Tag Archives: Aceh

Pelarangan Pendapat dan Krisis Pikiran-Kritis

Ditulis oleh: Rizki Alfi Syahril

Pelarangan Pendapat

Keriuhan tentang sosok Irshad Manji—penulis buku dan feminis dari Kanada belum berakhir. Setelah rangkaian promosi dan diskusi penerbitan bukunya dalam seri bahasa Indonesia yang bertajuk Allah, Liberty, and Love mengalami pelarangan di beberapa tempat dan universitas serta (bahkan) pembubaran paksa disertai kekerasan oleh beberapa ormas yang berperan sebagai penegak moral masyarakat di Lembaga Kajian dan Ilmu Sosial (LKiS) Yogyakarta, kini beberapa permasalahan masih tersisa.

Baca lebih lanjut

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Rizki Alfi Syahril

Tidak Menjadi Indonesia

Ditulis oleh: Raisa Kamila

Setiap kali menjelang 17 Agustus, saya mendapati iklan peringatan kemerdekaan yang selalu sama. Anak-anak bermain layang-layang di pematang sawah, gadis-gadis dengan kemben dan sarung mencuci pakaian di sungai, serta petani dan nelayan dengan senyum semringah bekerja secara ikhlas. Lalu semuanya ditutup dengan kalimat mengenai semangat nasionalisme pada hari kemerdekaan. Saya tidak percaya semua anak di Indonesia riang gembira seperti yang saya lihat pada iklan itu. Ada banyak anak yang tidak bisa sekolah, terpaksa bekerja, menjadi korban pelecehan seksual, dan ada yang menjadi korban perdagangan anak. Kalau saja saya boleh memilih, barangkali saya akan menolak dilahirkan dan menjadi warga negara Indonesia. Tapi memang saya tidak bisa memilih untuk bisa dilahirkan di mana dan oleh siapa. Saya lahir dan besar di Banda Aceh. Saya cukup beruntung tinggal di ibu kota provinsi, yang pada masa konflik “hanya” mendengar suara ledakan bom dan kontak senjata dari belakang jendela kamar. Pada masa itu, di beberapa daerah banyak anak yang mengalami nasib lebih buruk daripada sekadar mendengar suara ledakan atau senapan. Baca lebih lanjut

3 Komentar

Filed under Raisa Kamila

Pulang

Ditulis oleh: Edi Miswar Mustafa

Aku bersegera pulang ke tanah kelahiranku. Pembantuku urusan kampung halaman mengabari semalam, ”Bang, suaminya meninggal.” Ringkas ia melaporkan. Kutanyakan pada pembantu urusan pribadiku, ”Jam berapa sekarang Indonesia bagian barat?” Baca lebih lanjut

2 Komentar

Filed under Edi Miswar Mustafa

Tuhan Tidak Tidur; sebuah surat cinta untuk Wakil Rakyat.

Kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh yang terhormat. Perkenalkan nama saya Muhadzdzier M. Salda, Murid Sekolah Menulis Do Karim Banda Aceh dan rakyat jelata yang bermukim di kampung Aceh. Mari, sekali ini aku ingin menulis surat untukmu Tuan dan Puan para wakil rakyat yang terhormat. Hanya untukmu. Surat cinta, Tuan! Mungkin ini suratku sekali dalam seumur hidup. Seperti aku menulis surat kepada seorang kekasih pujaan hati belahan jiwa. Maka seperti itulah kecintaanku kepada Tuan-Puan Wakil Rakyat yang terhormat. Ah, kata-kata yang terakhir itu sepertinya tidak seharusnya kusebutkan lagi. Benarkah engkau masih terhormat? Mengingat bulan depan engkau akan melakukan kunjungan kerja ke Luar Negeri. Begitulah kira – kira kabar berita yang ku baca di koran harian. Tak pantas sepertinya menyebut kunjungan kerja, lebih baik kusebut saja jalan-jalan menghabiskan anggaran yang notabenenya berasal dari uang rakyat.
Para wakil rakyat yang terhormat, sebelum lebih jauh sungguh kutulis surat untukmu dengan harap-cemas. Mengingat karena aku sebagai mahasiswa yang tak tau diuntung akan kau sebut nantinya. Bersebab beberapa bulan dan tahun yang telah berlalu engkau telah menjebloskan proposal-proposal kegiatan kemahasiswaan kami melalui anggaran yang engkau sahkan demi terlaksananya kegiatan. Waktu itu aku tidak pernah berpikir engkau akan membungkam mulut kami dengan bantuan uang supaya tidak bersuara suatu saat kelak jika engkau menghabiskan uang rakyat untuk jalan-jalan keluar negeri. Oh iya, alasan kalian memang bukan untuk jalan-jalan kan? Alasan yang kalian sebut dengan kunjungan kerja dan studi banding –istilahnya-, untuk memajukan tanah endatu kita, Aceh!
Dari tajuk suratku di atas, Tuan-Puan sudah tau tentunya maksud kutulis surat cinta ini. Bahwa ditengah kehidupan rakyat kita yang masih repot mencari sebambu beras sehari untuk keluarganya, ada banyak rakyat kita yang masih berkudis berkurap, ada banyak rakyat kita yang masih tidur di bawah atap rumah pelepah rumbia yang bocor, ada banyak sekali rakyat kita yang mengerang menahan sakit kanker, tumor, anak-anak yang menderita gizi buruk dan sebagainya yang tak bisa berobat kerumah sakit karena persoalan klasik (kemiskinan), ada banyak rakyat kita yang anak-anaknya tidak bersekolah karena harus membantu mengantarkan orang tua mereka untuk mengemis door to door ke seluruh penjuru kampung.
Belum habis dengan itu, ditengah kondisi kampung kita yang baru saja usai dari perang dan amuk air laut. Tetapi engkau masih saja ngotot untuk keluar negeri mengakhiri masa tugas di penghujung akhir September nantinya. Mengingat ada banyak dari Tuan yang tak lagi bisa duduk di kursi empuk itu.
Memang seperti yang telah di bicarakan oleh Ketua DPRA Bapak Sayed Fuad Zakaria, bahwa wacana kunjungan ke luar negeri sudah jauh-jauh hari diagendakan. Bahkan pada masa awal engkau menjadi wakil rakyat tahun 2004 lalu. Tapi mengapa baru sekarang diumumkan kepada publik setelah selesai pemilu legislatif kemarin? Aku yakin sekali, jika saja wacana ini diberitakan sebelum pemilu legislatif, tentu akan sangat berpengaruh bagi perolehan suara kalian yang maju lagi menjadi caleg. Pintar-pintar sekali memang kalian ini membohongi rakyat. Untung saja beberapa diantara kalian tidak lagi dipilih pada pemilu kemarin.
Untukmu yang duduk sambil diskusi dengan baju safari, Tuan dan Puan wakil rakyat. Aku tentu sangat kecewa sekali dengan sikap kalian ini. Maunya mementingkan kepentingan pribadi semata. Berlebih lagi kekecewaanku ini pada seorang Khairul Amal yang berasal dari Partai Keadilan Sejahtera, yang sejatinya sebagai sebuah partai yang selama ini getol menolak kegiatan-kegiatan menghamburkan uang rakyat justru ikut mendukung kunjungan ke Luar Negeri. Ah, menyesal benar aku memilih engkau lima tahun yang lalu ketika saat itu aku masih di kampung Bireuen. Benar saja bahwa tidak ada lagi Wakil Rakyat yang bisa kami percaya. Kalian semua egois. Mentang-mentang rakyat tidak lagi memilih kalian pada pemilu bulan lalu, seenaknya saja kalian menghabiskan uang rakyat yang sejatinya bisa di gunakan untuk membantu membuat rumah, biaya kesehatan untuk kehidupan sebagai rakyat di Nanggroe yang anggarannya meulimpah ruah.
Uang sebanyak Rp. 3,4 Miliar yang di anggarkan untuk kunjungan keluar negeri tentu saja bukan sebuah angka nominal yang sedikit bagi kalian yang pernah atau tidak melihat uang. Jika saja uang itu digunakan untuk membangun rumah kaum dhuafa dengan taksiran harga per rumah sebesar 40 juta, katakanlah, maka jumlah rumah yang bisa di bangun mencapai 85 buah rumah type 36. Sebuah hal yang sangat positif bukan? Berapa banyak rakyat yang akan terbantu dengan alokasi uang itu. Atau seandainya saja uang 3,4 miliar itu kita belikan kopi, maka seluruh rakyat Aceh bisa ikut minum tentunya. Seperti tingkah dosenku di kampus yang mampu mengolah setumpuk taik kerbau menjadi setangkai bunga mawar yang indah dan harum. Kenapa pula ini tidak bisa kalian lakukan?
Para anggota dewan perwakilan rakyat Aceh yang terhormat. Jika saja kalian menggunakan hati nurani dan perasaan. Berapa banyak rakyat Aceh akan mencerca sikap Pak dewan jika saja Mendagri mengizinkan untuk kalian melancong keluar negeri. Hanya saja cercaan rakyat memang tidak semuanya pernah terekspos ke media. Tapi percayalah, disetiap sudut jambo jaga sudah begitu banyak cemoohan yang aku dengar dari mulut mereka di kampung-kampung terhadap sikap para Tuan-Puan yang menghabiskan uang dari Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA).
Ketika masa kerja tuan-tuan akan berakhir pada September 2009. Apa yang bisa kalian lakukan ketika pulang dari luar negeri. Pulang dari luar negeri saja masa kerja akan berakhir, tak ada lagi yang bisa Tuan lakukan. Jadi kunjungan kerja ke luar negeri hanyalah pelesiran untuk menghambur-hamburkan uang rakyat sebelum masa kerja berakhir. Mengingat cukup banyak diantara bapak-bapak wakil rakyat yang terhormat tidak lagi terpilih menduduki jabatan wakil rakyat pada masa periode 2009-2014.
Untukmu yang biasa bersafari disana, di gedung DPRA. Para wakil rakyat yang kucintai. Terakhir kali sebagai rakyat jelata, aku tentu begitu berharap, sudah sepantasnya rencana kunjungan ke luar negeri dibatalkan saja. Ini sikap perangai yang sangat buruk sekali. Buatlah kegiatan di akhir masa jabatan yang happy ending. Mirip seperti orang (maaf) bersenggama. Sama-sama enak. Yang suatu saat kelak nantinya akan di kenang oleh rakyat sebagai sebuah kenangan yang enak dan menyenangkan.
Jika kita mengkaji dari selama ini yang mereka peroleh sebagai wakil rakyat sudah lebih dari cukup. Apa yang kurang seperti yang selama ini mereka dapatkan. Mulai dari gaji, tunjangan, mobil dinas, uang sewa rumah, uang kopi, uang  terima kasih dan uang tetek bengek lainnya. Mereka yang mengaku para wakil rakyat, sudah sepantasnya merasakan apa yang selama ini kerap dirasakan oleh rakyat. Biar bisa di sebut, wakil rakyat seharusnya merakyat seperti kata Iwan Fals.
Kepada bapak Mendagri Mardiyanto, aku mendesak untuk tidak memberikan izin kepada Anggota DPRA melakukan  studi banding atau jalan-jalan ke luar negeri. Sungguh dari pengamatan saya, itu tidak bermanfaat sama sekali Pak! Tetapi akan sangat berguna dana 3,4 Miliar itu di pergunakan untuk kepentingan publik semisal melanjutkan pembangunan rumah korban konflik, korban tsunami, serta kaum dhuafa di Aceh atau sebaiknya dana itu di alokasikan saja untuk tujuan yang langsung menyentuh kepada kepentingan rakyat banyak. Atau begini saja, kita gunakan saja uang itu untuk ngopi bareng di Ulee Kareng, kita undang seluruh rakyat Aceh kesana. Ngopi bareng bersama anggota DPRA. Oya, jika kalian tidak setuju ya sudah. Kalian boleh pergi saja ke luar negeri, tapi dengan syarat, pulang dari sana kalian bawa pulang si jago Jose Mourinho pelatih Inter Milan, sebuah klub sepak bola di Italia,  untuk menangani Persiraja Banda Aceh. Bagaimana, Tuan?
Tuan dan Puan para wakil rakyat yang berbahagia, akhirnya ingin aku sampaikan pada kalian semua permintaan maafku jika telah lancang menulis surat ini. Tidak ada maksud mencaci atawa maki. Percayalah bahwa Tuhan Tidak Tidur. Akan di catat oleh Malaikat semua perbuatan baik dan buruk kita di dunia ini. Dan suatu masa nantinya aku dan engkau para wakil rakyat akan bisa juga ke luar negeri yang sebenar-benarnya. Negeri akhirat maksudku. Kalau itu sungguh, tidak ada yang bisa melarang kalian kesana. Permohonan maafku, Muhadzdzier M. Salda, rakyat jelata di Nanggroe Aneh Darussalam. Eh, Nanggroe Aceh Darussalam.
Akhir kata, wassalam!

Ditulis oleh: Muhadzdzier M. Salda

Kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh yang terhormat. Perkenalkan nama saya Muhadzdzier M. Salda, Murid Sekolah Menulis Do Karim Banda Aceh dan rakyat jelata yang bermukim di kampung Aceh. Mari, sekali ini aku ingin menulis surat untukmu Tuan dan Puan para wakil rakyat yang terhormat. Hanya untukmu. Surat cinta, Tuan! Mungkin ini suratku sekali dalam seumur hidup. Seperti aku menulis surat kepada seorang kekasih pujaan hati belahan jiwa. Maka seperti itulah kecintaanku kepada Tuan-Puan Wakil Rakyat yang terhormat. Ah, kata-kata yang terakhir itu sepertinya tidak seharusnya kusebutkan lagi. Benarkah engkau masih terhormat? Mengingat bulan depan engkau akan melakukan kunjungan kerja ke Luar Negeri. Begitulah kira – kira kabar berita yang ku baca di koran harian. Tak pantas sepertinya menyebut kunjungan kerja, lebih baik kusebut saja jalan-jalan menghabiskan anggaran yang notabenenya berasal dari uang rakyat. Baca lebih lanjut

9 Komentar

Filed under Muhadzdzier M. Salda, Sindikasi

Tentang Definisi Politik Mahasiswa Yang Kita Perdebatkan

Ditulis oleh: Rizki Alfi Syahril

Pemilihan raya (Pemira) untuk memilih Presiden Mahasiswa Universitas Syiah Kuala untuk masa bakti satu tahun ke depan akan dilaksanakan pada hari Senin (11/5) ini. Masa kampanye dan debat kandidat telah terlalui. Dan rupanya, proses politik yang biasanya kita dengar di dunia nyata, juga terjadi kampus. Misal adanya pengrusakan atau penghilangan beberapa atribut kampanye dari beberapa calon, adanya black campaign¸dsb.

Baca lebih lanjut

2 Komentar

Filed under Rizki Alfi Syahril

Dari Pesisir Pantai Lhoknga dan Lampuuk ke Pantai Gaza Palestina

Ditulis oleh: Rizki Alfi Syahril

Enam puluhan mahasiswa yang bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Lhoknga, beberapa anggota gerakan mahasiswa di Unsyiah, dan beberapa elemen sipil di Banda Aceh, berinisiasi untuk membuat aksi solidaritas Palestina. Mereka bergabung dalam satu front, yang disebut FKP (Front Kemerdekaan Palestina) yang dikoordinir oleh Oryza. Berbeda dengan aksi yang lazim dilakukan oleh masyarakat sebelumnya, misal membuat konser amal, mengadakan pengumpulan dana di titik-titik tertentu di pemberhentian lampu merah, ataupun konvoi massa yang dibuat oleh partai atau organisasi islam lainnya, maka front ini memilih dengan cara lain. Yaitu membangun pemahaman bersama masyarakat di beberapa desa di Aceh, untuk menunjukkan dan memberikan sumbangsihnya untuk membantu korban kekejian Israel di Pantai Gaza. Pada tahap awal, bekerja sama dengan para mahasiswa Lhoknga, FKP menyisir pantai Lhoknga dan Lampuuk pada hari minggu, 17 Januari 2009. Bekerja sama dengan masyarakat setempat, para anggota FKP membantu pengutipan tiket masuk di beberapa loket di Pantai Lhoknga dan Lampuuk, yaitu di pintu masuk Lapangan Golf, Lampuuk, Babah Dua, dan Eumpee Nulu. Baca lebih lanjut

1 Komentar

Filed under Rizki Alfi Syahril

Tsunami Museum : Penghancuran Ingatan Kolektif, Bencana, dan Sejarah

Ditulis oleh: Rizki Alfi Syahril

Masyarakat yang terluka mengenang luka mereka dengan empat cara: dalam doa, dengan monumen, dengan kesaksian, dan sesekali dengan museum – meski yang terakhir ini terkadang harus dibayar sangat mahal.

Rencana yang Belum Rampung

Tanggal 25 Oktober 2008 adalah batas waktu penyelesaian sebuah megaproyek yang dibangun di Aceh. NAD Tsunami Museum atau Museum Tsunami NAD adalah nama megaproyek itu. Beberapa pekerja masih sedang berusaha merelief dinding gedung itu sambil bergantungan pada seutas tali.

Beberapa truk pengangkat pasir masih terus lalu lalang di areal gedung itu. Tenggat waktu penyelesaian megaproyek yang dimulai pembangunannya 17 Januari 2008 dan harus selesai 25 Oktober 2008 (sesuai dengan yang tertulis di papan nama proyek) akan terlewati. Pemborong megaproyek ini, PT Waskita Karya (Persero), belum mampu menyelesaikan pekerjaan itu tepat waktu, seperti halnya keterlambatan pembangunan 700 unit rumah bantuan Turki di Lampuuk yang pernah ditangani oleh PT Waskita Karya pascatsunami. Baca lebih lanjut

8 Komentar

Filed under Rizki Alfi Syahril