Pulang

Ditulis oleh: Edi Miswar Mustafa

Aku bersegera pulang ke tanah kelahiranku. Pembantuku urusan kampung halaman mengabari semalam, ”Bang, suaminya meninggal.” Ringkas ia melaporkan. Kutanyakan pada pembantu urusan pribadiku, ”Jam berapa sekarang Indonesia bagian barat?”

“Pagi hari, Mister.”

“Tolong persiapkan apa yang aku perlukan, oke.”

“Secepatnya.”

Kami berangkat dengan jet baruku buatan Amerika. Sebentar kami singgah mengisi minyak di Teheran. Kemudian langsung mendarat di bandara kecil milik Pemda Pidie Jaya. Seseorang di sebelahku yang menemani perjalanan ini, Patricia, bertanya mengenai nama bandara itu.

“Bandar udara Malem Dagang?!” ulangku memperbaiki cara baca orang-orang asalku sembari mencoba mengingat-ingat, ”O…itu nama pahlawan abad pertengahan yang bersama Sultan Iskandar Muda menyerang Portugal di semenanjung Malaya.”

“Sultan Iskandar Muda, Sultan Turki?”

“Bukan,” tentu saja aku kegelian mendengar tebakannya, ”Ia salah seorang Raja Aceh yang sangat agung.”

“Tahun berapa itu?”

“Mungkin awal abad ke tujuh belas. Maaf, aku telah lupa pelajaran sejarahku di sekolah. Hanya yang kuingat, ia membunuh anak laki-laki satu-satunya, putra mahkota, karena berzina dengan selirnya.”

Ia tesenyum manis. Aku tahu makna senyumnya. Umurnya 27 tahun. Sementara aku, 65 tahun. Tak ada istilah zina dalam perhubungan kami. Karena kami saling membutuhkan. Mungkin ia butuh mendongkrak popularitasnya sebagai artis. Sementara aku, ya, aku suka tubuhnya. Lagipula ia salah seorang dari bagian aristokrasi Monaco.

Dari dalam mobil kembali kuakrabi kotaku. Sekali-kali aku seakan terpaksa membuka mulut, mungkin disebabkan gugahan kenangan yang melimpah ruah, untuk mengatakan sesuatu padanya. Di sana kami dulu bermain bola kaki, kataku. Meski dalam hati aku merasa sedih melihat alun-alun kota itu, sangat kotor dan tidak terurus. Pertokoan yang tak banyak bertambah. Lalu lintasnya yang serupa hutan belantara. Ketika memintas sungai Meureudu aku melihat boat para pelaut dengan antena radio di bubungannya.

Aku ingat, di sana, agak ke muara, kami pernah mengintip wanita-wanita mandi di seberang sungai. kami bersembunyi di antara ilalang-ilalang gajah. Pada suatu hari, di antara wanita itu ada yang melihat ilalang bergoyang-goyang. Mereka mencaci-maki kami. Saat itu aku sangat takut. Tapi, seorang dari kami malah berdiri memperlihatkan diri dan meledek mereka. Sampai akhirnya kami semua mengikutinya mengolok-olok mereka.

“Hei! Mengapa tersenyum-senyum?” Patricia merengkuh tanganku. Kami saling tatap. Aku mengenggam tangannya dan menceritakan kisah lucu itu.

“Ingatan masa lalu senantiasa lebih berharga, Sayang. Dari apa pun, kau tahu.”

Mobil berhenti. Di hadapanku tampak tempat aku dulu bermain bola voli. Di sana telah penuh kendaraan-kendaraan para pelayat. Aku turun menghadapi orang-orang yang mengenakan jas dan dasi (daerah tropis begini kenapa mereka mengenakan pakaian tebal. Idiot). Dan pembantu urusan kampung halaman segera berdiri di sebelahku. Ia bicara pelan memperkenalkan para birokrat padaku (Orang-orang tolol itu menyebutkan nama masing-masing). Mewakili gubernur (ia menyampaikan salam gubernur seperti pejabat-pejabat jaman Soeharto), Bupati Pidie Jaya, Bupati Pidie, Aceh Jeumpa, Aceh Utara dan perwakilan dari kabupaten lainnya di Aceh.

Entah bagaimana mereka menyalami Patricia di belakangku. Rambutnya yang coklat kemerahan. Selendang warna gelap yang merahasiakan jenjang lehernya. Memikirkan ini mungkin senyumku tambah mengembang. Ah, nanti akan kutanyakan pada Patricia bagaimana muka bandot mereka.

Terakhir kali aku menjabat tangan seorang teman dekatku ketika aku tergila-gila pada orang yang kini telah ditinggalkan suaminya.

“Masuk,Wan,” katanya, lalu ia mengimbuh, “Cantik sekali anakmu.”

Ia bukan anakku, Rus. Aku tidak punya anak. Bahkan aku tidak ingin punya anak. Mengenai warisan, nantinya akan kubawa ke mana. Mungkin dua pertiga untuk tanah ini, sisanya untuk pelacur di depanmu.

“Mengapa Ibumu tidak datang,” tanya Idrus pada Patricia. Sejenak Patricia melihatku.

“Sorry. I’m…,” Patricia terbata. ”Dia teman perjalananku, Rus.”

Bloon. Aku tidak melihatnya lagi. Tapi, menyusuri lewat pandangku ruangan rumah perempuan impianku. Ruangan tempat ia melahirkan anak-anaknya. Membesarkan mereka.

Aku telah mengatakan pada Patricia bahwa tidak baik ia masuk ke rumah duka. Padanya aku minta maaf dan meminta agar sebaiknya ia berbohong untuk kebaikan. “Inilah negeriku, Pat. Seharusnya tentu aku malu denganmu. Inilah kenyataannya. Mereka masih primitif ”

Kataku, siapa tahu ada orang-orang radikal di tempat ini yang tidak dapat menahan diri. Patricia mengandeng erat lenganku – ini pun telah kuberitahukan padanya untuk tidak sekali-kali menciumku di depan umum – melihat laki-laki berpeci hitam.

Don’t forget, jangan lupa. Katakan bahwa kau juga seorang muslim, oke,” kataku lirih.

Kulepas sepatu pada teras berubin putih yang lesu. Kuletakkan pada undakan bawah. Wajah-wajah di ruangan keluarga itu satu dua serasa kukenali. Dan aku memberi senyum duka cita pada mereka.

Beberapa orang sedang memberikan wangi-wangian pada mayat. Mereka bekerja dengan cekatan. Di dekat mayat seseorang masih terisak. Ia juga melihat kehadiranku. Berdiri dengan tungkai yang lelah. Mungkin karena payah duduk semenjak tadi. Ia menyalamiku seraya berkata, “Ia telah lama sakit.”

“Sakit apa.”

“Stroke. Darahnya semalam seratus tujuh puluh.” (Belakangan aku bercerita pada Patricia, penyakit itu banyak membunuh pejabat-pejabat di negeriku; sayangnya, mereka menderita penyakit itu ketika mereka telah pensiun. Dan tidak boleh diadili karena punya surat dokter).

Ia memberi isyarat untuk duduk. Aku mengikutinya. Ukuran kampung ini ia termasuk orang kaya. Ada ruangan mungil di sisi ruang keluarga. Kursi ukiran jepara terdiam di tempat itu. Aku tidak tahu apa sebaiknya kukatakan untuk alasan yang mendorong-dorongku memutuskan menjenguknya. Jika hanya nostalgia, kukira keliru. Inikah orang yang dulu begitu kucintai. Hingga aku menggunduli kepala karena penolakannya ketika kami masih SMA. Tapi sekarang, ia hanya seorang nenek. Ubannya nampak di balik batiknya. Ketika ia bicara giginya yang dulu selalu membuatku terbuai telah menghilang dari tempatnya. Nampak geligi itu telah banyak tak sempurna.

Kukira hanya semata memuaskan rasa penasaran yang kupunyai padanya. Rasa hati yang menggangu ke mana pun arah kaki pergi dan jalan yang kutempuh.

Tentu saja aku tidak akan mengatakan bahwa aku masih mencintaimu, Mel. Kau adalah permataku yang hilang. Hm…bodoh!

“Ia anakmu?” tiba-tiba ia bertanya sembari menyingkap gorden melihat ke teras depan. Ia melihat Patricia.

“Bukan. Seorang model dari Prancis yang ingin melihat Aceh,” jawabku.

“Aku minta maaf bila mungkin telah pernah membuatmu membenciku.”

Sebentar kami saling mengukur dalam pandang. Lama.

“Mungkin dulu, Mel. Tapi, semua itu telah lama terjadi. Mungkin perasaanku sama denganmu. Ketika usia begini rupa maka lebih senanglah kita saling memaafkan. Meski hanya dalam hati, dalam pikiran. Itulah yang aku lakukan dulu. Ya, aku tidak pernah lupa saat kau menolakku, Mel. Lalu esok paginya aku datang ke kelasmu, kelas satu tujuh, sedangkan aku tiga IPA tiga. Kepalaku telah gundul.”

Kelihatan wajah murungnya tergantikan senyum kecil sekilas. Waktu itu ia mengaku tak boleh pacaran sama orang tuanya. Perihal ini karena ia anak Jawa dari bapaknya. Kampungnya dulu basis orang-orang pergerakan. Dan, itu bisa membahayakanku.

“Istrimu mana,” tanyanya, mungkin basa-basi. aku berterus-terang bahwa aku telah berjanji tidak akan pernah menikah saat melihatnya terakhir kali. Kebahagiaan bukan saling mencintai. Kebahagian adalah uang. Uanglah yang membuat orang-orang di atas dunia bahagia. bagiku, kunci dalam hidup hanya satu; bagaimana caranya mendapatkan uang. Bekerja dan bekerja. Bukankah lebih baik letih bekerja daripada letih menganggur.

“Mela,” kataku, ia kelihatan sayu memandangku, “Maaf karena aku harus pergi secepat ini.”

Aku yakin aku tidak perlu menjelaskan mengenai keluargaku. Mereka semua telah meninggal dalam musibah 26 Desember. Aku tak lagi punya sanak di sini. Aku harus kembali. Aku harus mengurus bisnisku kalau tidak ingin disalib konglomerat-konglomerat Yahudi.

Di bandara aku menunjuk arah makam Malem Dagang pada Patricia. Kampung wakil gubernur jaman aku masih mahasiswa, dia sangat terkenal memimpin aksi referendum September 1999.

jetku tinggal landas.

Patricia menyandarkan kepalanya ke bahuku. Gugusan awan di luar. Pulau sabang. Lautan hindia sebiru matanya.

“Kalau kau tidur denganku,” Patricia berkata lirih, “Aku tidak ingin kau membayangkan dia.”

Kami saling dekap. Kucium keningnya, “Itu tidak akan pernah terjadi pelacurku.”

“Bandot tua.”

“Pelacur.”

“Bandot tua.”

“Sudahlah. Sebaiknya kita tidur.”

Puluhan kilometer di bawah kami, mungkin, orang-orang Iraq sedang mengangkat senjata dan berteriak-teriak, “Allahu Akbar!!!”

Darussalam, 7 November 2007

NB. Cerpen ini pernah dimuat di Harian Aceh

 

Iklan

2 Komentar

Filed under Edi Miswar Mustafa

2 responses to “Pulang

  1. ini keren…..hebat wan. kakuteken. ponten 10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s