneh Darussalam. Eh, Nanggroe Aceh Darussalam.

Akhir kata, wassalam!

Iklan

9 Komentar

Filed under Muhadzdzier M. Salda, Sindikasi

9 responses to “Tuhan Tidak Tidur; sebuah surat cinta untuk Wakil Rakyat.

  1. fauzan rebelholic

    menohok bang! dan kalau dibaca oleh khairul amal sudah pasti dia tertohok. kalaupun tidak tertohok, kita sama2 mendoakan saja, semoga perbuatan nya kembali “lurus”, selurus kampanye tipu muslihat partai nya. Dan satu lagi bang, andai boleh mereka melancong, tak dapat mourinho, guardiola juga boleh dibawa pulang, nanti kita bagi dua. Untuk Persiraja dan PSSB, hehehe

    saleum

  2. Muhadzdzier Em Salda

    setuju Pojan!

    dan kita akan ajak si Guardiola itu menikmati SP(sanger pancong) di Solong. setelah itu biarlah dia jadi satpam di Bank, seperti yang dilakukan oleh pemain bola di kampung kita.

  3. hendra

    tapi.. bak lage Persiraja adak dilatih le guss hiddink that pih han maju2..
    pengurus persiraja payah ganto keun pelatih

  4. edi miswar

    mantap jir..keee sedih kubaca

  5. idrus bin harun

    mantap jir..lon sedih kubaca……….

  6. Ngangakpngarangnaskah

    Salut..

    Tulisan pedas yg sangat menggaruk.

  7. Tauris Mustafa

    Grafik emosional gata terasa dalam surat nyan, lon kira sebutannya….”untong that tanyoe jeut keu rakyat jeulata” pakon lon narit meunan? ya artinya mungkin jika bukan rakyat jelata punya segalanya, karena (maaf) “Kaya Lakoe Ma” kateunte kita takkan pernah punya pikirin atau bahkan tidak mau berpikir demikian.

  8. huuuuuuuuu……..surak bue surak lutong…..nyoe tanyoe lam krong habeh cit ta seuba…….termasok droekuh cit.

  9. huuuuuuuuuuuu……surak bue..surak lutong….nyoe kee lam krong…habeh cit ku seuba….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s