Tag Archives: Indonesia

Tidak Menjadi Indonesia

Ditulis oleh: Raisa Kamila

Setiap kali menjelang 17 Agustus, saya mendapati iklan peringatan kemerdekaan yang selalu sama. Anak-anak bermain layang-layang di pematang sawah, gadis-gadis dengan kemben dan sarung mencuci pakaian di sungai, serta petani dan nelayan dengan senyum semringah bekerja secara ikhlas. Lalu semuanya ditutup dengan kalimat mengenai semangat nasionalisme pada hari kemerdekaan. Saya tidak percaya semua anak di Indonesia riang gembira seperti yang saya lihat pada iklan itu. Ada banyak anak yang tidak bisa sekolah, terpaksa bekerja, menjadi korban pelecehan seksual, dan ada yang menjadi korban perdagangan anak. Kalau saja saya boleh memilih, barangkali saya akan menolak dilahirkan dan menjadi warga negara Indonesia. Tapi memang saya tidak bisa memilih untuk bisa dilahirkan di mana dan oleh siapa. Saya lahir dan besar di Banda Aceh. Saya cukup beruntung tinggal di ibu kota provinsi, yang pada masa konflik “hanya” mendengar suara ledakan bom dan kontak senjata dari belakang jendela kamar. Pada masa itu, di beberapa daerah banyak anak yang mengalami nasib lebih buruk daripada sekadar mendengar suara ledakan atau senapan. Baca lebih lanjut

Iklan

3 Komentar

Filed under Raisa Kamila

Yang Tidak Ikhlas Membantu

Tuan dan puan sekalian pembaca yang baik. Mencela memang bukanlah hal yang menarik. Tapi kali ini beda, Tuan. Sangat terlihat beda. Sebenarnya niat saya menulis ini bukan untuk mencela. Tapi yang saya ingin sampaikan hanya sikap tidak enak saya terhadap sebuah lembaga politik di Indonesia. Partai Politik itu (sebut saja Partai Kuno Sekali) pernah membuat saya simpatik. Mengusung isu-isu tentang Islam dan mencoba menguaasai pemerintahan dengan ideologi Islam. Waduh, sangat luar biasa. Tahun 2004 silam partai itu bergerak seperti pesawat tempur. Melesat cepat hingga ke pelosok tanah air nama mereka telah dikenal dekat.
Tak hanya itu, katanya, mereka juga suka membantu sesama. Jadinya mereka mampu menarik perhatian dengan hal serupa. Taktik rukrut massa mereka pun tak kalah menarik. Hanya terhitung bulan, Partai itu telah memiliki ratusan ribu kader. Iya, mereka yang terdaya oleh isu ke-Islam-an dan meraka yang mau sebuah perubaha. Banyak mahasiswa yang menyukai partai itu. Apalagi di kampung saya. Kampung yang telah hilang sedikit ruh Islam. Jadi, banyak yang mengira dengan hadirnya mereka, kampung saya semakin menemukan kembali merwah Islam yang terkikis. Hebat toh? Namun, akhir-akhir ini, parti yang pernah saya kagumi itu telah ling-lung.
Kata kawan saya “udah ngak jelas lagi”. Pernah sekali saya ikut training motivasi yang dibuat oleh kawan-kawan mahaiswa di kampus saya. Kebetulan mereka dekat dengan orang-orang di partai itu. Maka yang menjadi fasilitator di training itu adalah dari partai tersebut. Bapak yang baik hati itu kemudian menjelaskan banyak hal tentang motivasi kita selaku orang Islam. Harus saling menolong sesama. Baik dalam hal apapun. “Atas dasar satu agama, Islam, kita harus saling membantu”. Kata bapak itu. “Bantulah orang meski dengan hal-hal sekecil apapun. Memberi dengan tangan kanan. Sembunyikan tangan kiri Anda. Jangan sampai tangan kiri Anda tahu jumlah bantuan Anda”. Lanjutnya sambil tersenyum. Beliau juga memberikan arahan kepada kami tentang betapa pentingnya sebuah keikhlasan hati untuk tidak mengharapkan apapun atas semua yang kita berikan. Kami para pendengarpun merasa senang dan termotivasi untuk saling membantu.
“Trus apanya yang berubah?”
Ups… maaf, jadi lupa!
Pagi itu. Saat orang-orang sedang sibuk bekerja dengan pekerjaannya sendiri. Tidak dengan saya. Saya sedang tidak bekerja. Saya duduk di sebuah warung kopi dekat kampus saya kuliah. Nah, kenapa saya duduk di warung kopi, mungkin Anda semua sudah tau. hehehe… Bagi saya warung kopi adalah rumah saji paling baik di dunia ini. Bagaimana tidak, di tempat itu saya bisa membaca koran gratis, nonton TV gratis, dan mendengar orang-orang berbicara tentang banyak hal. Bagiku itu lebih dari sebuah ruang perkuliahan. Nah, ketika hendak saya mencicipi segelas kopi pagi. Saya terkejut melihat ke arah terlevisi. Sejenak saya terdiam. Lalu, tertawa kecil di hati. Ngak boleh besar-besar, takut dikira orang gila. Tau apa yang saya lihat? penasarankan? Yang jelas bukan adegan pornografi ataupun tingkah lagu Olga Saputra. Yang saya lihat hanya sebuah iklan.
Iklan yang mencoba menarik perhatian orang-orang Islam untuk tergugah memilih partai itu saat pemilu 2009 nanti. Iklan itu terlihat tidak enak. Lucu sekali. Makanya saya agak sedikit tertawa. Dalam diam itu, saya diingatkan tentang training yang pernah saya ikut ketika di kampus dulu. Betapa hebatnya bapak pemateri mengatakan kalau kita memberikan sesuatu kepada orang lain. Maka berilah dengan hati yang tulus dan ikhlas. Jangan mengharap balasa. Jangan mengharap apapun. Karena kalau sifat tidak baik itu kita perlihatkan, maka kita akan terkesan ria. Berarti, dosa! Nah, di iklan tersebut, saya melihat mereka tidak seperti yang dibicarakan orang banyak. Begini bentuk iklannya: salah satu dari mereka dengan bangganya mengatakan “Ingat tsunami, Ingat kami.” Artinya mereka mau mengatakan; Kami lho yang membantu Aceh waktu tsunami. Jadi sekarang bantu kami untuk memenangkan pemilu.
Tak hanya masalah Aceh. Mereka juga mengusung isu Palestina yang sedang dilanda perang.  Kampanye besar-besaran di Bundaran HI. Lalu iklan “Palestina Kita Sayangi”. Setelah sekian bulan meredam dari kontoversi iklan pertama, kini iklan partai ini menuai kritikan yang tidak kalah buruknya. Kasian, orang susah kok jadi kambing belang! ups… kambing hitam maksud saya. Baik apanya? itu kemudian terlintas dalam hati saya.
Hemat saya, tak ada partai politik yang bersih dalam hal apapun. Semua orang memilki kepentingan.  Meskipun mengusung ideologi Islam. Namun, selagi kepentingan itu tidak menyangkutpautkan dengan ajaran Islam. Saya rasa boleh-boleh saja. Untuk apa mempermainkan agama Tuhan. Kalau memang ingin mendapatkan simpati dari masyarakat, ngak harus gitu caranya. Ada yang lebih menarik. Menurut saya, iklan itu tidak baik untuk ditonton. Karena ada unsur ria di situ. Tuhan jelas tidak suka dengan orang-orang yang ria. Mereka memang membantu banyak. Banyak sekali. Namun, dengan hadirnya iklan itu. Mereka telah salah. Berarti selama ini mereka memberikan bantuan dengan tangan kiri. Lalu menyembunyikan tangan kanan agar terkesan ikhlas. Mungkin karena itu mereka jadi ria. Kalau gitu cara menyumbang, bukan hanya tangan kiri yang tahu. Ujung kuku kaki juga akan tahu lho…. Aduh, memang politik itu jahat. Bantuan kok jadi kampanya politik!!!  Tak mau repot? tanya Gus Dur!

Ditulis oleh: Akmal Mohd. Roem

Tuan dan puan sekalian pembaca yang baik. Mencela memang bukanlah hal yang menarik. Tapi kali ini beda, Tuan. Sangat terlihat beda. Sebenarnya niat saya menulis ini bukan untuk mencela. Tapi yang saya ingin sampaikan hanya sikap tidak enak saya terhadap sebuah lembaga politik di Indonesia. Partai Politik itu (sebut saja Partai Kuno Sekali) pernah membuat saya simpatik. Mengusung isu-isu tentang Islam dan mencoba menguaasai pemerintahan dengan ideologi Islam. Waduh, sangat luar biasa. Tahun 2004 silam partai itu bergerak seperti pesawat tempur. Melesat cepat hingga ke pelosok tanah air nama mereka telah dikenal dekat. Baca lebih lanjut

3 Komentar

Filed under Akmal Mohd. Roem

Apa Natal itu, ‘kaphe’ ?

Ditulis oleh: Nindy Silvie

Dahulu ketika masih di kampung biasanya pada tanggal 25 Desember aku hanya duduk di depan layar kaca dan menonton film- film natal yang terlihat seperti fantasi, mengagumkan.  Dan tahun ini siapa sangka aku merayakan natal seperti yang selama ini kulihat di TV; dekorasi pohon natal, memeriksa isi kaus kaki yang digantung di perapian sambil berharap apa yang telah ditinggalkan Santa, tukar menukar kado, kebersamaan  dan merasakan euforianya.  Baca lebih lanjut

48 Komentar

Filed under Nindy Silvie

Syair Sang Fakir

Ditulis oleh: Nindy Silvie

Syair Sang Fakir

Pak,

Indonesia dirundung malang

Siang malam tiada kunjung jelang

Tiada perubahan disanjung- sanjung

Oleh bibir manismu yang usang

Pak,

Tak kuasa menahan tangis

Ibu dan anak yang meringis

Pak,

Tak peduli kau dengan bangsa

Apa jadi nasib buruh yang kau paksa

Hingga luntur jejak- jejak pancasila

Tersisa tembok- tembok bencana belaka

8 September 2007, Banda Aceh

5 Komentar

Filed under Nindy Silvie