Tidak Menjadi Indonesia

Ditulis oleh: Raisa Kamila

Setiap kali menjelang 17 Agustus, saya mendapati iklan peringatan kemerdekaan yang selalu sama. Anak-anak bermain layang-layang di pematang sawah, gadis-gadis dengan kemben dan sarung mencuci pakaian di sungai, serta petani dan nelayan dengan senyum semringah bekerja secara ikhlas. Lalu semuanya ditutup dengan kalimat mengenai semangat nasionalisme pada hari kemerdekaan. Saya tidak percaya semua anak di Indonesia riang gembira seperti yang saya lihat pada iklan itu. Ada banyak anak yang tidak bisa sekolah, terpaksa bekerja, menjadi korban pelecehan seksual, dan ada yang menjadi korban perdagangan anak. Kalau saja saya boleh memilih, barangkali saya akan menolak dilahirkan dan menjadi warga negara Indonesia. Tapi memang saya tidak bisa memilih untuk bisa dilahirkan di mana dan oleh siapa. Saya lahir dan besar di Banda Aceh. Saya cukup beruntung tinggal di ibu kota provinsi, yang pada masa konflik “hanya” mendengar suara ledakan bom dan kontak senjata dari belakang jendela kamar. Pada masa itu, di beberapa daerah banyak anak yang mengalami nasib lebih buruk daripada sekadar mendengar suara ledakan atau senapan.Terkadang mereka menyaksikan bagaimana orang tua mereka dibunuh secara terang-terangan, mendapati sekolah mereka terbakar. Bahkan, setelah lima tahun kesepakatan perdamaian, masih banyak anak yang menanyakan ayahnya yang belum pulang sejak masa konflik. Sewaktu kecil, saya lebih sering merasa “menjadi Aceh” ketimbang “menjadi Indonesia”. Saya tidak punya gambaran yang kuat tentang Indonesia kecuali video-video artis cilik di televisi, dengan baju-baju bagus dan rambut berkilat. Saya lebih sering bertanya-tanya, apakah saya yang dari Aceh juga bisa tampil di televisi seperti itu? Sebab, saat itu Aceh cuma ada di bagian berita tentang pasukan bersenjata dan orang-orang yang mati.

Ingatan saya yang lainnya tentang Indonesia adalah upacara. Saya pertama kali mengikuti upacara pada hari Senin di kelas I sekolah dasar. Saya diharuskan memakai atribut lengkap, berupa topi, dasi, ikat pinggang, kaus kaki, dan sepatu hitam. Bagi saya, upacara hanyalah kegiatan yang membosankan: berdiri di bawah terik matahari, dengan bercampur bau keringat berusaha mengerti apa yang kira-kira dibahas dalam amanat upacara. Lalu memberi hormat kepada Merah-Putih yang dikerek pelan-pelan, sesuai dengan lantunan lirih lagu Indonesia Raya.

Guru-guru saya di sekolah dasar selalu menggambarkan bendera Merah Putih sebagai simbol yang membanggakan seraya mengingatkan murid-murid, betapa sulitnya mengibarkan bendera itu sebelum 1945. Merah sebagai simbol darah yang tumpah dan keberanian para pahlawan. Putih mewakili kesucian (dan saya tidak mengerti kesucian seperti apa). Saya tidak merindukan upacara saat kegiatan itu mulai dilarang di Aceh. Saya justru senang karena saya tidak perlu terburu-buru datang ke sekolah pagi-pagi untuk mengikuti kegiatan upacara, yang menurut saya sia-sia. Kelalaian saya pada upacara-upacara sewaktu kecil dan kealpaan upacara hingga sekolah menengah pertama membawa akibat yang buruk di kemudian hari. Pada awal sekolah menengah atas, saya mengikuti pelatihan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) untuk seleksi tingkat provinsi. Meskipun tidak bisa membedakan kanan dan kiri secara pasti, saya cukup menguasai peraturan baris-berbaris dengan mengikuti gerak teman-teman: hadap kanan, hadap kiri, belok kanan, dan maju jalan.

Suatu kali saya disuruh menghibur teman-teman dengan menyanyikan sebuah lagu. Sebagai calon Paskibra, saya diminta menyanyikan lagu Indonesia Raya. Saya langsung gelagapan sambil melirik teman-teman, memohon bantuan. Saya menyanyikan lagu Indonesia Raya secara tidak keruan, salah bahkan pada lirik pertama. Saya tidak terpilih menjadi anggota Paskibra, nasionalisme saya diragukan.

Menjelang tahun kedua di sekolah menengah atas, sekelompok teman yang mengaku prihatin atas rendahnya “kesadaran cinta negeri” meminta sekolah saya mengadakan tiang bendera untuk upacara pada hari Senin. Sebelumnya, di sekolah saya upacara hari Senin berlangsung tanpa bendera, tanpa lagu Indonesia Raya dan hening cipta. Pihak sekolah lalu menyanggupi untuk mengadakan tiang bendera. Hari pertama upacara menyebabkan banyak teman pingsan, termasuk para anggota Paskibra.

Pada upacara-upacara selanjutnya, kami mulai menjadi biasa dengan bendera meskipun, saat anggota Paskibra menarik bendera dari lipatannya dan berteriak “bendera siap”, bendera Merah Putih justru terbelit dan anggota Paskibra mengulangi lagi semuanya sampai bendera bisa terbuka secara berkibar. Karena kejadian yang terus berulang nyaris sepanjang semester, guru-guru kami ikut ragu akan kesungguhan kami. Kami yang lalai dalam upacara dituding sebagai generasi muda yang tidak paham makna kemerdekaan, yang diperjuangkan oleh para pahlawan.

Pada suatu kesempatan, saya pun ragu akan nasionalisme beberapa teman dari Swiss dan Jerman yang bahkan tidak tahu judul lagu kebangsaannya. Namun mereka mengatakan bahwa mereka cinta pada negaranya bukan karena sejarah yang panjang dan kekayaannya. Mereka cinta pada negaranya semata-mata karena mereka pun merasa negara mencintai mereka. Bagi mereka, syarat mutlak sebuah negara dicintai adalah ketika negara tersebut mampu melayani dan menjamin kebutuhan dasar setiap warganya.

Sayangnya, Indonesia belum sepenuhnya mampu. Bentuk kekecewaan saya pada pemerintah membuat saya sering kali terlibat dalam aksi menuntut perhatian pemerintah untuk pemenuhan hak-hak dasar warga negara, sambil bersorak “pemerintah tidak becus”. Beberapa teman saya berkomentar seperti ini: “Kenapa kalian terus-menerus melakukan aksi? Pemerintah itu sudah bekerja semampu mereka. Dan bagi kalian, semua itu tidak pernah cukup. Mengapa terus menuntut negara yang menurut kalian tidak berbuat apa-apa? Sementara itu, apa yang sudah kalian perbuat untuk negara ini?”

Lantas saya harus bagaimana? Saya memang pesimistis terhadap apa yang disebut teman saya itu sebagai “bekerja semampu mereka”. Kerja pemerintah yang saya lihat sejauh ini hanya mengedepankan kepentingan operasional lembaga, pemimpin, dan anggotanya. Berita di televisi jelas menggambarkan bahwa kerja pemerintah lebih sering menyerupai telenovela, berlarut-larut dan mengaduk emosi. Sebagai penonton yang santun, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Lalu mengapa saya harus bangga pada Indonesia?

Sia-sia menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan penuh semangat dan datang ke upacara ketika pada saat yang sama saya mengetahui ada anak yang mati bunuh diri karena tidak sanggup membayar uang sekolah. Saya malu melafalkan Pancasila dengan lantang ketika mengetahui setiap sila tidak bermakna. Apakah ada Ketuhanan Yang Maha Esa ketika sekelompok orang dari umat dilarang melakukan ibadahnya? Apakah ada Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia ketika perempuan dan laki-laki yang dituduh ber-khalwat diadili secara massal, sementara orang-orang yang dengan terang mencuri uang negara dibiarkan bebas tanpa peradilan?

Tiap tahun saya mendapati perayaan 17 Agustus hanya berupa upacara bendera, pawai pakaian daerah dan kendaraan hias, serta lomba makan kerupuk dan panjat pinang. Sejarah-sejarah heroik tentang perjuangan kemerdekaan selalu diceritakan dengan gagah dan lantang, sementara refleksi bagaimana negara ini selama 65 tahun bertahan dengan susah payah menjadi rahasia umum yang tidak perlu dibuka.

Iklan-iklan di televisi cukup memberi gambaran betapa yang layak dibanggakan dan dicintai di negara ini seakan-akan hanyalah “keindah-aneka-ragaman budaya Indonesia”. Sikap nasionalisme seakan-akan terbukti ketika kita melakukan voting terbanyak untuk masuknya Pulau Komodo sebagai satu dari tujuh keajaiban dunia. Tindakan memaki Malaysia yang “mencuri budaya Indonesia” seolah mengukuhkan seseorang menjadi pahlawan. Barangkali Indonesia memang tengah berusaha dengan susah payah untuk menjamin kelayakan hidup setiap warganya, untuk mencintai warganya, yang entah sial atau beruntung menjadi bagian dari Indonesia. Namun bukankah tidak mudah untuk terus bertahan dalam keadaan “cinta bertepuk sebelah tangan”?

Jika tawaran-tawaran untuk menjadi bangga dan cinta pada Indonesia hanya tersedia dalam paket-paket sekejap-siap-jadi, lebih baik saya tidak menjadi Indonesia. Sebab, bagi saya, apa yang disebut “nasionalisme” semacam itu hanya semacam topeng kaca. Terlihat indah dan menakjubkan namun sebenarnya justru palsu sekaligus ringkih. *

*) Raisa Kamila, Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada.Naskah ini pemenang pertama Kompetisi Esai Mahasiswa 2010 “Menjadi Indonesia” yang diselenggarakan Tempo Institute, Sekretariat Dewan Ketahanan Nasional, dan Perhimpunan Indonesia Tionghoa.

Sumber: http://www.tempo.co/read/kolom/2010/11/02/273/Tidak-Menjadi-Indonesia

Iklan

3 Komentar

Filed under Raisa Kamila

3 responses to “Tidak Menjadi Indonesia

  1. samad

    aku benar suka suara dan lagu Raisa di klip Sunsilk. Tulisan mendayakan imaji. Let it be spirit!

  2. Tulisan yang sangat bagus. Membuat kita berpikir tentang makna “nasionalisme”.

  3. Your articles are always of great quality, and I thoroughly enjoyed this one particularly. I do hope you continue to create more writings. Thank you!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s