Category Archives: Raisa Kamila

Tidak Menjadi Indonesia

Ditulis oleh: Raisa Kamila

Setiap kali menjelang 17 Agustus, saya mendapati iklan peringatan kemerdekaan yang selalu sama. Anak-anak bermain layang-layang di pematang sawah, gadis-gadis dengan kemben dan sarung mencuci pakaian di sungai, serta petani dan nelayan dengan senyum semringah bekerja secara ikhlas. Lalu semuanya ditutup dengan kalimat mengenai semangat nasionalisme pada hari kemerdekaan. Saya tidak percaya semua anak di Indonesia riang gembira seperti yang saya lihat pada iklan itu. Ada banyak anak yang tidak bisa sekolah, terpaksa bekerja, menjadi korban pelecehan seksual, dan ada yang menjadi korban perdagangan anak. Kalau saja saya boleh memilih, barangkali saya akan menolak dilahirkan dan menjadi warga negara Indonesia. Tapi memang saya tidak bisa memilih untuk bisa dilahirkan di mana dan oleh siapa. Saya lahir dan besar di Banda Aceh. Saya cukup beruntung tinggal di ibu kota provinsi, yang pada masa konflik “hanya” mendengar suara ledakan bom dan kontak senjata dari belakang jendela kamar. Pada masa itu, di beberapa daerah banyak anak yang mengalami nasib lebih buruk daripada sekadar mendengar suara ledakan atau senapan. Baca lebih lanjut

Iklan

3 Komentar

Filed under Raisa Kamila

Jembatan Tisu

Ditulis oleh: Raisa Kamila

Saya dan Kanber Colak, laki- laki muda dari Turki, bertemu pada sebuah kebetulan yang menyenangkan: kami sama- sama menikmati tulisan Orhan Pamuk yang kemudian, mempertemukan kami di acara peluncuran buku terbarunya, Museum of Innocence, yang baru diterjemahkan dalam bahasa Jerman, bahasa yang baik bagi saya –siswi pertukaran pelajar—maupun Kanber, yang sudah lebih dulu tinggal di Switzerland, masih terdengar asing dan sulit dipahami. Baca lebih lanjut

11 Komentar

Filed under Raisa Kamila

Salju Hitam

Ditulis oleh: Raisa Kamila

MALI dan Rajif akhirnya ikut dengan Bapak dan Ibu Shah untuk sepanjang hari dan malam ini. Mali membayangkan tempat yang akan mereka tuju itu seperti sebuah tebing curam tempat orang-orang dipaksa bekerja. Bapak dan Ibu Shah selama beberapa hari dan malam pergi ke sana dengan busana putih yang tidak menyenangkan. Setelah itu pulang tengah malam ke rumah penginapan dengan baju putih yang berwarna kusam dan campur debu dan muka lelah sehingga saat Mali menceritakan tentang sumur dalam yang gelap di rumah penginapan, Ibu Shah tidak berkata apa- apa selain, “Aku lelah sekali.”. Baca lebih lanjut

3 Komentar

Filed under Raisa Kamila

Mati Lampu

Ditulis oleh: Raisa Kamila

Saat Nuansa mematikan lampu kamarnya, dia tiba- tiba teringat pada malam- malam yang gelap dan mencekam di kampungnya dulu. Nyala lilin yang redup di kamarnya, cerita- cerita tentang orang yang disekap dan dibawa ke gunung atau rumah jagal, keduanya tidak kurang menyedihkan. Nuansa kemudian merasa menjadi bagian yang terpisah dengan keluarganya, jarak dan juga perasaannya. Tapi dia kemudian menarik selimut tebal dan bergegas tidur. Baca lebih lanjut

4 Komentar

Filed under Raisa Kamila