Category Archives: Mifta Sugesty

Kota si Louis dan Katrina

Ditulis oleh: Mifta Sugesty

SEPEREMPAT jam sudah lewat dari tengah malam ketika pesawat yang aku dan rombongan tempati tiba di bandar udara. “Selamat datang di New Orleans, Louisiana. Waktu setempat menunjukkan…”, aku menguap acuh tak acuh dengan suara Pramugari. Lalu berjinjit – jinjit berusaha menarik ransel yang penuh pakaian dalam dan keripik kentang dari kompartemen diatas kepala, secepatnya menjadi bagian dari barisan lambat orang – orang yang juga ingin keluar dari kabin pesawat. Seorang anak berkulit cokelat yang berdiri didepanku menarik lengan ibunya dan setengah merengek berkata,”Tengo hambre, Mama.” Aku lapar. Baca lebih lanjut

Iklan

1 Komentar

Filed under Mifta Sugesty

Made in Asia, apa yang salah?

Ditulis oleh: Mifta Sugesty

Caroline berteriak memanggil namaku di koridor. Saat itu masih sangat pagi, koridor masih belum ramai. Aku yang sedang mencoba membuka loker jadi lupa kombinasi nomor kunci lokerku karena teriakan Coroline.

“Lihat!”, dia menunjuk celana pendek yang dikenakannya. Celana olahraga warna biru dongker dengan strip warna merah muda di masing – masing pinggirnya. Baca lebih lanjut

8 Komentar

Filed under Mifta Sugesty

Sekolah

Ditulis oleh: Mifta Sugesty

“Aku bukan hanya ingin menjadi gipsi, namun aku pasti akan menjadi seorang gipsi!”, Elyse, 15 tahun, mengatakan itu dengan suara bulat ketika Pak Mody, guru mata pelajaran Menulis Kreatif, menanyakan kami pertanyaan klasik mengenai cita – cita. Saat itu aku dengan otomatis merespon, “Oh yeah? Really?”. Dan Elyse hanya membalas,”OH YEAH! I’m positive! A gypsi with high education experiences.” Baca lebih lanjut

6 Komentar

Filed under Mifta Sugesty

Kembang Sepatu

Ditulis oleh: Mifta Sugesty

Di depan sekolahku,

Masih merah warna kembang sepatu.

Acuh pada suara AK empat tujuh,

Atau bapak temanku yang di bunuh tadi subuh.

Ajun, April 2001

Tinggalkan komentar

Filed under Mifta Sugesty

Eternit Sekolah Saya Runtuh

Ditulis oleh: Mifta Sugesty

SIANG itu, 9 Agustus 2004, dalam salah satu ruang kelas di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 (SMPN 1) Banda Aceh, saya tengah mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia. Guru bahasa berdiri di depan kelas. Ia bersemangat menjelaskan tentang para pujangga Angkatan 45 dan Angkatan Baru; dua generasi sastra di Indonesia. Teman semeja saya adalah Susan. Ia bertubuh jangkung dan langsing. Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Mifta Sugesty